
Lora terdiam memandangi Ayahnya yang kini tersenyum ke arahnya. Wajah itu, senyum itu, tatapan ramah itu membuatnya terpaku teringat masa saat dia kecil dulu.
Bagaikan sebuah kaset lama yang diputar kembali, potongan kenangan kini bermunculan di kepala Lora. Dia dengan jelas mengingat bagaimana Ayahnya tersenyum bahagia dan memanggilnya, Nora! Berlari memeluknya, membawakan boneka beruang berwarna pink kesukaannya, menyuapkan makanan untuknya, bahkan bukan sekali dua kali juga dia membacakan dongeng sebelum Lora dan Nora tidur.
Ayah.......
Lora mengepalkan kedua tangannya hingga gemetar karena tidak bisa mengeluarkan satu kata saja dari mulutnya untuk memanggil Ayahnya. Lora tersenyum, dia tahu kalau dia benar-benar harus tersenyum, dia harus bersandiwara dengan baik sebaik mungkin sampai semua tujuannya bersama dengan Nora tercapai. Sebentar lagi, hanya perlu yakin saat ini agar tak membuat dirinya goyah.
" Siapa namamu? Kenapa paman merasa tidak asing dengan wajahmu? Apa kita pernah bertemu? " Tanya Ayahnya Lora dengan tatapan mata yang terlihat mencari-cari tau kapan dia bertemu dengan Lora. Tidak tahu sesering apa, yang jelas wajah Lora sangat familiar baginya.
Lora tersenyum untuk menyembunyikan perasaan campur aduk yang ia rasakan. Rindu, ingin memeluk sepuas mungkin dan bermanja-manja seperti dulu, tali sekarang tidak bisa ia lakukan, bahkan memperkenalkan sebagai anak juga tidak bisa ia lakukan.
Ita, dia juga tahu benar siapa pria yang berdiri di hadapannya dan Lora sekarang ini. Entah dia memang tidak paham bagaimana perasaan Lora, tapi sungguh dia ingin Lora tetap kuat seperti biasanya, setidaknya Ayahnya baik-baik saja adalah hal yang paling membahagiakan juga.
" Halo Paman? Namaku Lora, aku adalah sahabat Nora. Maaf jika kedatangan kami berdua mengganggu, tapi kami ada janji dengan Nora, dan dia sudah mempersilakan kami datang karena dia bilang dia tidak bisa datang menemui kami. " Ucap Lora yang untung saja bisa sangat lancar beralasan.
" Lora? " Ayahnya mengeryit, tapi dia juga tersenyum karena merasa bahagia entah mengapa. Mungkin itu karena namanya hampir mirip dengan nama putrinya, batin Ayah.
" Selian nama, wajahmu juga agak mirip Nora ya? " Ayah tersenyum karena merasa kebetulan itu benar-benar membahagiakan.
" Ngomong-ngomong siapa nama panjang mu? "
Lora terdiam sebentar, sedari tadi boleh saja dia hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Ayahnya, tapi pertanyaan ini apakah akan memiliki efek buruk saat dia mengatakan yang sebenarnya?
" Nak, siapa nama panjang mu? " Tanya lagi Ayah karena masih penasaran saja.
Lora tersenyum.
" Lora Queenera, paman. "
Ayah terdiam karena merasa kebetulan itu seperti sangat jelas hingga sulit untuk dia percaya.
" Kau sedang berbohong ya? " Tanya Ayah yang tentu saja tidak mungkin memercayai ucapan Lora begitu saja. Nora adalah gadis yang sangat terkenal di kalangan anak muda, juga orang tua karena bakat yang ia miliki, jadi bukan tidak mungkin kalau nantinya akan ada banyak penggemar yang sengaja meniru apapun tentang Nora.
" Aku tidak bohong, paman. "
Ayah terdiam, padahal tadinya dia ingin meledek dengan mengatakan bahwa Lora sedang berbohong karena begitu mengidolakan putrinya, tali saat Kita menjawab dengan senyum dan tatapan yang jelas menunjukkan betapa dia tidak berbohong, Ayahnya tak lagi ingin mengatakan sesuatu, tapi dia juga jadi tidak tahu harus bicara apa lagi padahal dia merasa betah berbincang dengan Lora.
Ibu yang tak suka melihat apa yang terjadi sedari tadi hanya bis diam di ujung ruangan dengan tatapan benci. Iya, dia benci melihat kebahagian Nora dan Lora yang bisa saja akan menghancurkan banyak sekali hal yang sudah dia susun rapih, bahkan bisa juga karir Nora berantakan tak jelas.
Tak mau tetap berada di sana dan lihat oleh Ibu tirinya, Nora segera mengajak Nora dan Ita segera mengikuti langkah kakinya menuju kamar miliknya sendiri. Sebelum itu dia sengaja memutuskan sambungan kamera pengawas agar tak ada yang tahu apa saja yang dibicarakan olehnya nanti.
Setah semuanya benar-benar aman, Nora kembali memeluk erat Lora.
'' Hentikan, Nora! Aku bisa mati kalau sekencang ini kau memelukku. " Ujar Lora sembari mendorong tubuh Nora yang masih saja ingin menerobos masuk untuk memeluknya.
" Aku benar-benar merindukanmu, Lora. "
" Aku tahu, ngomong-ngomong kau tidak menemui Dokter mu ya? Kau lupa jika kau harus diperiksa sedetail mungkin agar Dokter tidak salah dalam memberikan tindakan nantinya. "
Ira menghela nafas sebalnya, lalu perlahan dia menceritakan apa yang terjadi dengannya selama dia pulang dari Bali.
" Di menyita ponselku, meretasnya juga. Untung saja aku menyadari hal itu karena kak Indah memintaku untuk waspada dengan banyak hal, dan syukurlah karena dia aku jadi selamat untuk beberapa hari kedepan. "
" Aku rasa, Ibu tiri mu sudah lupa denganku. " Ucap Ita yang menyadari benar tidak ada perubahan ekspresi wajah menjadi terkejut saat melihat rumahnya, iya, dia pasti sudah lupa dengan Ita yang dulu, apalagi dengan perbedaan penampilan sekarang ini, tentu tidak akan ada yang mengenalinya meskipun dulu pernah memiliki perselisihan dengannya.
" Maksudnya? " Tanya Nora bingung.
" Aku akan menceritakan padamu, Nora. " Lora menceritakan apa saja yang dia tahu tentang Ibu tiri Nora, dan dari situlah Nora semakin lancar mencurigai Ibu yang sudah membantu merawatnya selama sepuluh tahun.
Nora, gadis itu hanya bisa terdiam dengan tatapan yang memperlihatkan dengan jelas bahwa dia sangat terkejut. Sungguh dia tidak tahu bagaimana bisa dia masuk ke dalam kehidupan dirinya, dan bagaimana bisa Ibu tirinya juga tahu benar dengan orang tuanya.
" Aku minta Hanzel untuk bantu mencari tahu tentang Ibu tiri mu, jadi mari kita tunggu untuk sebentar ini. " Ucapan Lora barusan setidaknya mampu membuat Nora sedikit lebih baik, jadi sekarang dia hanya mengerahkan orang kepercayaan yang sudah ia sewa berharap informasi mengenai ibu tirinya itu cepat terselesaikan.
" Oh iya, Nora. Dokter kenalan Hanzel sudah memberi kabar, kau bisa datang padanya secepat yang kau bisa karena lebih cepat akan lebih baik juga. "
Nora membuang nafas kasarnya. Sebenarnya sekarang ini yang membuat Nora semangat adalah ocehan dari keluarganya, yaitu Lora dan Ayahnya. Kalau masalah kesembuhan, entah mengapa dia seperti tidak memiliki niat untuk sembuh. Mungkin karena kehidupan yang hanya terlihat bahagia itu palsu, jadi membuatnya lelah untuk terus bahagia sampai kebahagian yang sesungguhnya dia rasa tidak akan ada di dunia ini yang di sisakan Tuhan untuknya.
" Lora, jangan pikirkan lagi masalah penyakit ku, Segera saja temukan Dokter terbaik untuk Ayah agar kita bisa mengatakan kesungguhannya tanpa adanya guncangan di kepalanya yang akan menyakitinya. "
Bersambung.