
Setelah hari itu berlalu, Lora dan Hanzel memutuskan untuk segera pergi berlibur dengan tujuan melupakan sejenak masalah mereka yang sudah semakin rumit. Sudah menentukan hari, juga sudah menentukan jam keberangkatan. Sekarang Saatnya mereka untuk membeli perlengkapan berlibur, tentu saja mereka juga pergi bersama. Maklum saja, setelah hari itu Hanzel sama sekali tidak pernah lupa untuk menanyakan kabar, sesibuk apapun. Nanti kalau sudah tidak sibuk dia akan kembali pulang demi memastikan istrinya masih ada dirumah. Agak berlebihan memang, tapi kejadian yang bukan sekali tentu saja dirasa berbeda dan ketakutan juga lebih besar dibanding orang yang sudah mengalaminya.
" Sayang, aku mau beli lingerie itu! Apa boleh? " Tunjuk Lora kepada sehelai pakaian tembus pandang yang dipajang di sebuah manekin. Warna bahannya merah terang, dan modelnya sama seperti kebanyakan lingerie pada umumnya.
" Boleh. " Iya siapa yang tidak mau melihat istrinya memakai pakaian perang untuk bergelut di atas tempat tidur? Padahal tidak pakai baju seperti itu saja dia sudah sangat tergoda oleh Lora, apalagi kalau Lora memakai itu, jangan salahkan miliknya yang tidak mau tidur nantinya.
" Aku mau beli yang warna merah satu, warna hitam satu ya? "
Hanzel mengangguk cepat, mau semua warna sebenarnya juga bukan masalah untuknya, tinggal beli saja jika memang mau karena apa yang di beli Lora pada akhirnya hanyalah menguntungkan dirinya.
Setelah membeli dua lingerie, Hanzel mengikuti langkah kaki Lora untuk membeli perlengkapan kecantikannya. Tidak banyak sih, hanya body lotion, parfum, juga sunscrin. Setelah itu barulah mereka pergi untuk makan siang di salah satu tempat makan yang ada di di dalam gedung perbelanjaan itu. Ketika sedang asik makan, tiba-tiba Lora merasa ingin sekali buang air kecil, jadi mau tidak mau dia meninggalkan Hanzel di sana sementara untuk ke toilet.
Setelah selesai dengan urusannya, Lora sebentar mencuci tangannya, lalu merapihkan penampilannya sebelum kembali dengan Hanzel.
" Wah, ada orang yang sudah di usir dari kehidupan Hanzel, tapi tetap saja dengan tidak tahu malunya masih saja bertahan dengan Hanzel. "
Lora berbalik melihat sosok wanita yang sebenarnya juga sudah dia tahu siapa itu dari pantulan kaca. Tak bicara, Lora memilih untuk menatap saja mata wanita yang menatapnya dengan tatapan mengejek, meskipun dia merasa jika ucapan itu benar, tapi dia juga tidak akan terpengaruh hanya karena ucapan seorang wanita yang selalu menginginkan perpisahan antara Hanzel dan Lora.
" Kenapa? Merasa ya kalau ucapan ku itu benar? "
Lora terdiam sebentar, dia tersenyum seolah tak terpengaruh dengan ucapan wanita yang tak lain adalah Risha sang mantan kekasih dari suaminya. Dia dengan berani menatap Risha, memajukan langkahnya untuk semakin dekat dengan wanita yang selama ini memberikan label bocah padanya.
" Bibi Risha, dari pada begitu perhatian mengurusi masalah ku, bagaimana kalau aku bantu untuk ikut acara kencan buta? Mungkin dengan begitu Bibi Risha akan hidup dengan bahagia dan tidak terus ikut campur dalam urusan rumah tanggaku bersama dengan Hanzel kesayanganku. " Lora tersenyum setelah mengatakan itu, meskipun jujur saja di dalam hatinya merasa kesal juga tersinggung setiap kali Risha membuka mulut hanyalah untuk mencoba untuk memisahkannya dengan Hanzel, sama seperti Resa, dan juga Tuan Haris.
" Oh, jangan begitu menghina dengan maksud memberikan jodoh untukku. Asal kau tahu, orang tua Hanzel sendiri yang memberitahu ku, mereka memintaku untuk membuat mu sadar, dan melepaskan Hanzel karena wanita yang pantas untuk Hanzel ya tentu saja hanya aku seorang. " Risha mengibaskan rambut dengan percaya diri, memang seperti itulah sifatnya. Uang yang dimiliki orang tuanya membuat dia tumbuh dengan kemanjaan melimpah, uang yang menumpuk, pada akhirnya membuat Risha tumbuh dengan kepercayaan diri untuk menghina orang lain sebab dia merasa paling sempurna tiada tandingan.
" Kalau begitu berusaha saja sebisa Bibi Risha, tapi aku hanya ingin mengingatkan saja sih, aku sama sekali tidak akan goyah, dan aku juga tidak yakin kalau Hanzel akan setuju memilihmu. "
" Hanzel itu pernah sangat jatuh cinta denganku, mungkin kau tidak percaya, tapi aku benar-benar diperlakukan layaknya ratu oleh Hanzel. Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengatakan kepada semua sahabatnya. "
Lora menghela nafas, lalu kembali tersenyum.
" Sebenarnya bagaimanapun indahnya masa lalu, pada akhirnya bisa menjadi kenangan paling menyakitkan loh hubungan sudah tidak sama lagi. Aku yakin kok seindah apapun kenangan Bibi Risha dengan Hanzel, yang ada di benak Hanzel pasti hanyalah sebuah kenangan semata yang tidak perlu untuk di ingat. Lagi pula, hubungan Bibi Risha kan berakhir karena kesalahan Bibi sendiri. Sekarang aku yakin benar kok kalau kenangan indah itu pasti sama sekali tidak ingin di ingat oleh suamiku. " Lora kembali tersenyum, dan itu sukses membuat Risha menarik nafas karena emosi yang terlalu naik ke ubun-ubunnya.
" Kau sampah! " Maki Risha.
" Dimata Bibi Risha aku memang sampah, tapi syukurnya di mata Hanzel aku adalah bongkahan permata yang paling berharga. "
" Jangan bicara lagi! "
***
Nora terduduk di lantai setelah mendapatkan semua informasi tentang Lora. Tubuhnya yang gemetar kini juga terasa dingin luar biasa. Setelah sekian lama mencari tahu semua tentang Lora, pada akhirnya Nora bisa mengetahui banyak tentang Lora. Kematian Ibunya semenjak dua bulan setelah perceraian, kehidupan Lora yang jauh dari kata layak, di tindas oleh tetangga, teman sekolah, anak kandung dari orang tua angkat, di nodai saat usia enam belas tahun, juga di jual kepada orang kaya yang katanya sudah berumur.
" Bagaimana ini? " Nora mencengkram kertas-kertas yang dikirimkan dari si detektif dengan kuat sehingga bergetar hebat tapi juga tak ia rasakan.
" Bagaimana aku harus menghadapi kenyataan ini, Lora? Jika saja aku boleh memilih, aku sungguh ingin kau hidup bersama orang tua angkat yang kaya raya, lalu memiliki kekasih yang sangat tampan dan baik, bukan seperti ini. " Nora kembali terisak-isak semakin kuat.
" Jika saja, jika saja aku lebih berani saat itu, jika saja aku tidak mendengarkan ucapan wanita itu, jika saja aku memiliki pilihan lain, jika saja aku lebih kuat sedikit saja, kau tidak akan hidup semenderita ini, Lora. Maafkan aku.... " Buliran air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya.
" Aku harus mejelaskan segalanya padamu, Lora. Aku tahu kau pasti salah paham dengan semua yang terjadi ini, tapi aku benar-benar akan menjelaskan padamu, dan semoga saja kau mengerti kenapa aku melakukan ini, Lora. "
Bersambung.