
Hanzel mengeraskan rahang menatap tak suka, tapi juga tak mau terlalu lama melihat Velo yang semakin mendekat padanya. Tentu dia paham benar apa maksud dari pakaian seksi yang sedari tadi di gunakan. Tatapannya yang seperti betina kelaparan jelas sekali bisa Hanzel ketahui apa maksudnya, menggelikan! Jujur mengingat dia pernah menjalin hubungan dengan Velove benar-benar membuatnya jijik sendiri. Bagaimana tidak? Selama menjalin hubungan, mereka yang tentu bukan orang suci bukan hanya sekali dua kali melakukan hubungan badan, dan di periode yang sama Velo juga tidur dengan Ayahnya. Gila, hanya dengan sedikit mengingatnya sudah membuat Hanzel membenci dirinya sendiri.
" Hanzel, kenapa kau diam saja setiap kali bertemu denganku? Kau masih kecewa? Aku tahu kau marah, tapi aku terpaksa saat itu. Kita bicara di tempat lain yuk? Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. "
Tangan Velo sudah akan memeluk lengan Hanzel, tapi dengan segera dia menepis tangan itu dan memundurkan tubuhnya. Sebentar Hanzel membuang nafas kasarnya, lalu menatap Velo dengan tajam meski dia sama sekali enggan untuk melakukanya.
" Jadi ini kah dirimu yang sesungguhnya? Kau ternyata orang yang sangat tidak tahu malu ya? "
Velo menatap sendu karena dia mengira Hanzel akan merasa kasihan padanya, tapi nyatanya pria yang sudah amat muak dikecewakan oleh wanita bukan sekali dua kali itu memilih untuk menganggap tatapan sendu itu adalah topeng untuk menutupi betapa mengerikannya wajah Iblis di balik wajah sendu yang sedang digunakan oleh Velo.
" Aku tahu hubungan kita sudah berakhir beberapa tahun lalu, tapi aku masih belum bisa melupakan mu, Hanzel. "
Hanzel tersenyum miring dengan tatapan mengejek. Benar-benar membuat muak, cara bicaranya sama persis seperti Risha. Padahal dari awal berhubungan selalu Hanzel memprioritaskan kekasihnya, memaafkan kesalahan fatal bukan sekali dua kali karena Hanzel adalah tipe pria yang sangat menghargai wanita dan pemaaf. Tapi nyatanya sikap baik yang ia miliki terus saja disalah gunakan, maka jangan salahkan Hanzel jika berbuat kasar ketika dia sudah muak.
" Aku muak, pergilah atau aku akan mendorongmu dengan tenaga yang lumayan besar. " Hanzel menatap dengan sungguh-sungguh, tatapannya yang tegas seolah menjelaskan bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya barusan.
" Hanzel, tolong jangan mengacuhkan ku terus ya? Aku- "
Hanzel membuang nafas kesalnya, sudah diperingati, maka Hanzel benar-benar tak bercanda. Dia meraih lengan atas Velo, menggesernya agak kuat agak minggir dari jalannya.
Bruk!
" Ah! " Pekik Velo begitu tubuhnya terhempas ke lantai dengan posisi duduk. Dia pikir dia akan di bantu untuk berdiri jadi dia bisa mencuri kesempatan untuk mencium bibir Hanzel agar bisa melakukan hal yang ia rindukan bersama dengan pria itu. Tapi sayang, Hanzel justru mengacuhkannya dan melenggang begitu saja tanpa menoleh sedetikpun untuk melihat bagaimana Velo meringis kesakitan disana.
" Sayang, kok Ibu tiri jatuh? Kenapa? " Tanya Lora, sebenarnya dia melihat apa yang terjadi sedari tadi tangga. Tali karena tidak enak kalau untuk mengganggu, maka Lora menunggu saja disana minat wajah suaminya yang terus terlihat menahan kesal.
" Tubuhnya gatal-gatal, jadi sibuk menggaruk dan hilang keseimbangan. " Ucap Hanzel yang kini sudah sampai kepada Kra dan merangkulnya untuk di bawa masuk ke kamarnya.
" Tunggu sayang! " Lora berbalik untuk membantu Velo bangkit, tapi niat baik itu tak mendapat respon baik, yang ada malah tangan Lora ditepis.
" Jangan sok baik, aku tahu kau pasti sedang menertawakan ku kan? " Velo bangkit seorang diri, dia meringis menahan sakit karena pantatnya tadi menabrak lantai cukup kuat.
" Aku sih tidak niat sok baik, aku juga sedang tidak tertawa kok. Memang Ibu tiri lihat aku sedang tertawa ya? " Lora malah bingung sendiri dengan Ibu tiri Hanzel yang super aneh itu.
" Tutup mulutmu, atau aku akan menjahit mulutmu supaya kau tidak bisa lagi bicara! "
Lora langsung terdiam, bukan takut sih, tapi dia diam karena bingung sendiri. Selain dia tidak dengar apa yang di bicarakan dengan Hanzel tadi, dia sungguh tulus ingin membatu saja.
" Ya sudah deh, Ibu tiri. Aku dan Hanzel masuk ke kamar dulu ya? "
" Dasar centil! "
Hanzel tidak tahan lagi, dia berjalan menghampiri Lora merangkulnya lalu menuntun untuk naik ke tangga dan masuk ke kamarnya.
Lora tersenyum, kalau melihat wajah Hanzel sekarang, rasanya jelas sekali Hanzel sama sekali tidak ingin berurusan dengan Velo.
" Sayang, kenapa sih dulu bisa berpacaran dengan Ibu Velo? Padahal dia itu aneh loh, dia bicara saja aku tidak mengerti. "
Hanzel mengernyit menatap Lora yang menatapnya seolah dia tahu banyak tentang masa lalu Hanzel.
" Dari mana kau tahu kalau wanita itu pernah berpacaran dengan ku? "
" Kak Ita yang cerita. "
Ah Ita, kau ini sedang menjatuhkan harga diri ku atau bagaimana sih?
Hanzel meletakkan botol air mineral yang tadi ia ambil dari dapur, lalu menatap Lora sembari mendekati gadis cantik itu.
" Apa kau merasa jijik? "
Lora menatap Hanzel dengan tatapan bingung.
" Jijik kenapa? Jijik dengan siapa? "
" Denganku. "
Lora menggeleng dengan cepat, dia juga menatap Hanzel dengan tatapan tegas untuk menjelaskan bahwa apa yang dituduhkan Hanzel sama sekali tidak benar.
" Kenapa aku harus jijik dengan suamiku sendiri? " Lora bertanya dengan mimik yang menuntut agar dia mendapatkan jawabannya. Hanzel tersenyum, tak bisa di tepis kalau dia memang merasa bahagia memiliki istri polos seperti Lora. Mungkin jika ada yang tahu bahwa Lora tidak suci lagi saat menikah dengan Hanzel, yakin dia tidak akan percaya dengan ungkapan itu. Tapi bagi Hanzel sendiri tidak terlalu masalah meski sempat keheranan dengan Lora yang baru saja delapan belas tahun sudah tidak suci lagi.
" Jadi, betinaku unjuk kalau kau benar-benar tidak jijik. "
Lora mengigit bibir bawahnya, dia menatap Hanzel yang terus menatapnya dengan senyum penuh maksud. Iya tahu, sangat tahu malah Hanzel menginginkan apa.
" Jadi, ingin aku seperti apa? Imut atau nakal? "
Hanzel terkekeh sebentar.
" Kalau di atas tempat tidur tentu saja aku mau yang nakal. " Ujar Hanzel.
Lora tersenyum, lalu dia mendekatkan dirinya kepada Hanzel, menjijitkan kaki demi meraih bibir seksi suaminya, kedua lengannya kini sudah mulai memeluk tengkuk Hanzel untuk memperkokoh kakinya. Lora yang sudah pandai berciuman berkat video panas yang sering dikirimkan Ita, juga berkat Hanzel sendiri sudah sangat lihai membawa ciuman itu untuk semakin panas. Hanzel juga mulai terbawa suasana dengan cepat, dia memeluk pinggang Lora sedikit erat karena tidak ingin ciuman itu cepat berakhir. Nakal, maka dari itu Lora benar-benar memerankan dirinya dengan sebutan itu. Lora menggerakkan satu tangannya menyusup mengelus dada Hanzel, lalu perlahan turun kebawah, menyusupkan lagi tangannya untuk meraih sesuatu yang sudah mulai tegang di bawah sana.
Bersambung.