Little Wife

Little Wife
BAB 78



Seperti yang sudah direncanakan, Nora, adiknya, Ayah, serta Ibu tirinya kini sedang berolah raga bersama, berjalan memutari kompleks seperti kebanyakan orang lain pada umumnya. Nora sebenarnya sangat gugup, tapi sebisa mungkin dia tidak menunjukkannya karena Ibu tiri seperti terus sengaja melihat ke arahnya, mungkin di sedang mengawasi kira-kira rencana apa yang sedang dimiliki Nora.


Sebentar Nora tercekat minat sebuah mobil hitam dengan plat yang sama, itu adalah mobil yang sudah disiapkan Hanzel untuknya, dan sekarang Nora harus segera mengalihkan perhatian Ibu tirinya, lalu kabur dengan sangat cepat menuju mobil itu. Sebentar Nora memikirkan bagiamana caranya, lalu begitu mendapati sebuah ide, dengan segera Ira melancarkan nya. Nora berpura-pura terjatuh, dan meringis kesakitan, untunglah sakitnya itu tidak di buat-buat karena lututnya begitu perih setelah sengaja dia benturkan dengan kuat.


" Ah! "


" Nora! " Ayah dengan segera meraih tubuh Nora, membawanya kedalam rangkulannya sebelum membantu Nora untuk berdiri dengan tegap.


" Ayah, lutut ku sakit sekali. " Rengek Nora, dia dengan hebatnya begitu mudah mengeluarkan air mata. Ibu tiri sebenarnya sudah paham jika ini adalah rencana Nora, jadi dia berdiam diri dan melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang Ibu sebelum suaminya memintanya.


" Nora, kita cepat kembali ke rumah ya? Ibu akan membantu memapah mu. "


Nora dengan segera memeluk Ayahnya, dan untunglah Ayahnya mengerti maksud dari tindakan Nora yang tidak ingin di papah oleh istrinya.


" Tidak usah, Nora pasti sangat kesakitan. Kau pulang saja ke rumah, ambil kotak p3k kemari. "


" Apa? " Ibu tiri menatap Ayah dengan tatapan tak percaya, padahal jarak rumah mereka sangat dekat dari tempat mereka berdiri sekarang, kenapa bisa-bisanya memperlakukan Nora dengan begitu manja? Padahal jelas sekali kok hanya sedikit tergores, dan itu juga pasti tidak sesakit yang di tampilkan wajahnya. Iya, Nora juga adalah bintang film, untuk menangis seperti sekarang ini tentu saja sangat mudah meski suasana hatinya sedang senang.


" Aku minta tolong ya? Nora sangat kesakitan, kau tahu kan Nora memang takut darah? Aku minta tolong ya? " Pinta Ayah dengan tatapan yang sungguh memohon. Tak bisa lagi berbuat apa-apa di saat kondisi tak mendukung, Ibu tiri hanya bisa berjalan dengan cepat berharap Nora tak mengatakan apapun, dan tidak melakukan apapun yang akan membuat posisinya tidak aman.


Setelah Ibu tiri cukup jauh dari posisi mereka, Dan sudah tidak sebentar-sebentar menoleh kebelakang, segera Nora mengajak Ayahnya mendekat ke mobil hitam yang sudah terparkir di pinggiran jalan.


" Ayah, kita duduk di sana yuk? Kita menyender di mobil itu saja, aku sangat tidak tahan kalau berdiri begini. "


" Kak, lukamu hanya seperti itu, lebai sekali. " Ujar adik tirinya Nora.


" Sudahlah, turuti saja apa yang dikatakan kakakmu, kan yang merasakan sakitnya adalah kakakmu. " Ujar sang Ayah.


" Nora, pelan lah sedikit nanti lutut mu akan semakin sakit. " Ujar Ayah yang merasa aneh ketika Nora seperti begitu terburu-buru.


" Ayah, percayalah padaku kali ini. Aku mencintai Ayah, aku menyayangi Ayah, jadi tolong ikuti saja, percayalah padaku, Ayah. " Ayah hanya bisa menatap bingung, sampai ada seorang pria membukakan pintu, lalu Nora masuk dan mengajak pula ayahnya untuk masuk, Ayah menjadi semakin tak mengerti.


" Ayah! " Adik tiri Nora merasa aneh karena Ayahnya seperti ingin dia ajak pergi semetara dia di tinggalkan sendirian.


" Nora, ada apa ini? " Ayah masih berdiri di depan pintu mobil sementara Nora Nora sudah duduk memberikan tangannya agar Ayahnya menyambut tangan itu dan ikut pergi bersamanya.


" Ayah, kalau mau pergi juga harus ajak aku dan Ibu kan? " Protes adik tirinya Nora.


" Ayah, aku tidak meminta apapun selain keselamatan Ayah bukan? Tolong ikutlah denganku, tolong biarkan aku melindungi Ayah dengan kemampuan ku. Juga putrimu yang lain beserta suaminya. "


Ayah terdiam sebentar karena tidak mengerti apa yang di ucapkan Nora barusan.


" Sayang?! " Ibu tiri yang melihat dari kejauhan tentu saja dengan segera berlari untuk mendekat agar bisa mencegah suaminya pergi, dan menggagalkan rencana Nora.


" Ayah, aku mohon, aku tidak akan memiliki kesempatan lagi jika ini gagal. "


" Ayah! " Panggil adik tirinya Nora.


Nora menyeka air matanya, lalu memeluk sang Ayah dengan erat.


" Ayah, aku adalah putrimu jadi aku tidak akan menyakitimu. Ayah harus ikut pergi, karena ada satu orang yang berhak juga untuk cintamu. "


Sebenarnya apa yang Nora katakan masih tak bisa dia pahami jadi dia tidak bisa merasa sedih meksipun putrinya terlihat sangat sedih tadi. Jika ditanya mengapa memilih untuk meraih tangan Nora, maka jawabannya adalah karena hatinya begitu mencintai Nora. Jika saja tidak ada Nora, mungkin hidupnya yang terasa hambar ini akan sangat membuatnya bidan sampai ingin mati.


Sesampainya di rumah sakit, Lora, Ita dan juga Hanzel sudah menunggu disana.


" Halo, paman? " Sapa Lora sebisa mungkin dia tersenyum meski hatinya lagi-lagi ingin menangis untuk semua yang terjadi kepada Ayahnya.


" Lora kan? " Ayah tersenyum bahagia, dia memang belum paham kenapa melihat Lora dia seperti teringat seseorang, bahkan dia juga seperti merasa lega yang tidak tahu apa alasannya.


" Bagaimana kabar paman? " Tanya Lora.


" Baik, baik sekali. "


Lora mengangguk, dan tak lagi bisa bicara karena Nora menubruknya dan menangis saat memeluknya.


" Aku takut, Lora. Aku takut tidak bisa melakukannya. " Lora juga ikut menitihkan air mata, tapi tak mengeluarkan suara tangis dari bibirnya. Lora menepuk pelan punggung Nora, lalu di dekapannya tubuh Nora yang gemetar hebat.


" Aku tahu kau bisa melakukannya. " Ucap Lora menenangkan.


Ayah terdiam melihat Lora dan Nora begitu akrab bak saudari kembar yang saling menguatkan, mungkinkah? Mana dia tahu jawabannya, jadi dia memilih untuk diam saja dalam kebingungan.


Tak lama kemudian, Ayah mengikuti permintaan Nora dan Lora untuk memeriksakan diri, setelah itu barulah mereka pergi makan siang sambil menunggu hasil pemeriksaan yang akan di berikan sore nanti. Tidak perlu takut ibu tiri menemukan mereka, karena orang yang diminta Hanzel untuk mengawasi Ibu tirinya berada di arah berlawanan dengan mereka.


Sore harinya.


" Sebenarnya benturan kuat beberapa tahun silam memang cukup kuat, kalaupun amnesia juga tidak akan lama, seharusnya juga sudah pulih paling lama satu tahun setelah proses penyembuhan. " Ucap Dokter kepada Nora, Lora, Hanzel, juga Ita beserta Ayahnya juga.


Ayah nampak kebingungan, tentu dia tahu dia pernah mengalami amnesia, tapi waktu itu Dokter mengatakan bahwa amnesia yang ia alami sangat berbahaya, bahkan saat dia mencoba sedikit mengingat masa lalu, dia akan sangat kesakitan.


" Tapi, kenapa sampai sekarang masih menyakitkan ketika mencoba mengingat masa lalu? "


Dokter itu menghela nafas.


" Obat keras yang diberikan kepada anda selama bertahun-tahun adalah penyebabnya. Saya menemukan beberapa kandungan kimia berbahaya di dalam tubuh anda. "


Bersambung.