
Risha sebentar terdiam. Iya, apa yang dikatakan Hanzel memang benar, sebagai anak dari pengusaha sukses, ditambah rupanya yang cantik dia hanya merasa kalau memiliki hubungan dengan pria sepadan sajalah dia akan semakin menawan dan akhirnya terbuai ingin mencoba-coba. Tapi, pada akhirnya dia sungguh-sungguh jatuh cinta dengan Hanzel yang memilki pesona liar biasa, ditambah dia juga anak dari orang berada.
" Tapi aku sungguh jatuh cinta denganmu, Hanzel. Aku ingin kita menikah, aku sudah tidak perduli apakah orang tuaku merestui atau tidak."
Hanzel menggeser tubuhnya agar tak terlalu menempel dengan Risha. Aneh, kenapa dia risih? Bukankah sudah terbiasa dirinya dulu begitu menempel dengan Risha, bahkan bukan sekali dua kali melakukan hubungan terlarang?
Deg!
Lora
Nama itu seolah mejadi peringatan sendiri untuk Hanzel, bohong saja kalau dia tidak merindukan Risha, tapi perasaan rindunya seolah tak sebesar ketakutannya kalau saja Lora akan kecewa padanya.
" Hanzel, aku datang jauh-jauh dari Paris hanya demi dirimu. Aku ingin kembali hanya ke padamu seorang, jadi jangan marah lagi ya? Aku janji tidak akan membantah keinginanmu lagi."
Lora, gadis itu rupanya bohong dengan mengatakan ingin pergi ke kamar, karena yang sedang ia lakukan sekarang adalah mencuri dengar dan lihat bersama dengan Ita dari belakang. Memang sih kesal dan kecewa, tali dia juga harus menahan diri dan berdiri saja yang penting bisa dengar dan tidak mati penasaran.
" Maaf, aku tidak bisa lagi menampung mu. " Ucap Hanzel dengan wajah datarnya. Jujur hatinya juga sakit mengatakan itu, tapi sekarang dia sudah memiliki seseorang yang sudah menjadi istrinya. Terlepas dari surat perjanjian yang ia buat, intinya akan lebih baik memilih yang seharusnya dia pilih, dan membuktikan kepada dunia bahwa dia dan Ayahnya tidaklah sama.
" Hanzel, ternyata kau sangat pendendam ya? Sudahlah, jangan teruskan marahnya. " Risha berjalan mendekati Hanzel dan merapatkan duduknya dengan Hanzel.
" Hanzel, aku sangat merindukanmu, dibanding kita bertengkar seperti sekarang, bagaimana kalau kita melakukan hal hal yang lebih penting? " Risha menyentuh paha Hanzel, membelainya pelan dengan tujuan ingin menyentuh bagian sensitif seorang pria pastinya.
Lora, gadis cantik itu semakin tak tahan hingga sudah selangkah maju untuk menghentikan Risha, tapi Ita menariknya mundur dan biarkan dia lihat reaksi Hanzel dulu. Karena kalau Kita muncul sekarang, mereka akan ketahuan kalau sedari tadi mengintip kan?
" Jangan kesana! Nanti kacau! " Bisik Ita pelan sekali.
" Risha, berhentilah seperti ini. Kau tahu aku tidak suka dipaksa kan? " Hanzel meraih tangan Risha sebelum menyentuh bagian sensitif nya, lalu menjauhkan darinya.
" Hanzel, kenapa kau begitu berubah? Biasanya kau akan memaafkan aku apapun kesalahanku, ini kan hanya karena ketidak berdayaan ku saja? Kenapa kau tidak mau memaafkan aku? "
" Oke, baik! Aku memaafkan mu. " Ujar Hanzel yang sudah mulai lelah dengan pertengkaran yang sangat biasa baginya dengan Risha saat bersama. Entah apa sih yang terjadi sehingga Hanzel tiba-tiba teringat dengan Lora. Gadis cantik itu memang sering sembarangan bicara, tapi tidak terasa menyebalkan seperti yang dilakukan Risha sekarang ini.
" Sungguh? " Risha tersenyum dengan semangat, sementara Lora semakin mengigit bibir bawahnya menahan kesal.
" Kalau begitu, kita- "
" Risha, memaafkan mu bukan berarti masih ada kata kita. Aku memang sudah memaafkan mu, tapi maaf aku tidak bisa kembali denganmu. "
Risha menatap Hanzel dengan tatapan pilu. Padahal baru beberapa detik lalu dia merasa amat bahagia, sekarang karya dikecewakan lagi karena salah memahami maksud ucapan Hanzel.
" Hanzel, kau benar-benar ingin hubungan kita berakhir begitu saja? "
" Maaf, tadinya aku tidak ingin memberitahu tentang ini, tapi kau semakin sulit mengontrol diri, jadi aku akan memberitahu padamu bahwa aku sudah menikah, Risha. " Hanzel menatap Risha untuk meyakinkan ucapannya barusan kepada mantan kekasihnya itu.
" Pft! Hahaha.... " Risha terbahak-bahak begitu lepas, bahkan dia juga sampai menyeka air matanya yang keluar dari sudut kedua mata indahnya.
" Kau sampai berbohong sejauh ini demi menolak aku, Hanzel? " Ucap Risha yang malah menjadi semakin menuduh Hanzel yang bukan-bukan.
" Apakah aku pria yang suka berbohong? " Hanzel menatap manik mata Risha yang kini juga menatapnya demi mencari tahu apakah ucapan Hanzel bohong ataukah hanya alasan saja. Tidak, tatapan penuh keyakinan seolah dia begitu jujur malah membuatnya tidak tahan dan sebisa mungkin mencoba untuk mengingkari kenyataan itu.
" Dengan siapa memang apa manfaatnya untukmu? Aku sudah mengatakan sebenarnya, aku bukan lagi pria lajang yang bisa memiliki hubungan di belakang istriku. "
" Hanzel, kalau pun ingin gila, setidaknya kau juga harus tahu batasan! " Kesal Risha yang tidak tahan lagi karena dari raut wajah Hanzel seperti tak main-main.
Lora, dia merasa kesal dan marah karena melihat Hanzel dibentak, dia segera berlari, dan sialnya Ita tidak bisa lagi meraihnya untuk menahannya pergi.
" Jangan membentak Tuan Hanzel ku! " Lora berdiri di samping Hanzel, memeluk lengan Hanzel erat-erat, tatapan marah dia arahkan kepada Risha yang kini terkejut melihat kehadirannya, dan tiba-tiba saja menyebut kata Hanzel ku, lalu memeluk lengan Hanzel dengan percaya diri.
" Kenapa kau kesini? " Tanya Hanzel.
" Maaf, aku salah. " Ujar Lora tak berani menatap mata Hanzel padahal Hanzel sama sekali tidak melotot apalagi terlihat seram.
" Bocah ingusan ini adalah istri yang kau maksud? " Tanya Risha dengan tatapan tak percaya, tapi dia juga mengejek melalui tatapan mata itu.
Hanzel, pria itu sebenarnya paling malas kalau harus berdebat dengan wanita, karena semua yang dia katakan seolah adalah kesalahan, ditambah dia juga tidak bisa melakukan apapun berbeda saat bertengkar dengan laki-laki karena setidaknya dia bisa memukul untuk mengurangi kekesalan.
" Aku bukan bocah ingusan! Lagian biarpun aku bocah, aku juga sudah menjadi istri jadi tidak pantas disebut bocah. " Ujar Lora.
Risha menggeleng heran menatap Lora dan Hanzel bergantian.
" Hanzel, lihatlah wanita yang kau sebut istri ini, aku yakin dia saja mengalami pertama menstruasi baru-baru ini. "
Lora melotot kesal.
" Enak saja! Aku sudah menstruasi saat usiaku enam belas tahun! " Protes Lora.
Risha semakin menggeleng heran.
" Nak, berapa usiamu sekarang? Hem? "
" Delapan belas tahun, Bibi. ''
Bibi? What?! Risha mendelik kaget, tapi dia juga marah. Padahal dia bertanya umur niatnya adalah untuk menghina Lora, tapi malah dipanggil Bibi oleh Lora yang berarti dia sudah tua. Hanzel, pria itu hanya bisa menahan tawanya yang seperti sudah di ujung bibirnya.
" Memang aku tua sampai kau panggil Bibi?! " Protes Risha.
" Itu karena Bibi memanggil Nak, jadi aku pikir pantasnya aku panggil Bibi, begitu.
" Jangan memanggilku Bibi! "
" Terus siapa? Ibu? Nenek apa mungkin? Kakak tidak mungkin juga kan? Soalnya dengan tuan Hanzel sepertinya lebih tua Bibi. "
" Diam! "
Bersambung.