
Roni dan Hanzel kini berada di ruang tamu, mereka terdiam karena tidak tau harus dari mana mulai membicarakan tentang apa yang seharusnya dibicarakan sekarang ini. Lora, dia datang dengan nampan ditangannya, dia meletakkan di meja untuk Hanzel dan Roni minum.
" Silahkan diminum, kak Roni. " Ujar Lora, dan segera di angguki oleh Roni.
" Terimakasih ya Lora? "
" Iya, sama-sama kak. " Setelah itu Lora masuk ke dalam kamar, tapi bukan kamarnya, mainkan kamar Ita. Awalnya memang terkunci rapat, tapi setelah mengirimkan pesan kepada Ita, tak lama Lora bisa masuk karena Ita yang tahu Lora ingin masuk ke kamarnya jadi segera dia membukakan kunci pintunya.
" Kak Ita, kenapa tidak berani menemui kak Roni? " Tanya Lora penasaran. Padahal Ita sama sekali tidak terlihat sedih, malah sekarang sedang mengecat kukunya dengan sangat santai.
" Orang seperti dia tidak pantas untuk ku temui. " Ujar Ita, lalu dia meraih camilan nya, memakan sebentar, lalu meraih tisu dan kembali melanjutkan kegiatan mengecat kukunya.
" Memang kak Roni orang seperti apa? "
Ita menghela nafas, orang seperti apa? Kalau dia menjawab Roni adalah orang yang baik, jadi mana mungkin mereka bercerai? Iya, setiap manusia memang memiliki minus beserta plus, jadi akan sangat arogan juga kalau dia terlaku memuji atau menunjuk Roni bukan orang yang baik.
" Orang biasa saja, sama seperti manusia pada umumnya. "
Lora menghela nafas, dia berjalan disebelah Ita dan menatap Ita lebih dekat lagi meski itu artinya dari sisi samping.
" Kak, aku sangat penasaran kenapa kakak berhenti menjadi model, dan bercerai. Aku boleh tahu tidak? "
Ita terdiam sebentar, memang sangat tida masuk akal kan? Dia meninggalkan dunia model, lalu memilih menjadi seorang pembantu. Tapi percayalah, keputusan ini benar-benar membuat dan membentuk dirinya menjadi sosok baru yang lebih kuat dan lebih bisa memilah mana yang bisa ia jadikan teman, atau tidak. Dia juga sudah sangat paham bagaimana mengatasi sebuah masalah dari yang sepele sampai yang besar.
" Kak, marah ya aku terlaku banyak tanya? "
Ita menghela nafas,aku menatap Lora sembari mencubit pelan pipi Lora.
" Mana mungkin aku marah? Aku hanya sedang berpikir bagaimana akan bercerita kepadamu. "
Ita menghela nafas terlebih dulu.
" Dulu, saat aku sedang menggeluti dunia modeling, aku sangat mencintai pekerjaan itu sampai berpikir tidak ingin menikah. Lalu aku bertemu dengan Roni. Pria yang saat itu berusia dua puluh empat tahun, dia datang dengan kepercayaan diri begitu tinggi. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik, tapi kegigihannya dalam mendekatiku begitu menggebu-gebu dan membuat aku merasa tersanjung karena begitu di puja oleh seorang pria. Usiaku saat itu dua puluh sembilan tahun, aku lebih tua lima tahun dari Roni. Aku begitu senang karena Roni mengatakan usia bukanlah patokan seseorang untuk jatuh cinta, singkat cerita kami menikah. " Ita menjeda ucapannya sebentar untuk menghela nafas karena sebenarnya dia amanat malas untuk menceritakan masa lalunya itu.
" Awalnya dia bilang tidak akan membatasi aktivitasku, aku yang mencintai pekerjaan ku tentu saja terus melanjutkannya, Roni juga menjadi sutradara film beberapa bulan setelah kami menikah. Lalu aku dinyatakan keguguran karena kelelahan, padahal demi Tuhan aku tidak menyadari kalau aku hamil karena aku belum merasakan tanda kehamilan. Roni sangat marah, keluarganya juga ikut menghakimi. Padahal aku juga sedih, aku juga merasa bersalah tanpa mereka menyalahkan ku. Dari kejadian itu aku sangat tertekan, aku bermimpi tentang bayiku hingga aku hampir depresi. Mirisnya, tidak ada yang perduli meski aku tinggal bersama Ibu mertua dan adik-adik iparku. Kau tahu kan Lora? Siksaan paling menyakitkan adalah siksaan batin yang berkepanjangan. Tadinya aku ingin mencoba melupakan semua masalah itu dengan kembali ke dunia model setelah empat bulan rehat, tapi aku sudah kehilangan kesempatan itu. Dengan hati kecewa aku kembali ke rumah suami dan mertuaku, tapi wajah angkuh mereka semakin membuatku tidak tahan. "
Lora meraih tangan Ita dan menggenggamnya erat. Meskipun dia tida mengalami itu, seperti yang Ita katakan tadi, siksaan batin akan jauh menyakitkan dan berefek hingga jangka panjang. Jadi Lora tahu benar bagaimana rasanya.
" Disaat aku sudah kehilangan pekerjaan ku, setiap hari harus menghadapi Ibu mertua dan adik-adiknya yang terus menyindirku. Tidak tahu aku sedang makan, aku sedang tidur, mereka selalu berbicara dengan keras, kalimat mereka juga terus saja menyindirku. Aduh, bagiamana mau hamil kalau kerjanya hanya melamun! Sudah bunuh calon anak, sekarang baru sedih? Kemana saja saat hamil? Bukanya anak mati juga kau yang mau? Setiap hari pembicaraan mereka selalu seperti itu, kalaupun tidak mereka akan menyindir dengan menceritakan anak tetangga mereka. Aku pikir aku akan mulai dengan memperbaiki hubungan dengan suamiku dulu, jadi aku mencoba segala yang aku bisa. Aku memasak walaupun pada akhirnya di buang di depan mataku. "
Lora semakin mengeratkan genggaman tangannya seolah dia merasakan bagaimana sedihnya.
" Iya, itu semua karena masakan ku kan tidak enak. Aku mencuci baju, tapi masih saja kotor. Aku mengepel lantai, tapi gara-gara aku juga adik ipar ku terjatuh dan lagi-lagi aku harus dimarahi. Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari semua itu Lora? Di malam ulang tahun ku, Roni tidak juga pulang kerumah. Aku menunggunya sepanjang malam hingga subuh. Tapi pesan singkat dari pengurus vila membuatku terbelalak dengan kucuran air mata yang tidak bisa aku bendung. Segera aku menuju ke vila itu, aku masuk ke dalam sana dengan harapan bahwa pesan singkat dari pengurus vila tidaklah benar. Aku perlahan membuka pintu, dan dari sanalah dunia ku semakin hancur. Roni, dia tidur tanpa busana bersama seorang wanita. "
" Kak Ita, maafkan aku karena menanyakan tentang hak ini. " Lora menatap sedih.
" Tidak apa-apa Lora, sebenarnya baru kali ini juga aku bisa bercerita tentang masa lalu ku. "
" Ah, baiklah. Kalau begitu, apa yang terjadi setelahnya? "
" Yah, seperti kebanyakan wanita-wanita umumnya, aku menarik selimut yang menutupi tubuh mereka, membuat mereka terbangun dengan tatapan kaget. Sebenarnya aku ingin memukul dan menaik rambut wanita yang tak lain adalah asisten Roni sendiri, tapi melihat tatapan Roni yang menajam saat melihatku, aku sadar bahwa aku tidaklah memiliki arti lagi untuknya. Setelah itu aku kembali ke rumah mertuaku, aku sudah tidak bisa lagi mengais karena mungkin saja mataku sudah lelah memproduksi air mata. Aku mengemas seluruh pakaian ku, dan pergi dari sana tanpa menjawab satu pun pertanyaan dari keluarga Roni. Yah, mereka pasti membuat pesta besar-besaran setelah aku keluar dari sana kan? "
" Kak, tapi tatapan kak Roni waktu itu, dia seperti masih mencintai kak Ita. "
" Cinta? Sayangnya aku tidak ingat lagi bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku bukannya trauma, tapi aku menyadari banyak hal setelah kami bercerai. Aku ternyata akan lebih baik jika tidak jatuh cinta, aku akan lebih baik saat tidak mengenal dunia model. Seperti sekarang ini, Lora. Aku bisa bebas melakukan apapun, tidak perlu jatuh cinta, aku tetap bahagia dengan apa yang aku punya sekarang. "
Bersambung.