Little Wife

Little Wife
BAB 46



" Maafkan aku ya sayang. " Lora menangis di pelukan Hanzel, sungguh dia sadar benar jika hal yang paling tidak dia inginkan menghilang dari hidupnya hanyalah Hanzel seorang. Bayangan masa lalu yang menyakitkan sudah terobati dengan adanya Hanzel di dalam hidupnya, jika saja ia mampu menjadi seorang aktris terkenal tapi tidak bersama dengan Hanzel lagi, maka jelas bahwa itu bukanlah kebahagiaan dan pencapaian yang dia inginkan.


Hanzel mencium pundak Lora, jujur dia merindukan Lora yang sebelumnya, tapi dia juga tidak berani menuntut karena dia paham sekali bagaimana rasanya dikecewakan hatinya oleh keluarga sendiri, apalagi Lora juga sampai dilecehkan, bahkan kesulitan makan juga.


" Kenapa kau meminta maaf? "


" Karena aku hampir terjerumus dan hampir membuatmu di rebut wanita lain. "


Risha kini hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan tatapan marah. Padahal sudah sebentar lagi bisa tidur bersama Hanzel lagi lalu merajut kisah lama yang dia anggap belum usai, tapi gara-gara Lora semua jadi gagal total.


" Kita pulang ya? " Ajak Lora seraya mengurai pelukannya. Hanzel mengangguk setuju, lalu dia bangkit dengan dibantu Lora. Perlahan Lora membantu Hanzel untuk berjalan karena Hanzel benar-benar gontai dan agak pusing.


" Pak, jalan ke tempat saya naik tadi ya? " Ucap Lora kepada supir taksi yang sengaja Kota minta untuk menunggunya sampai keluar dari bar. Dengan erat Lora menggenggam tangan Hanzel membuat pria itu merasa nyaman lalu menggenggamnya balik. Mungkin dia bisa kalau Lora tidak datang tadi, dia pasti akan melampiaskan kekesalannya entah dengan apa.


" Lora? " Panggil Hanzel.


" Em? " Lora tersenyum saat menatap Hanzel.


" Terimakasih karena sudah datang menjemput mu. " Lora beringsut masuk kedalam pelukan Hanzel, bau alkohol jelas tidak dia suka, tapi sekarang ini dia bisa mengabaikan itu.


" Aku seharusnya minta maaf dengan benar. Aku salah, maafkan aku ya sayang? "


Ah, Rasanya ingin sekali mencium Lora. Tapi sekarang sedang ada di taksi jadi dia harus menahan sebentar lagi.


Sesampainya dirumah, Lora membukakan baju Hanzel, kemudian celana dan seluruh pakaiannya.


" Sayang, aku bantu mandi ya? " Lora membantu Hanzel untuk bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi. Padahal Hanzel sama sekali tidak lemah dan bisa berjalan sendiri untuk mandi, tapi biarkan saja Lora melakukan apa yang dia inginkan, dan biarkan saja Lora berpikir dia mabuk parah sampai tidak bisa melakukan apapun.


Beberapa saat kemudian, Hanzel yang sudah keluar dari kamar mandi hanya bisa diam saja menerima perlakuan dari Lora. Dia sudah kembali menjadi Lora yang sebelumnya, dia kembali perhatian, tatapannya yang takut kehilangan seorang Hanzel kembali terlihat jelas.


" Aku bisa memakai pakaian ku sendiri, Lora. " Ujar Hanzel agak aneh saat Lora membungkuk ingin memakai kain dalam untuknya.


" Tapi kau kan sedang mabuk. "


Hanzel tersenyum, dia membawa tubuh Lora untuk tegap berdiri dan menatapnya.


" Aku tidak mabuk lagi, jadi karena ini belum terlalu malam, kita pergi makan malam bersama bagaimana? "


Lora tersenyum, lalu mengangguk. Dia dengan semangat mengganti pakaiannya yang basah karena membantu Hanzel untuk mandi, sedangkan Hanzel juga tengah memakai setelah jas berwarna navi. Seperti biasa, Hanzel benar-benar terlihat sangat tampan dan seksi padahal wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun.


" Aduh, suamiku ganteng sekali! " Lora memberikan jari yanh ia bentuk menjadi hati untuk Hanzel dengan senyum manis membarengi. Hanzel tersenyum malu, benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi gombalan Lora yang selalu membuatnya berseri.


Setelah keduanya rapih, mereka berdua menuju sebuah restauran yang awalnya sudah Hanzel pesan untuk makan malam bersama Lora. Sudah tidak bisa hanya berdua saja, karena sudah ada beberapa tamu yang sedang makan malam disana juga, tapi untuk ruang VVIP hanya ada empat orang saja disana. Tidak masalah, yang penting bersama Lora saja, batin Hanzel.


" Selamat malam, Tuan dan Nyonya Hanzel? " Sapa kekayaan menyambut Hanzel dan Lora. Maklum saja, pelayanan untuk tamu VVIP memang di atas rata-rata dari tamu umum biasanya. Pelayan itu membawa Hanzel dan Lora untuk duduk di ruangan yang ada di ujung, disana hanya ada empat meja saja meski ruangannya amanat luas dan bisa di isi sekitar lima belas meja jika di susun seperti tempat yang tidak VVIP.


Benar-benar dunia seperti selebar daun kelor, ternyata disana juga ada Nora dan Alexander yang sedang makan malam berdua, dan ada juga satu pasang tapi tidak tahu siapa.


Lora mengambil posisi duduk begitu pelayan menarik bangku. Setelah itu pelayan menentukan daftar menu, agak bingung memang dengan nama menu yang sepertinya berasal dari bahasa Italia, tapi ya sudahlah Lora asal pesan saja.


" Aku pesan yang sama juga. " Ujar Hanzel yang kebetulan juga menyukai makanan yang di pesan Lora.


Dari sisi Lain, Nora menatap Lora yang terlihat sangat cantik, pria yang ia ketahui sebagai pacar Lora juga sangat tampan, dan terlihat sekali sangat kaya. Alexander juga terus mencuri pandang ke arah Lora, sungguh dia sangat tidak menyukai apa yang dia lihat sekarang ini, tapi juga tak menimbulkan keinginannya untuk mencoba lebih dekat dengan Lora.


Lora sebenarnya agak tidak nyaman dengan adanya Nora disana, tapi karena Hanzel sudah memilih tempat mewah itu, dia juga tidak ingin mengecewakan Hanzel apalagi Hanzel juga sedang berulang tahun hari ini.


" Sayang, maaf sudah sangat terlambat, selamat ulang tahun ya? Semoga kau selalu sehat, tampan juga selalu, sukses, dan semoga saja kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. " Ucap Lora.


Hanzel meraih tangan Lora, mengusap dengan lembut tangan istrinya itu. Sekarang yang dia inginkan hanyalah Lora, jadi apakah boleh dia mengatakannya sekarang?


" Sayang, sebenarnya aku sudah menyiapkan hadiah ulang tahun mu dari beberapa bulan lalu, aku taruh di laci bawah meja rias ku, nanti pulang baru aku berikan padamu ya? "


Hanzel terdiam sebentar.


" Lora, apa kau tahu apa yang aku inginkan dan menjadi harapan terbesarku? "


Lora menggeleng sembari mengeryit.


" Kau kan jarang bicara kalau mengenai itu, aku juga punya harapan terbesar tapi tidak berani mengatakannya. "


Hanzel padahal belum sempat mengatakan apa yang ingin dia katakan, tapi Lora sudah memancingnya untuk bertanya.


" Memang harapanmu? "


" Hidup bersama denganmu, selamanya, sampai kita menjadi tua, punya banyak anak, lalu kalau bisa aku inginnya mati bersama juga. "


Hanzel mengeratkan tangannya yang tengah menggenggam tangan Lora.


" Mari kita berjuang bersama, Lora. "


" Hah? " Lora menatap bingung karena tidak paham maksud ucapan Hanzel.


Sementara Nora semakin marah, memang tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan Lora dan Hanzel, tapi tatapan mereka berdua benar-benar penuh cinta, itulah yang membuat Nora iri dan kesal.


Bersambung.