Little Wife

Little Wife
BAB 23



Setelah mendengar cerita tentang Risha yang gak lain adalah mantan kekasih, atau mungkin masih menjadi kekasih Lora juga tidak tahu. Pokonya mulai dari hari ini dia akan melakukan segalanya agar Hanzel tidak mengingat lagi namanya Risha. Memang benar beberapa saat lalu dia pernah mengatakan demi membalas kebahagiaan yang diberikan Hanzel padanya, dia rela jika Hanzel memiliki istri lagi asal Hanzel bisa bahagia, tapi tidak mulai sekarang! Membayangkan Hanzel dengan wanita lain saja dia sudah bisa merasa kesal, pokoknya apa yang Hanzel minta dia tidak akan dia tidak kecuali menambah istri.


Ita sebenarnya sudah menyarankan agar membuat Hanzel lelah di atas ranjang agar dia tidak punya tenaga lagi untuk melakukan itu dengan wanita lain. Apakah benar? Lora masih belum percaya, tali setelah sebentar dia memikirkannya, ucapan Ita ada benarnya juga kan? Ah, tapi bagaimana kalau Hanzel bosan? Gunakan banyak gaya seperti video yang aku kirimkan. Lora mengusap tengkuknya karena merinding setiap kali Ita mengatakan hal itu.


Masa harus seperti memakan lolipop, ah! meskipun itu memalukan sepertinya perlu dicoba juga deh. Ting! Suara ponsel Lora, dan lagi-lagi Ita mengirimkan video tidak senonoh kepadanya. Sebenarnya Ita apakah memiliki segudang video mesum seperti ini? Hah! Tapi dia bilang dia memang menyimpan video semacam ini khusus untuk Lora.


" Aduh! Aku jadi panas dingin sendiri. " Ujar Lora lalu menjauhkan ponselnya. Sebenarnya ada bagusnya juga Ita sering mengirim video seperti itu, karena pada akhirnya dia bisa mengimbangi Hanzel yang sangat aktif di tempat tidur.


Tak lama terdengar suara mobil Hanzel terparkir di garasi, segera Lora turun kebawah, menyambut kedatangan Hanzel disana. Seperti yang sering dilakukan Lora selama ini, dia mencium tangan Hanzel dan mengambil alih tas kerja suaminya itu. Setelah meletakkan tas kerja Hanzel, segera Lora menyiapkan baju ganti untuk Hanzel pakai nanti, kemudian memindahkan baju kotor ke tempatnya.


" Kau sudah makan malam? " Tanya Hanzel yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Belum, kan menunggu Tuan. "


Hanzel tak menjawab, dia fokus memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Lora. Sebenarnya dia sudah sangat terbiasa dengan perlakuan Lora yang super perhatian, jadi kadang dia mulai berpikir apakah jika Lora tidak ada, atau Lora sedang pergi dan butuh menginap dia akan bisa seperti sekarang? Hah! lagi-lagi dia teringat dengan surat perjanjian yang dengan angkuhnya dia sendiri lah yang membuatnya tampa tahu waktu itu.


Lora menelan salivanya melihat tubuh Hanzel yang kekar seperti pria di video yang beberapa saat lalu ia tonton. Tidak! Lora menggeleng cepat karena tidak ingin otaknya menjadi kotor dan terbayang-bayang dengan gambaran kegiatan panas di atas ranjang.


" Tuan, aku ke bawah duluan ya? Aku buat jus dulu untuk Tuan. " Benar, lebih baik dia kabur saja dan jangan terus melihat tubuh Hanzel, apalagi tadi Hanzel dengan masa bodohnya membuang handuk ke atas tempat tidur dan membiarkan tubuhnya begitu polos tanpa penghalang sehelai benangpun.


Ah! Benar-benar sangat indah, batin Lora sembari menyeka sisi bibirnya yang ia rasakan berair di luar kesadarannya.


Hanzel, pria itu sebentar duduk di pinggiran tempat tidur dengan perasaan gelisah. Sebenarnya Hanzel adalah lulusan di kampus yang sama dengan Lora berkuliah sekarang, disana juga ada satu sahabatnya yang menjadi Dosen. Dia sudah meminta temannya untuk memperhatikan Lora, dan memberitahu siapa saja pria yang mencoba mendekati Lora. Tidak tahulah kenapa dia bisa seperti sekarang ini, yang jelas dia akan mencoba sebaik mungkin agar setahun ini tidak membuat Lora bosan dan melirik pria yang lain.


Sudah cukup lama dia duduk melamun, Hanzel segera bangkit dari posisinya, keluar dari kamar untuk menyusul Lora yang sudah menunggu di meja makan. Sebentar Hanzel memandangi Lora yah sibuk menyiapkan makan malam bersama Ita. Entah dia tidak punya rasa lelah atau bagaimana? Karena setiap kali melihat Lora, gadis cantik itu pasti sedang melakukan sesuatu.


" Tuan, ini makanannya sudah siap. " Ucap Lora lalu tersenyum kearah Hanzel.


Hanzel tersenyum tipis. Iya, Lora adalah istrinya. Entah apa yang dikatakan surat perjanjian itu sudah tidak penting lagi, sekarang hanya perlu perlahan-lahan masuk ke hati Lora dan membuat gadis itu selalu ingin bersamanya, dan tidak akan penasaran dengan pria lain.


" Tuan, mau salad atau makan nasi saja? " Tanya Lora sudah bangkit saat Hanzel duduk, tentu dia bangkit untuk melayani makannya Hanzel.


Lora tersenyum dengan pipi merona merah, sementara Ita dia masuk ke dalam kamarnya karena tidak ingin mengganggu sepasang manusia yang sedang jatuh cinta itu. Selain menghindari Hanzel dan Lora, dia juga tidak terbiasa makan malam, jadi dia hanya membawa potongan buah ke kamarnya.


" Nanti berarti aku pakai baju yang terawang sangat tipis itu ya? "


Hanzel terdiam sebentar, membatalkan niatnya yang akan menyendok nasi ke mulutnya. Ya ampun! Lora ini benar-benar sudah keracunan otaknya ya? Padahal dia tadi bicara butuh tenaga karena ingin mengerjakan pekerjaannya yang tidak selesai di kantor tadi. Tapi karena pikiran Lora sudah sejauh itu, ya sudah ikuti saja toh dia juga yang di untungkan.


" Tuan, besok di hari terakhir ospek kami semua akan menginap di kampus. "


" Apa?! " Hanzel mengeryit kaget, itu tentu saja karena Hanzel jelas tidak setuju. Tahu sih pasti akan dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, tapi tetap saja dia keberatan.


" Apanya yang apa, Tuan? "


" Tidak, tidak ada. " Hanzel Melanjutkan dulu makan malamnya, sudahlah! Nanti kalau melarang terllau banyak yang ada Lora merasa di kekang dan bosan. Jadi biarkan saja semasih berada di batas wajar.


Setelah makan malam selesai, Hanzel dan Lora beranjak meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar mereka. Lora sudah membawa air untuk mereka minum, bahkan juga potongan buah untuk Hanzel makan nanti.


" Tuan, mau sekarang? " Tanya Lora sembari menatap tubuh Hanzel.


" Apanya? " Hanzel mengernyit bingung. Bagaimana tidak bingung? Padahal dia membuka baju untuk menggantinya karena tadi terkena kuah makanan yang dia makan. Tapi tak lama Hanzel teringat ucapan Lora di meja makan tadi. Hanzel membuang nafas setelah meletakkan baju bekas dia pakai ke tempatnya.


" Kalau begitu, kau dulu yang mulai. "


Lora menggigit bibir bawahnya dengan wajah bersemu merah karena malu. Sudah lah, tidak usah malu-malu terjang saja sebum Hanzel terjang wanita lain.


Lora bangkit dari posisinya, berjalan mendekati Hanzel, sebentar dia menatap kedua bola mata Hanzel, lalu mencium dengan lembut bibir Hanzel. Butuh berjinjit tinggi-tinggi karena tubuh pria itu memang tinggi. Tak berhenti hanya mencium, untuk pertama kalinya Lora menyusupkan tangannya meraih bagian inti Hanzel dan memijatnya seperti yang ia tonton di video tadi.


Bersambung.