Little Wife

Little Wife
BAB 43



Lora mondar mandir di kamarnya menunggu kepulangan Hanzel dengan resah. Padahal dia sudah mencoba untuk tenang dan percaya, tapi tetap saja dia gelisah tak tenang karena takut kehilangan Hanzel. Maklum saja, kalau dari wajah Hanzel memang jelas memiliki nilai tinggi, dari uang juga Hanzel menang telak, perilaku pun baik, ah! Frustasi membayangkan kalau benar ada wanita yang bisa menggoda Hanzel nantinya.


Lora menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. Dia kembali mencoba untuk tenang dengan duduk dipinggiran tempat tidur sembari berpositif thinking. Hanzel pasti pulang! Ucapnya di dalam hati.


Empat jam setelah kepergian Hanzel, Lora sama sekali tak merasa tenang, tapi setidaknya sekarang dia sudah agak tenang setelah beberapa kali mencoba berpikir positif.


" Hanzel pasti pulang, meskipun aku tidak tahu apa yang membuatku sekarang merasa mulai yakin, setidaknya memang itulah yang aku yakini. " Gumam Lora. Beruntung sekali, karena tak lama dari itu suara mobil Hanzel terdengar memasuki garasi. Lora dengan bahagia berjalan keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu, sebenarnya nanti juga Ita akan membukanya, dan Hanzel juga membawa kunci serep, tapi tetap saja Lora yang tidak sabar sekaligus memang itu sudah menjadi kebiasaan tidak tahan kalau hanya menunggu saja di kamar.


" Sayang?! " Ucap Lora dengan semangat setelah membuka pintu. Hanzel yang baru saja akan membuka kunci terperanjak kaget.


" Lora, kau mau membuat suamimu mati karena serangan jantung ya? "


Lora terkekeh melihat wajah Hanzel yang lucu saat terkejut tadi, bahkan sampai sekarang dia masih mengelus dadanya.


" Maaf, sayang. Tadi aku terlalu semangat, soalnya aku sudah menunggumu pulang dari empat jam lalu. "


Hanzel mengeryit menatap Lora.


" Empat jam? Berarti aku baru berangkat kau sudah menunggu aku pulang? "


Lora mengangguk dengan bibir tersenyum senang.


" Lain kali jangan menunggu begitu ya? Besok kan kau harus pergi kuliah, jadi jangan kurang tidur hanya untuk menungguku, aku tahu jalan pulang kok, tidak mungkin salah rumah. "


Lora menghela nafasnya, tak mau membahas lagi, segera dia meraih lengan Hanzel, lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar.


" Sayang mau mandi lagi? " Tanya Lora, kalau boleh jujur sih dia agak mual dengan bau yang keluar dari mulut Hanzel, aneh, mungkin karena dia tidak terbiasa dengan bau wine.


" Mandi, aku bisa melihat wajahmu yang menahan mual. " Ujar Hanzel seraya membuka bajunya. Lora tersenyum kikuk karena merasa malu juga. Dia segera membantu Hanzel untuk membuka pakaian lalu meletakkan di tempatnya. Hanzel memandangi wajah Lora yang begitu tulus melayaninya, sungguh tidak bisa dibayangkan jika Lora sampai meminta untuk berpisah.


" Sayang, aku siapkan bajunya, kau mandi dulu sana! "


" Kau mau mandi lagi? "


Lora menggaruk tengkuknya. Ah, mau sih tapi masalahnya pinggangnya sudah hampir putus rasanya.


" Aku tidak serius kok. " Ucap Hanzel seraya mengusap rambut Lora, lalu pergi menuju kamar mandi setelahnya.


Setelah selsai mandi, Hanzel menggunakan baju yang sudah di siapkan Lora, lalu segera di berbaring di samping Lora yang masih juga belum tertidur.


" Kenapa masih belum tidur juga? "


'' Tidak tahu, mungkin secara tidak sadar aku sedang menunggumu. "


Hanzel menghela nafasnya, lalu memiringkan tubuhnya menatap Lora yang juga menatapnya.


" Lora, sebenarnya sutradara yang kemarin ingin kau mengikuti casting, awalnya aku tidak mengizinkan jadi tidak memberitahu mu. Setelah dipikir-pikir aku juga tidak boleh egois dan mementingkan diri sendiri, karena kau juga selalu mengutamakanku. Jadi kau mau atau tidak itu terserah denganmu, saja. Aku akan mendukung. "


" Iya, jadi bagaimana? " Jujur, Hanzel masih tidak rela karena takut pada akhirnya Lora akan tergoda oleh lelaki lain yang lebih muda dan lebih segalanya. Tapi melihat Lora dia jadi tidak tega, karena Lora juga pasti memiliki impian.


" Aku mau! " Jawab Lora semangat. Sungguh, menjadi aktris bukanlah hal yang dia inginkan sepenuh hati, tapi hanya demi mengungguli Nora, dia jadi bersemangat untuk menjadi Aktris bagaimanapun caranya asalkan tidak berkhianat kepada Hanzel.


" Tapi, ada beberapa hal yang mungkin akan diluar ekspektasi mu. "


" Maksudnya? " Lora mengeryit penuh tanya menatap Hanzel. Setelah membuang nafas dari mulut, Hanzel meraih punggung Lora, membawanya mendekat, merapat kepadanya. Hanzel memeluk tubuh Lora dengan wajah masih saling menatap.


" Usiamu masih muda, kau bisa saja akan bertemu dengan pria seusia mu, atau setidaknya beberapa tahun di atas mu yang lebih menarik dari pada diriku. Di dunia hiburan akan membuatmu sibuk, bahkan bisa hampir ga ada waktu untukku. Apa kau siap seperti itu? "


Lora terdiam sebentar. Iya lah? Apakah harus seperti itu?


" Aku ingin menjadi aktris bukan karena keinginan dan cita-citaku, tapi ada hal yang ingin aku capai, aku juga yakin pada diriku sendiri tidak akan bisa jatuh cinta selain denganmu. "


Ah, aku senang sekali! Dia sadar tidak sih kalau dia bilang mencintaiku? Batin Hanzel.


" Benarkah? Lalu alasan apa yang membuatmu ingin menjadi aktris? "


Lora terdiam, dia tak lagi berani menatap mata Hanzel, jadi dia memilih untuk menunduk tepat tatapannya di dada Hanzel.


" Hanya karena aku marah pada seseorang, jadi aku ingin sekali membalas dengan kemaluanku. "


Hanzel sepertinya mulai menyadari ada banyak hal yang belum dia tahu benar tentang Lora. Meksipun kelihatannya Lora tidak siap, tali mengetahui alasannya sedini mungkin adalah hal terbaik jadi dia bisa menghalau apa saja yang mungkin akan berbahaya untuk Lora.


" Beritahu padaku, aku janji akan mendukungmu dan membantu saat kau butuhkan. " Hanzel meraih dagu Lora, lalu membuat tatapan mereka saling bertemu kembali.


Lora sempat ragu awalnya, tapi tatapan Hanzel lama kelamaan mampu membuatnya merasa yakin.


" Ada seorang aktris wanita, dia juga kuliah di kampus yang sama denganku. Namanya, Nora Queenera. "


Hanzel mengeryit bingung. Jujur, dia sama sekali tidak tahu dengan aktris bernama Nora Queenera, tali kalau mendengar namanya bukankah hanya beda satu huruf saja dari Lora?


" Lalu? " Tanya Hanzel penasaran.


" Dia itu adalah saudari kembar ku. "


Hanzel terkejut, dia sampai terlihat menahan nafas betapa detik sebelum menatap Lora dengan tatapan bingung.


" Aku dan dia berpisah saat usia kami lima tahun. Ayah dan Ibu bercerai, lalu Ibu membawaku pergi dengannya. Aku ikut dengan Ibu untuk tinggal di desa, tapi baru dua bulan, Ibu meninggal karena sakit yang sampai sekarang aku tidak tahu. Semenjak itu aku menjalani hidup seperti binatang, aku menderita dan menangis setiap hari, tapi dia dan Ayah hidup dengan bahagia. Disaat aku tinggal di ruangan gelap dan kotor, mereka berada di luar negeri untuk berlibur, di saat aku kelaparan, mereka ternyata sedang memakan makana mewah, aku dilecehkan, tapi tidak ada yang menolongku. Sedangkan dia? Dia hidup dengan sangat bahagia, sekarang apakah salah jika aku ingin berada di atasnya? " Lora menatap Hanzel dengan mata memerah menahan air mata. Segera Hanzel mendekapnya erat-erat, membawa wajah yang sedih itu ke dalam dadanya.


" Tidak, jangan bicara lagi. Sekarang lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Aku berada di sampingmu untuk mendukungmu. Aku yakin kau bisa bersinar tanpa bantuan siapapun, karena kau hebat, Lora. "


Bersambung.