
" Lora, jangan pikirkan lagi masalah penyakit ku, Segera saja temukan Dokter terbaik untuk Ayah agar kita bisa mengatakan kesungguhannya tanpa adanya guncangan di kepalanya yang akan menyakitinya. "
Lora tak mengatakan apapun saat Nora mengatakan itu, sungguh dia sekarang benar-benar tahu bahwa Nora seperti tak memiliki keinginan untuk sembuh yang kuat. Kenapa? Padahal sebisa mungkin dia telah memberikan semangat, tali Nora seperti tak perduli jika penyakitnya akan mempercepat kematiannya.
Ita, dia juga bisa membaca apa makna dari ucapan Nora, tapi juga bisa mengerti bagaimana arti dari tatapan Lora yang seperti kecewa dengan ucapan Nora. Iya, memang siapa yang tidak akan sedih kalau saudari, teman atau siapapun yang dekat memilih untuk pasrah dalam hidup seperti tak memiliki keinginan bertahan, padahal dunia ini bukan hanya memberikan kesedihan saja, melainkan ada kebahagiaan.
" Bagaimana kalau kita pergi ke rumah sakit sekarang? " Aja Lora yang langsung mendapat gelengan kepala dari Nora.
" Nanti aku akan pergi, tapi tidak untuk sekarang ini. Kau cepatlah kembali temukan Dokter terbaik, aku akan baik-baik disini.
Lora mengangguk saja karena sadar bahwa apa yang dia katakan sepertinya tak akan merubah apapun. Setelah hari semakin malam, Lora dan Ita memutuskan untuk kembali ke rumah. Sebenarnya kunjungan seperti ini akan sering dilakukan Lora, selain untuk mendekatkan diri kepada Ayahnya perlahan, dia juga ingin lebih memahami situasi di rumah itu.
Setelah kepergian Lora, Nora mengembalikan setelah kamera pengawas di kamarnya. Tak ada yang dia lakukan, dia hanya duduk termenung memikirkan banyak hal yang kini mengganggunya. Cukup lama dia melamun, Nora kemudian menatap cincin pertunangan dan melingkar di jarinya. Cincin yang digunakan untuk mengadakan bahwa dia adalah seorang gadis yang terikat dalam hubungan menuju pernikahan bersama dengan Alexander.
Nora melepaskan cincin itu, dia jauhkan cincin itu darinya dengan tatapan datar. Sejujurnya dia begitu berat melepaskan cincin itu dari jemarinya, tapi setelah memikirkan semuanya dengan baik, dia sadar benar bahwa perasaan seseorang tidak lah untuk dipaksakan. Apalagi dia juga tengah sakit sekarang, akan lebih baik kalau Alexander memiliki seorang wanita yang seperti dia inginkan, tapi juga harus selain Lora yang sudah memilki suami.
Sebenarnya perasaan itu sudah ada di hatinya semenjak mereka pertama kali kenal, tapi karena Alexander yang tak kunjung berubah, dan setiap kali menatap Lora penuh cinta, maka Nora juga tidak bisa lagi memaksa, dan semoga itu adalah pilihan terbaik yang dia pilih.
Sesampainya di rumah, Lora langsung menemui Hanzel yang sudah sampai dirumah sejak sejam yang lalu. Lora menceritakan bagaimana kesan pertama menemui Ayahnya, melihat Ibu tirinya Nora, dan suasana di rumah yang seperti dimata-matai setiap waktu.
" Sayang, wanita itu sebenarnya adalah wanita yang biasa-biasa saja pada awalnya. Tapi karena ekspetasi terhadap dunia begitu tinggi, pada akhirnya dia melampiaskan itu kepada Nora karena dia tidak mampu menggapainya. "
" Maksudnya? " Tanya Lora yang masih merasa bingung.
" Dia menginginkan apa yang di dapatkan oleh Nora saat dulu. Tapi nasib tidak mendukungnya, dia malah dijadikan asisten para aktris dan model. Kalau mengenai kebohongan kenapa dia mengatakan bahwa dia teman kerja Ayahmu, menurut pendapatku adalah, dia mengenal Ayahmu di masa lalu. Tapi itu benar-benar hanya pendapat saja, untuk lebih jelasnya kita tunggu sebentar lagi sampai semuanya jelas. " Ujar Hanzel yang langsung di angguki oleh Lora.
" Dokter untuk Nora juga sudah ada, secepatnya kau bawa dia untuk bertemu ya? Nanti nomor teleponnya akan aku kirim padamu. "
" Iya. "
Lira mengalihkan pandangan karena mendengar suara ponselnya, kalau dengan segera dia meraih ponsel untuk melihat notifikasi dari ponselnya.
Lora, kau sudah lama tidak datang ke kampus. Bagaimana kabarmu? Kau ada dimana sekarang? Mari kita minum teh bersama, aku tahu kau bukan seperti yang di beritakan waktu itu, jadi aku tidak akan mengatakan apapun tentang itu. Aku baru saja sampai karena beberapa Minggu lalu aku pergi ke luar negeri untuk mengunjungi Ibuku yang sedang di rawat di rumah sakit.
Hanzel tentu bisa melihat ekspresi Lora yang tidak biasa, jadi dia putuskan untuk meraih ponsel Lora dan membaca sendiri pesan dari Alexander. Kesal, sungguh sangat kesal, kalau saja yang namanya Alexander itu ada di hadapannya, sudah lah jelas dia akan melayangkan tinjuan super menyakitkan.
" Pria ini sungguh-sungguh kegagalan sekali ya? " Ucap Hanzel lalu mengeraskan rahangnya, iya jelas sekali Lora bisa melihat kalau Hanzel sangat marah sekali.
" Dia itu tunangannya Nora, tapi sepertinya dia tidak menyukai Nora deh. "
" Tentu aku bisa melihatnya, dia punya tunangan sendiri, tapi malah memikirkan istri orang lain. " Kesal Hanzel.
" Kan dia tahunya kita itu hanya pacaran saja. "
Hanzel mengernyit bingung, ah! Mungkin karena dulu kan Lora teringat dengan kontrak jadi tidak berani mengatakan apapun yang akan membuat Lora tersinggung. Tak mau banyak bosabasi, Hanzel memotret photo pernikahannya bersama dengan Lora dan mengirimkan kepada Alexander. Iya, itu adalah cara terbaik dan terampuh untuk menghentikan keinginan Alexander yang menyebalkan itu.
" Lora, jangan sampai lupa kalau kau adalah istriku ya? " Kali ini Lora benar-benar dibuat gak bisa bicara. Bukan merasa tertekan dengan kecemburuan Hanzel sekarang ini, tapi dia merasa amanat bahagia hingga tak mampu bicara. Dulu dia diperlakukan layaknya sampah, hingga ia terus berharap sedikit saja di manusiakan. Sekarang, setelah bertemu dengan Hanzel, dia di perlakukan Seperti seolah dia adalah segalanya bagi Hanzel, dia seperti merasa sangat dibutuhkan dan di cintai, jadi seketat apa Hanzel membelenggunya dengan cinta, sumpah mati dia akan tetap bertahan karena dia juga menyukai di perlakukan seperti itu.
" Sebentar lagi tanggal datang bulan mu akan datang kan? Sekarang biarkan aku bercocok tanam dulu. " Ujar Hanzel menjauhkan ponsel Lora dan mulai menerjang Lora. Ah, membiarkan Lora hamil secepatnya akan lebih aman sepertinya.
***
Setelah melihat Photo yang dikirimkan oleh media sosial Lora, Alexander kini hanya bisa terdiam. Bukan sedih karena wanita yang ia sukai ternyata sudah menikah, tali yang membuatnya sedih adalah melihat wajah Lora yang seperti ketakutan dan dipaksa untuk menikah.
" Kau pasti menderita sekali dengan laki-laki ini. " Ujar Alexander yang benar-benar merasa tak tega.
" Kau menangis saat itu Lora, aku bisa melihat itu bukan tangisan bahagia, melainkan tangisan untuk menolak apa yang sedang terjadi kala itu. Aku akan menyelamatkan mu dari pria itu, Lora. "
Bersambung.