
Lora menarik nafas mengambil banyak-banyak udara segar dari kota Bali. Mereka sudah sampai sekitar dua jam yang lalu, karena ini liburan pertama untuk Lora, dia benar-benar merasa sangat senang dan bahagia, apalagi dia liburan kak bersama dengan Hanzel. Iya, anggap saja ini adalah bulan madu seperti kebanyakan pasangan menikah lainnya.
Hanzel, pria itu juga nampak bahagia. Sebenarnya Bali bukanlah tempat yang belum dia kunjungi sebelumnya, karena dia bahkan hampir pergi kesana setiap bulan saat dulu sedang bersama dengan Risha. Tapi karena ada Lora, suasananya jadi menyenangkan dan juga membuatnya nampak sangat bersemangat.
" Sayang, kita kan sudah istirahat selama dua jam, jadi kita mau kemana setelah ini? " Tanya Lora, yah siapa sih yang tidak ingin cepat-cepat keluar dari kamar hotel untuk melihat di sekitar sana?
Hanzel bangkit dari duduknya, dia berjalan mendekati Lora yang begitu bersemangat menatap ke arah luar dari balkon hotel, lalu memeluknya dari belakang. Indah, itulah yang dirasakan oleh Hanzel. Padahal biasanya dia akan menganggap Bali adalah tempat yang biasa dan tidak seindah ini, tapi adanya Lora benar-benar membuatnya merasakan perbedaan besar dibanding sebelumnya.
" Kita di kamar saja sampai makan malam nanti ya? " Hanzel mencium tengkuk Lora, dia menikmati aroma tubuh Lora yang begitu menyegarkan. Mungkin, kali ini dia benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya karena bisa sampai seperti ini. Ucapan Lora beberapa hari kemarin yang akan meninggalkannya seolah menambah kadar cinta hingga begitu banyak akibat ketakutan untuk kehilangan lagi sampai dia sudah tidak bisa mengontrol perasaannya.
Lora, dia hanya bisa tersenyum lalu mengangguk. Jujur dia ingin cepat-cepat keluar dari kamar dan berjalan untuk melihat-lihat disekitar sana, tapi siapa juga yang mampu menolak pesona Hanzel? Pria yang tiba-tiba menikahinya itu benar-benar sudah semakin dalam masuk ke dalam hatinya. Padahal niat awalnya ingin menggunakan Hanzel untuk membalas dendam kepada semua orang yang sudah dengan bangganya tertawa bahagia saat dia menderita, tapi siapa sangka kalau bersama Hanzel dia bisa merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia sangka dan ia rasakan sebelumnya.
" Aku mencintaimu, Lora. " Kalimat ini, adalah kalimat paling indah yang pernah Lora dengar selama delapan belas tahun usinya. Mau di ucapkan oleh Hanzel ribuan kali setiap hari juga tidak akan terdengar membosankan untuknya.
Lora berbalik menghadap Hanzel, dia menatap Hanzel yang jauh lebih tinggi di banding dirinya dengan tatapan bahagia.
" Aku bahagia sekali, sayang. Aku sangat bahagia karena kau mencintaiku. " Ucap Lora lalu tersenyum menatap Hanzel.
Tidak bisa membalas ucapan Lora, Hanzel meraih dagu Lora dan mulai mencium bibirnya. Sungguh niat awalnya hanya ingin mencium sebentar, tapi Hanzel juga tidak bisa menahan diri ketika Lora mulai menggerakkan lidahnya untuk masuk menyapu bersih mulut Hanzel.
Biarlah semua terjadi sesuai dengan rencana Tuhan, tapi jika ada niatan untuk berpisah, maka jangan salahkan Hanzel kalau pada akhirnya dia akan berbuat begitu gila. Pria itu, sesungguhnya sangat rapuh karena luka dari masa kecil hingga sebelum mengenal Lora.
" Ah...." Hanzel melenguh saat Lora menjalankan tangannya untuk mengusap punggung Hanzel, lalu perlahan meraih bagian yang mulai bangkit dan mengeras itu. Tidak ingin menjadi tontonan orang kalau sampai ada yang melihat, dia juga tidak ingin tubuh Lora dilihat oleh orang lain. Hanzel membawa Lora untuk masuk ke dalam, lalu melanjutkan aksi panas mereka.
***
Setelah mengetahui Lora tengah berada di Bali, Nora dengan segera memesan tiket untuk ke Bali demi memenuhi niatnya. Sebenarnya dia sendiri tidak yakin kalau Lora mau menemui dan bicara dengannya, tapi dia juga tidak ingin menyerah begitu saja tanpa usaha.
Nora memasukkan beberapa lembar baju ke koper yang berukuran sedang. Empat hari waktu yang ia gunakan untuk menemui Lora selama di Bali, dan ia menggunakan alasan pemotretan. Tak menggunakan asisten untuk membantu berkemas, dia juga tidak membawa asistennya karena tidak ingin rencananya gagal. Maklum saja, asisten pribadinya itu sangat dekat dan jauh lebih patuh kepada Ibu tirinya dibanding Nora yang menggajinya.
Setelah semuanya selesai, Nora meletakkan kopernya di ujung ruangan agar Ibu tirinya tak curiga. Kepergiannya ini pasti akan sangat membuat Ibu tirinya tak senang, jadi sebisa mungkin Nora menyembunyikan agar tidak melukai Ibu tiri serta Ayahnya sendiri.
Tok Tok
" Kak, minta uang jajan! " Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun berlari mendekati Nora yang masih duduk di depan meja riasnya. Tak mengatakan apapun, tapi segera mengeluarkan dompet dari tasnya yang tergeletak di atas meja, lalu menyerahkan selembar uang kertas dengan nominal seratus ribu rupiah.
" Jangan terlalu boros, kau kan masih sekolah dasar. "
" Kakak kan artis, uang kakak pasti banyak, jadi untuk apa aku harus berhemat? "
Nora menghela nafasnya. Beginilah yang tidak ia suka, adik tirinya itu selalu saja mengatakan bahwa dia artis, dan berpikir bahwa artis akan banyak uang padahal itu juga belum tentu. Entah bagaimana caranya membuat anak sepuluh tahun itu mengerti bahwa dia belum tentu akan menjadi artis selamanya.
" Terserah kau saja, keluar sana kakak mau istirahat. " Ujar Nora sembari bangkit, meraih tasnya dan memasukkan kembali dompetnya ke tas. Adik tirinya Nora berjalan keluar dengan bibir manyun khas anak-anak yang merasa sebal.
Tak lama datanglah Ibu tiri Nora sembari mengantarkan pakaian yang di pesan Nora beberapa hari lalu.
" Nora, ini baju-baju mu. " Ibu tiri meletakkan di samping tempat tidur dan sebentar melihat Nora yang tengah sibuk dengan laptopnya.
" Nora, kenapa kau tidak memanggil asisten mu hari ini? "
Nora terdiam sebentar mencoba memperbaiki mimiknya agar tidak terlihat gugup. Dia sudah hidup bersama Ibu tiri kurang lebih dua belas tahunan, sedikit banyaknya dia paham benar bagaimana Ibu tirinya itu.
" Tidak ada pekerjaan yang tidak bisa aku handle sendiri hari ini, jadi aku memang sengaja membiarkan dia supaya besok dia bisa lebih segar saat masuk lagi bekerja. "
Ibu tiri terdiam, dia menatap aneh Nora yang tak berani menatapnya dan memilih memfokuskan tatapannya kepada sebuah laptop.
" Nora, percayalah aku bisa dengan mudah menebak apa yang ingin kau lakukan. "
Nora mengepalkan tangannya sebentar agar tak terlihat tertekan.
" Memang apa yang ingin aku lakukan? Aku hanya mengatakan apa yang memang aku inginkan dan di dukung oleh situasi. "
Ibu tiri tersenyum miring seolah paham benar bahwa ucapan Nora barusan sangatlah bohong.
" Baiklah, tapi kau tahu kan kalau kau tidak bisa melakukan apapun sesuka hatimu kan? "
" Tentu saja aku tahu. "
" Bagus, aku harap kau tidak melakukan kesalahan yang akan merugikan dirimu sendiri. "
Bersambung.