
Lora tersenyum melihat wajahnya yang cantik berkat make up natural yang di poleskan Ita beberapa saat lalu, bahkan Ita juga lah yang telah memilihkan dress berwarna peach dan sedikit rumbai di dadanya, motif bunga pada kain dress juga nampak indah saat melekat di tubuh Lora.
" Lora, sebenarnya aku tidak bermaksud menghina fisikmu, tapi menurutku tubuhmu akan terlihat lebih indah kalau saja lebih berisi sedikit. Tubuhmu yang sekarang sangat kurus, Lora. "
Lora tersenyum karena benar dia menyadari jika tubuhnya sangatlah kurus. Tapi mau bagaimana lagi? Selama ini kan dia hidup dengan sulit, makan saja harus menunggu keluarga angkatnya kenyang dulu, tapi dia juga harus mengerjakan banyak hal, jadi bukan hal aneh kalau dia sangat kurus begini.
" Tapi tenang saja, Lora. Susu yang setiap pagi kau minum, terus makanan bergizi setiap hari juga pasti akan dengan cepat menambah berat badanmu. Saat kau kuliah nanti pasti tubuhmu sudah bagus. "
Lora tersenyum lalu mengangguk setelahnya.
" Sepertinya itu Tuan deh. " Ujar Lora yang mendengar suara mobil Hanzel terparkir di halaman rumah.
" Lora, ingat baik-baik pesanku ini, kau jangan terlihat tertekan saat disana. Karena selain Ibunya Tuan Hanzel, disana juga ada dua Ibu tirinya yang kurang baik, pokoknya jangan terlihat tertekan, bersikap saja seolah kau dan Tuan Hanzel sangat mesra, paham tidak? "
Lora sebenarnya tidak terlalu paham, tapi kalau belum berada di kondisi itu dia mana mungkin akan mengerti. Lora memilih mengangguk saja meski dia sendiri belum tahu benar apa yang akan terjadi nanti. Tapi satu hal yang kini harus Lora yakini, apapun situasinya dia harus menghadapi dengan berani, tida boleh terus menjadi pengecut yang hanya bisa mengisi dan diam saja saat tertindas. Sudah cukup dia menjalani hari-hari menyedihkan seperti itu, sekarang adalah waktunya mengasah diri agar menjadi Lora yang tangguh.
" Aku keluar dulu, Lora. Tidak enak kalau Tuan lihat aku ada di kamarnya. " Ujar Ita bergegas berjalan keluar kamar.
Lora terkekeh geli melihat bagaimana Ita berjalan cepat dengan sangat lucu. Tak lama datanglah Hanzel dengan wajah yang terlihat lelah.
" Tuan? " Sapa Lora seraya berjalan mendekati Hanzel untuk mengambil tas yang dipegang Hanzel dan ia letakkan di meja. Hanzel terdiam memandangi Lora yang nampak cantik sekarang ini, kalau dengan dandanan seperti sekarang ini, yakin seratus persen bahwa tidak akan ada orang yang menyangka jika Lora berasal dari perkampungan yang listrik saja masih jarang disana.
" Siapa yang mendadani mu? " Tanya Hanzel setelah mendekati Lora, dia memegang wajah Lora memperhatikan detail wajahnya. Cantik, bahkan sangat cantik jika terus diperhatikan.
" Kak Ita Tuan, apa tidak cocok untukku? "
Hanzel tersenyum lalu menyesap bibir indah Lora sebentar.
" Bagus, kau terlihat cocok seperti ini. Minta Ita untuk mengajarimu make up, jadi lain kali kau bisa menggunakannya sendiri. Tapi pertahankan seperti ini, karena kalau terlalu tebal juga tidak akan bagus juga. "
" Baik, Tuan. " Sebenarnya Lora benar-benar gugup, padahal sudah niatnya untuk tidak gugup, tali sungguh tidak bisa karena wajah Hanzel terlalu membuatnya berdebar.
" Tuan, anda terlihat lelah, apa anda akan mandi dulu? Apa jadi pergi nanti? "
" Aku memang lelah karena pekerjaan banyak, tapi kalau melihatmu seperti ini, aku juga tidak mungkin bisa menahan diri. " Hanzel kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Lora, benar-benar wangi, rambut Lora, leher, wajah, semuanya amat wangi hingga ia semakin tidak tahan dan menjadikan ciuman itu begitu panas. Lora sebenarnya agar ragu-ragu takut salah saat berciuman, tapi dia paksakan saja untuk mengikuti tutorial berciuman yang sudah ia pelajari dari internet, juga dari Ita. Dia mulai membalas ciuman Hanzel menjadikannya semakin panas. Kedua lengannya kini telah memeluk tengkuk Hanzel, sementara Hanzel malah semakin menjadi dengan Lora yang begitu mendominasi hari ini.
Masa bodoh dengan make up yang sudah payah dipoles oleh Ita tadi. Jangankan make up, rambut dan bajunya saja sudah berantakan tidak karuan. Ini mereka masih berada diposisi berdiri saling berciuman, tapi bukan salahnya juga kalau tangan Hanzel memang tidak bisa dikondisikan menyusup ke sana kemari menjamah bagian yang dia inginkan.
Bruk!
Hanzel menjatuhkan tubuh Lora berbarengan dengan tubuhnya. Sungguh hilang sudah rasa lelah yang beberapa saat lalu ia rasakan, bahkan dia juga lupa kalau harus menemui Ayah serta Ibunya yang akan mengadakan makan malam keluarga beberapa saat nanti.
Tak ada suara lain dia lenguhan dari keduanya. Hah! Memalukan, tapi ini juga yang disarankan oleh Ita, juga seperti yang dia lihat dalam video dewasa agar mengeluarkan suara lenguhan saat bercinta agar pasangan tahu kalau dia juga menikmatinya. Entah apa yang merasuki Hanzel hari ini, tapi pria itu benar-benar membuat Lora tak bisa berkata-kata ataupun menolak. Ke kanan lalu ke kiri, berubah-ubah posisi dan gaya yang kurang lebih seperti yang Lora tonton.
Hanzel terperanjak kaget, benar-benar lupa, padahal tadi tidak merasakan lelah sebelum melakukan hubungan suami istri dengan Lora, tapi begitu selesai, tubuhnya malah tiba-tiba lemas. Padahal tadinya dia ingin segera tidur saja tida usah mandi, tapi karena Lora mengingatkan tentang rencananya, mau tidak mau dia harus bangkit untuk mandi dan bersiap.
" Tuan, aku pergi mandi di kamar sebelah saja ya? Nanti baru meminta tolong kepada Kak Ita untuk mendadani seperti tadi. "
Hanzel menatap Lora sebentar, lalu meraih pergelangan tangannya.
" Kita mandi bersama saja biar lebih cepat. "
" Tunggu Tuan! "
" Kenapa? "
" Aku, pakai baju dulu nanti aku menyusul. " Ucap Lora malu, dia bahkan tidak berani menatap Hanzel yang sama sekali tak berbusana.
" Sekarang baru kenal malu? Memang bagian mana dari tubuhmu yang belum aku lihat? "
Lora tersenyum kikuk, lalu mengikuti saja Hanzel ke dalam kamar mandi. Hah! Benar-benar memang pria itu sulit dipercaya! Bagiamana tidak? Bukanya jadi lebih cepat, yang ada malah jadi lebih lama karena lagi-lagi Hanzel tidak bisa menahan diri.
Aduh.... Kakiku benar-benar lemas dan gemetaran.
Batin Lora saat keluar dari kamar mandi.
" Tidak usah pakai make up seperti tadi, pakai saja pakaian yang lain, tapi setidaknya pakai lipstik agar terlihat lebih segar. Kita sudah sangat terlambat soalnya. "
Lora mengangguk saja karena tidak tahu harus berkata apa. Terlambat juga bukan salahnya nya kan?
Di dalam perjalanan.
" Selain dengan Ibuku, kau tidak perlu bersiap baik, kau mengerti? " Lora mengangguk setuju. Ternyata bukan hanya Ita yang mengatakan itu, Hanzel juga. Berarti orang yang tinggal disana menyebalkan bagi Hanzel.
Sesampainya disana.
" Hanzel? Kau sudah datang? " Sapa seorang wanita cantik yang usianya kurang lebih sama dengan Hanzel.
" Apa ini Ibunya Tuan? " Tanya Lora yang ingin segera menyapa dengan sopan.
" Aku Ibu tirinya! Jangan salah paham dan menyamakan aku dengan Ibu kandungnya. "
Bersambung.