
Resa menggeleng dengan tatapan panik, bahkan seluruh tubuhnya sudah gemetar hebat. Kalau Bibi dan pamannya marah, bisa-bisa dia di pulangkan ke kampung dan tidak di biayai lagi untuk kuliah.
Sebentar Resa nampak berpikir untuk mencari cara menenangkan Bibinya yang tengah menggedor terus menerus pintu kamarnya. Ah, tidak tahu dia benar-benar tidak bisa berpikir karena suara berisik dari Bibirnya. Sudahlah, yang paling penting adalah mencari alasan dengan memburukkan nama Lora, karena dengan begitu dia akan bisa selamat untuk sementara, nanti baru pikirkan bagaimana caranya mendesak Lora agar mengiyakan semua tuduhannya sebagai balasan karena orang tuanya sudah merawatnya selama ini.
" Kenapa lama sekali?! " Kesal Bibinya dengan tatapan marah menatap Resa yang baru saja membuka pintu kamar. Resa menunduk seolah dia begitu sedih, iya, itu adalah akting supaya dia terlihat sangat kasihan dan bisa membuat Bibinya iba jadi jangan sampai dia di usir untuk kembali tinggal di desa yang menyebalkan itu.
" Maafkan aku, Bibi. Aku hanya tertekan dengan berita ini. Tapi aku sungguh tidak berbohong Bibi, Lora memang gadis yang seperti itu! "
Bibinya Resa merasa kesal tapi dia juga jadi malas bicara melihat wajah Resa yang begitu menyedihkan.
" Resa, sebenarnya aku tahu bagaimana perilaku mu terhadap Lora, aku pikir itu hanya karena kau cemburu saja saat dulu kami ingin mengambil Lora untuk kami asuh. Ternyata yang jahat bukan hanya kau, tali juga ayahmu. " Paman Resa entah sejak kapan muncul juga disana. Pria itu tentu mampu membuat Resa tertekan dengan sangat, bagaimana tidak? Selama ini dia bergantung kepada Bibinya, sementara Bibinya juga bergantung dengan suaminya karena hanya dia yang menghasilkan uang.
" Kami selalu memenuhi keinginanmu, kami sering menasehati mu agar kau memiliki etika yang lebih baik. Benar-benar membuat orang kehabisan kata-kata, kau bisa saja membohongi Istriku, tali kau tidak akan bisa membohongiku, Resa. "
Resa mencengkram kain dress rumahan yang ia kenakan. Tatapan pamannya itu benar-benar sangat menakutkan, sama seperti saat beberapa tahun lalu ketika Lora baru saja di bawa pulang kerumah oleh Ibunya, dia dengan tidak senang mendorong Lora, bahkan menendang kepala Lora, dan sialnya saat itu paman melihat semua itu, tatapannya sama seperti tatapan saat ini. Angkat marah, sangat kecewa, dan sangat benci, itulah yang terbaca dari menakutkannya tatapan pamannya.
" Sayang, "
" Berhentilah membela dia terus menerus, Sela! Lihatlah, dia semakin menjadi dengan kesombongannya! Sudah ku bilang Resa itu adalah anak yang tidak mementingkan etika, sekarang kau lihat bagaimana dia kan?! "
Bibinya Resa menghela nafas, sebenarnya mereka hampir setiap hari bertengkar karena Resa. Resa adalah keponakannya, maka dari itu dia memilih membawa Resa ke kota dan merawatnya dari pada membawa Lora seperti keinginan suaminya dulu.
" Aku sudah cukup sabar, Sela. Aku sabar dengan kehidupan rumah tangga kita yang tidak memiliki anak, tapi aku juga ragu dengan keutuhan rumah tangga kita kalau biang masalahnya adalah dia yang ingin terus kau pertahankan. "
" Sayang, pasti ada salah paham disini. "
" Salah paham apa?! Jelas-jelas kita sudah tahu apa yang terjadi sampai kakak ipar mu dipenjara kan?! "
Bibi Sela terdiam, sekarang ini dia benar-benar tidak bisa lagi berkata-kata karena ucapan suaminya terdengar sangat menakutkan, juga seperti sebuah ancaman juga peringatan untuknya. Jujur, dia amat menyayangi Resa karena sudah menganggap Resa sebagai anaknya sendiri. Maklum saja, saat dia remaja dulu dia kan tinggal dengan Ibunya Resa, jadi dia sudah ikut mengurus Resa dan dari sanalah timbul rasa sayang kepada Resa, ditambah lagi sudah lama juga dia menikah dengan suaminya, dan belum juga diberikan momongan.
" Selesaikan masalah mu, jangan membuat onar dengan menciptakan kebohongan lebih besar lagi. Aku, memang tidak pernah mengutus Lora, tapi hanya dengan melihatnya, aku bisa tahu bahwa Lora jauh lebih bak Daris segala hal dibanding dirimu! "
" Sayang, cukup. Kita bicara lagi dengan Resa nanti ya? " Bujuk Bibi Sela karena tak tega melihat keponakannya yang terus terlihat sedih dan tak berdaya.
Paman menepis tangan Bibi Sela, lalu menatap dengan kesal.
" Sela, kau sangat mencintai keponakan mu itu kan? Kalau begitu hiduplah bersama dengannya dimana pun dia berada. Kau lebih mementingkan perasaannya dibanding perasaan suamimu, artinya aku ada di urutan belakang yang kau prioritaskan. "
Bibi Sela terdiam kaget, pertengkaran kali ini benar-benar tidak seperti biasanya. Padahal biasanya suaminya itu hanya akan menegur dengan satu atau dua kalimat saja. Tapi kali ini tatapan kemarahannya juga seperti sangat meluap-luap.
" Jangan heran kalau aku marah, Sela. Hari ini sudah dua pelanggan membatalkan pesanan mereka padahal tinggal dua tiga hari baju pesanan mereka selesai. Kalau sehari dua pelanggan tetap yang seperti ini, aku rasa satu bulan kita sudah kesulitan untuk makan nasi gara-gara keponakan tercintamu itu. "
***
Lora sudah berani membuka media sosialnya, dan ternyata sudah sangat jarang ternyata komentar buruk tentangnya. Tapi dari cara mereka mengetuk kalimat, rasanya Kra menyesal sekali membuka media sosial. Sekarang semua orang mengasihaninya, mereka mengatakan jika sangat sedih karena Kita mengalami pelecehan di usia yang masih sangat muda, dan banyak sekali kalimat melas yang malah membuat Lora ingin mengisi. Iya, dia tidak ingin dikasihani, dia tidak ingin semua orang tahu bahwa laki-laki bejat itu sudah pernah menjamah tubuhnya, itu benar-benar membuatnya malu untuk mengangkat wajah saat bertemu dengan orang lain sekarang.
" Sayang, kita lakukan hal lain saja bagiamana? " Hanzel meraih ponsel yang dipegang Lora, menjauhkannya, kaku menatap wajahnya setelah menangkup wajah Lora.
" Tadi kau panggil aku apa? " Tanya Lora karena takut salah dengar pastinya.
Hanzel menekan salivanya sendiri, tidak tahu kenapa juga kata sayang bisa keluar dari mulutnya dengan selancar itu, benar-benar seperti sudah sangat terbiasa saja.
" Ayo, jawab! Tadi kau panggil aku apa? "
Hanzel berdehem sebentar.
" Sa sayang. "
Lora terkekeh.
" Tidak tidak gugup kok. "
Hanzel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ah benar-benar gugup sekali, padahal yang ada dihadapannya juga hanyalah seorang bocah saja kan?
" Sayang. "
Lora tersenyum, lalu memeluk Hanzel.
" Pokoknya mulai sekarang, kau juga harus panggil aku begitu ya? "
Hanzel tersenyum dan mengangguk.
" Oh, iya! Aku turun ke bawah dulu ya? Tadi paket tanaman ku sudah datang, aku lihat dulu sebentar! " Ujar Lora seraya bangkit dari posisinya.
Hanzel tersenyum melihat Lora berlari cepat keluar kamar, tak lama Hanzel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
" Halo, bagaimana perkembangan nya? "
Gadis itu sangat aktif membalas komentar dengan tujuan menggiring opini, benar-benar sangat menguntungkan kita.
" Bagus, kapan kira-kira gadis brengsek itu ditangkap? "
" Secepatnya, karena bukti sudah sangat jelas. "
Hanzel tersenyum seraya mematikan sambungan teleponnya.
" Sekarang tinggal mengurus tikus-tikus berikutnya. "
Bersambung.