
" Lihatlah, betapa kurang ajarnya pembantu dirumah ini. Pasti karena Hanzel memperlakukannya dengan baik, jadi dia bisa seenaknya saja. Kalau bukan karena Hanzel tidak enakan orangnya, mereka berdua pasti tidak akan berada disini. " Ujar Velo dengan tatapan sinis.
Ibu Rose menghela nafas, dia menatap Lora yang masih terdiam dengan tangisnya. Sebenarnya ada rasa tidak tega, tapi apa yang diberitakan itu juga mengganggunya, dia merasa jika Hanzel lantas mendapatkan gadis yang lebih baik dengan masa lalu yang sedikit lebih baik setidaknya.
" Lora, ayo kita bicara berdua saja. " Ajak Ibu Rose seraya bangkit dari duduknya.
" Saya ikut, Nyonya. " Ucap Ita yang merasa tidak tenang jika Lora bersama dengan Ibunya Hanzel meski tahu benar Ibunya Hanzel adalah orang yang baik.
" Tidak, aku hanya ingin bicara dengan Lora berdua saja, aku tidak ingin ada orang lain. "
Ita tak lagi bisa bicara, dia memilih diam dan menatap Lora yang kini tengah menunduk sembari berdoa agar Lora tidak memilih pilihan yang salah. Maklum saja, Lora masih sangat muda, dia tidak memiliki banyak pengalaman hidup jadi pasti nanti dia akan goyah, apalagi ini adalah Ibunya Hanzel yang sebelumya juga menyayangi Lora.
Sekarang ini hanya ada Lora dan juga Ibu Rose di ruang tamu karena yang lainnya memilih untuk keluar sebentar.
" Lora, aku menyayangimu, tapi aku tidak mungkin bohong bahwa aku lebih menyayangiku putraku. Aku tidak ingin putraku menanggung malu, benar aku bisa melihat cinta dari tatapan Hanzel untukmu, tapi seberapa kuat cinta itu bertahan setelah masa lalu memalukan mu itu terungkap? Setahun? Dua tahun? Hanzel memiliki banyak kenalan bisnis, dia berada di lingkup kalangan atas yang juga terhormat. Aku tidak ingin putraku dikucilkan karena memiliki istri sepertimu, tolong pahamilah situasinya. Aku bisa saja memaksa Hanzel untuk menikah lagi dengan wanita pilihanku, dan aku yakin jika aku yang memintanya, Hanzel tidak akan bisa menolak. Aku adalah Ibunya, aku tidak ingin melihat dia menanggung rasa malu dari masa lalu mu, jadi tolong pergilah, tinggalkan putraku agar dia bisa mengangkat wajahnya dengan berani seterusnya. "
Lora menaikkan wajahnya untuk menatap Ibu Rose yang berbicara dengan menunjukkan ekspresi memohon padanya. Sakit, rasanya sakit sekali saat melihat Ibu Rose memintanya melakukan hal yang selama ini dia perjuangkan, dan sangat dia takut.
" Ibu mertua, tolong jangan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa kalau berpisah dengan Hanzel. Aku sangat mencintai Hanzel. " Lora kembali menitihkan air mata dengan wajah melas sesuai dengan apa yang dia rasakan.
" Maka dari itu, jika kau mencintai Hanzel, maka bebaskan Hanzel dari jeratan masa lalu yang kau bawa padanya. Biarkan Hanzel merasakan sakit sebentar saat berpisah denganmu, tapi pada akhirnya dia akan menjadi Hanzel yang lebih baik, dan nanti dia juga akan berpikir bahwa berpisah denganmu adalah pilihan terbaik untuk dirinya. "
Lora tak bicara, sebenarnya bukan salah juga kalau Ibunya Hanzel memintanya untuk pergi, karena apa yang terjadi dengannya di masa lalu pasti akan menjadi aib juga untuk Hanzel. Teman-teman Hanzel adalah orang-orang hebat, jadi akan amanat memalukan kalau memiliki istri dengan masa lalu memalukan sepertinya kan?
" Aku tahu ini berta untukmu, Lora. Tapi aku juga tidak bisa diam saja melihat putraku melakukan banyak tindakan salah karena mencintaimu. Awalnya akan terasa sakit, tapi kelamaan kau akan baik-baik saja, percayalah padaku, Lora. Aku benar-benar meminta tolong, sungguh aku minta tolong demi putraku yang malang itu. "
Lora mencengkram ujung baju yang ia gunakan. Dia menyeka air matanya, lalu menatap Ibu Rose.
" Berikan aku waktu. "
" Baik, tolong jangan terlalu lama dan jangan mengatakan permintaan ku kepada Hanzel, kau akan mengerti saat kau menikah lagi nanti lalu memiliki anak. "
Gak lama suara mobil Hanzel terdengar memasuki garasi mobil. Hanzel keluar dari sana dengan wajah panik, sebentar dia menatap marah kepada Tuan Haris dan juga Velo, lalu masuk ke dalam rumah untuk melihat Lora yang pasti ada di dalam sana bersama dengan Ibunya.
" Sayang? "
" Sayang, sudah pulang? " Lora berjalan mendekat lalu memeluk Hanzel seperti biasanya. Hanzel tak menjawab, dia benar-benar sedang mencari tahu lewat wajah Ibunya dan juga Lora yang sepertinya baru saja membicarakan hal yang sangat mendalam.
" Apa yang sedang kalian bicarakan? " Tanya Hanzel dengan tatapan menyelidik. Lora tersenyum, dia meraih lengan Hanzel dan memeluknya dengan erat meski tangannya gemetar, dan Hanzel juga bisa merasakan itu.
" Tidak ada kok sayang, Ibu hanya bertanya tentang berita itu saja, Ibu kan juga khawatir. " Lora tersenyum di akhir kalimat. Sesungguhnya Ibu Rose benar-benar menyukai Lora, hanya saja tekanan dari Tuan Haris yang dia rasa masuk akal, dia jadi mengatakan hal yang pada akhirnya dia sesali sekarang ini.
Hanzel tak mengatakan apapun, tapi sungguh dia bisa dengan jelas melihat kebohongan dari sorot mata Lora. Tatapan seperti ingin menyembunyikan sesuatu jelas bisa ia tebak dengan mudah, apalagi tatapan Ibunya juga cukup menjelaskan kalau pembicaraan mereka tadi adalah hal yang sangat serius.
" Masuklah ke kamar, aku bicara dengan Ibu dulu ya? Ajak Ita untuk menemanimu juga sampai aku datang. "
Lora tersenyum lalu mengangguk.
Setelah kepergian Lora, Hanzel mengajak Ibunya untuk bicara dan menanyakan apa yang tadi dibicarakan oleh Ibunya dan juga Lora.
" Ibu, katakan padaku apa yang Ibu katakan kepada Lora. "
Ibu Rose terdiam sebentar, sungguh dia sama sekali tidak berani menatap kedua bola mata putranya karena ini adalah kali pertama dia membohongi putranya sendiri yang selama ini telah banyak berkorban untuknya.
" Tidak ada yang serius. "
Hanzel menghembuskan nafas kasarnya.
" Ibu, percaya atau tidak, tapi wanita yang memiliki arti spesial hanya ada Ibu dan Lora. Aku membutuhkan Ibu dan Lora, jadi tolong jangan melakukan sesuatu yang jelas akan menyakitiku. "
Ibu Rose tak menjawab, jelas dia bisa merasakan penyesalan di hatinya, tapi bagaimana lagi? Semua sudah terjadi, dengan harapan demi masa depan Hanzel, dia juga merasa kalau perlu menjadi sedikit jahat kepada orang lain.
Hanzel bangkit, lalu berjalan keluar untuk menemui Ayah serta Velo yang duduk di sofa teras rumah.
" Urusan Ayah sudah selesai kan? Sekarang tolong tinggalkan rumah ini, biarkan aku dan istriku tenang, aku juga sangat sangat lelah sekarang ini. "
Tuan Haris hanya bisa menatap kesal, sementara Velo sesekali tersenyum tipis karena merasa jika pada akhirnya Lora akan pergi dari kehidupan Hanzel, jadi di saat Hanzel galau karena kepergian Lora, dia bisa menjadi penghibur untuk Hanzel nantinya.
Bersambung.