Little Wife

Little Wife
BAB 52



Satu Minggu sudah hari terlewati, dan dalam satu Minggu pula gosip tentang Lora menyebar luas melalui media sosial. Bahkan, ada beberapa reporter TV yang sampai mendatangi Resa untuk menceritakan kronologinya sehingga Lora yang mulai terkenal lewat iklan beberapa produk dengan cepat tersebar luas merajalela dengan artikel-artikel baru bermunculan menjurus untuk menyalahkan Lora.


Awalnya Hanzel bisa menahan agar Lora tidak melihat media sosial, tapi saat tak sengaja sedang memasak di dapur sembari menonton TV, dia melihat berita dirinya sendiri dengan banyaknya artikel yang menuduhnya melakukan banyak sekali hal menjijikan. Jujur saja, satu Minggu terakhir Lora sama sekali tak bisa tersenyum dan tertawa lepas seperti biasanya, karena dia selalu mencoba untuk menutupinya dengan banyak aktivitas dan banyak mengobrol dengan Ita, maupun juga dengan Hanzel.


jujur, perasaannya benar-benar kacau, sekarang juga tak lagi bisa berpura-pura seperti beberapa hari terakhir ini. Sungguh dia tidak menyangka kalau pada akhirnya akan menjadi berita heboh seperti sekarang ini.


Setelah melihat berita itu, Lora jadi tak bersemangat melakukan apapun, dia memilih untuk diam berada di dalam kamar. Dia sengaja tidak mengunci pintu kamarnya karena Ita pasti akan mondar mandir kesana karena khawatir.


Lora memandangi jendela kamarnya yang menunjukkan suasana rumah para orang kaya di siang hari. Sebentar dia menghela nafas, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya sangat tidak karuan hingga melakukan apapun jadi tidak bisa. Sekarang Lora terus memikirkan, bagiamana dia akan hidup kedepannya, bagaimana pandangan Ibunya Hanzel tentang dirinya, bagaimana dia bisa dengan bangga mengakui dirinya adalah istri dari seorang Hanzel? Padahal dia sedang berbahagia dengan kehidupan rumah tangga yang sudah semakin maju serius, tapi kenapa ujian itu datang disaat sehari setelah dia merasakan betapa bahagianya mendengar kalimat indah dari bibit Hanzel? Jika ini adalah ujian dalam hubungan, kenapa harus seberat ini?


Ita terdiam di ambang pintu melihat bagaimana wajah Lora nampak seperti lilin padam. Perlahan dia berjalan mendekati Lora, lalu duduk di sebelahnya.


" Lora, kau belum makna siang, sarapan juga tidak. Makan lah walau hanya sedikit ya? Memang hatimu sedang tidak baik, tapi jangan sampai tidak makan dan membuat tubuhmu sakit. "


Lora menghela nafas mendengar Ita berbicara. Entah mengapa dia merasa begitu itu dengan kehidupan orang lain saat ini. Andai saja dia bisa hidup seperti A B Atau C dan seterusnya, dia tidak perlu menanggung rasa malu yang amat besar itu. Tapi apalah daya ketika harapan hanyalah sebuah harapan tak memiliki dasar untuk melaksanakan.


" Lora, aku tahu apa yang diberitakan itu tidak benar. Bukan karena ingin menghibur mu aku mengatakan ini, tapi karena aku mengenal dirimu dengan baik, Lora. Orang bisa saja salah menilai, karena mereka tidak mengenal mu. Coba kau pikirkan ini dengan baik, Lora. Apa gunanya bersedih dan membuat orang yang membencimu merasa puas karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. "


Lora menatap Ita seolah bertanya bagaimana maksud dari ucapan Ita barusan.


" Wanita yang wajahnya seperti siluman itu pasti sengaja mengatakan itu untuk membuatmu sedih, dan sekarang mau sedang memuaskannya dan membahagiakan nya. Apa kau mau terus seperti itu? "


Lora terdiam, lalu menggeleng setelah beberapa saat.


" Kak, aku ingin bercerita tentang masa lalu ku. "


Ita tersenyum, lalu mengangguk. Dia dengan seksama mendengar tiap kalimat yang keluar dari bibir Lora. Jelas dia bisa melihat Lora terlihat marah, kecewa, bahkan Lora juga mengais sesegukan seperti orang yang sangat depresi dan putus asa. Sungguh sangat luar biasa karena Lora mampu bertahan sampai detik ini, bahkan bisa menjalani hari-hari yang ceria bersama Hanzel seperti menganggap Hanzel adalah matahari yang terbit setelah kegelapan bertahun-tahun ia lalui.


Ita meraih tubuh Lora dan memeluknya erat. Sebagai seorang wanita, tentu dia juga akan putus asa seperti Lora jika mengalaminya. Tidak heran jika Lora begitu terobsesi mempertahankan Hanzel karena benar-benar menganggap Hanzel adalah kebahagiaannya. Lora merasa jika bersama dengan Hanzel, selain bisa terus mencintai pria itu, Lora juga merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Cukup lama Ita menenangkan Lora hingga akhirnya Lora mulai tenang, dan sekarang sudah mau makan meski beberapa kali tak sempat menahan air matanya yang jatuh.


***


Hanzel terdiam sebentar setelah orang yang ia bayar untuk mencari tahu dimana Resa tinggal dan layar belakang kedua orang yang membiayai Resa juga sudah ia pegang data lengkapnya.


" Bos, bagaimana kalau kita bakar saja butik mereka supaya menjadi pelajaran untuk mereka? "


Hanzel menghela nafas kasarnya.


" Mereka hanya sepasang suami istri yang tidak punya anak, tidak perlu melibatkan mereka, tapi bidik saja sasaran dengan tepat. Kau sudah tidak perlu melakukan apapun, sekarang biarkan saja aku turun tangan sendiri. " Ucap Hanzel.


Setelah hatinya juga cukup tenang, Hanzel meraih ponselnya untuk menghubungi kenalannya, dia juga meminta bantuan Roni untuk memberikan tempat untuk Lora memberikan pembelaan diri ke publik. Sebenarnya Hanzel juga tidak ingin sampai seperti ini, tapi berita sudah sampai ke televisi, maka Hanzel juga harus mematahkan semua tuduhan yang di tujukan kepada istrinya oleh acara di televisi.


Setelah menghubungi Roni, Hanzel kini menghubungi pengacara yang biasa ia sewa jasanya.


" Pak Regan, maaf mengganggu anda. Bisa minta tolong? Oke, berita di televisi yang berapa hari ini membeludak, tolong bantu aku tangani, dia itu istriku. Ah, aku juga ingin melaporkan beberapa nama, akun media sosial, juga beberapa acara televisi yang sudah mencemarkan nama baik istriku. "


Hanzel menjauhkan ponselnya setelah selesai menghubungi orang-orang yang akan membantu menyelesaikan masalah ini.


Hanzel menaikan lengan kemejanya, dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Masih terlalu cepat untuk pulang, tapi Hanzel yang tidak kembali saat makan siang tadi tidak bisa menunggu walaupun untuk satu jam lagi.


Sesampainya dirumah, Hanzel bertanya terlebih dulu sebelum menemui Lora di kamar tentang Lora hari ini. Ita mejelaskan semua yang terjadi, dan itu cukup membuat Hanzel mengeraskan rahang karena kesal dengan semua keadaan yang membuat Lora menjadi kacau.


Bersambung.