Little Wife

Little Wife
BAB 28



Pagi hari, cerah, dan hangat sinar matahari begitu terasa. Tapi bagi sepasang manusia yang berada di sebuah kamar dengan pendingin ruangan tentu tak bisa merasakan hangatnya sinar matahari melainkan hangatnya tubuh mereka yang saling memeluk dengan mesra. Setelah lelah bermain di kantor, Lora dan Hanzel mengulang kembali permainan indah mereka di kamar mereka. Memang ini kegiatan yang biasa bagi sepasang suami istri, tapi bagi mereka berdua rasa itu seakan tak bisa mereka kontrol dan tak pernah cukup hanya sekali melakukannya.


" Tuan, ini kan hari minggu, kita tidur lebih lama lagi ya? " Pinta Lora. Tidak tahu apakah karena dia sudah lega karena telah menyampaikan perasaannya atau kah karena memang mereka berdua memilki keinginan yang tinggi saat itu, intinya semalaman mereka hampir tidak istirahat hingga hampir subuh barulah mereka memutuskan untuk berhenti.


" Kita butuh sarapan dulu kan? " Hanzel meraih dagu Lora, membuat tatapan mereka. berada di satu garis lurus. Sudahlah, tidak usah lagi memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan, sekarang hanya perlu memikirkan bagaimana caranya membuat gadis cantik yang telah menjadi istrinya itu tetap bertahan bersama dengannya.


" Nanti saja boleh? Aku masih ingin tidur. " Lora mendekatkan bibirnya untuk mengecup singkat bibir Hanzel, lalu masuk kedalam dekapan pria itu. Mungkin ini terdengar aneh karena gadis dekapan belas tahun sudah memiliki cara dewasa seperti itu, tapi segalanya bisa terjadi kan? Memang benar Lora adalah gadis muda, tapi pemikiran yang terdorong keadaan membuatnya mampu melakukan apapun yang dia inginkan.


Hanzel tersenyum, sungguh sikap Lora yang seperti ini membuatnya merasa bahagia. Segera dia peluk tubuh Lora yang telah menempel padanya, dengan lembut dia belai rambut Lora, memberikan kecupan di kepalanya dengan hangat.


" Kau tidur saja lagi, aku akan menunggumu bangun baru kita sarapan bersama. "


Setelah mengatakan itu, Hanzel sebentar melihat ke arah meja dimana ponselnya berada bersebelahan dengan ponsel milik Lora. Dengan hati-hati Hanzel mengerakkan satu tangannya untuk meraih ponsel miliknya. Setelah mendapatkan ponsel miliknya, dengan segera Hanzel membuka satu persatu pesan yang masuk ke ponselnya, dia juga melihat beberapa telepon masuk yang tak sempat dia jawab. Satu nama yang membuat Hanzel agak tersentak yaitu, Risha. Gadis yang sudah beberapa bulan tak ada kabar tiba-tiba mengiriminya banyak pesan tentang kerinduan, bahkan sialnya dia memberitahu bahwa siang ini akan datang berkunjung.


Hanzel meletakkan ponselnya tanpa membalas satupun pesan yang dikirimkan Risha padanya. Bukan sengaja mengabaikan, hanya saja dia merasa tidak nyaman membalas pesan Risha di saat seperti ini. Sebenarnya beberapa waktu lalu setelah menikahi Lora, Hanzel masih berkeinginan untuk mengejar Risha kembali, tapi siapa sangka kalau pada akhirnya perasaan lain untuk begitu cepat untuk Lora, meski belum sepenuhnya menghilangkan perasaan cintanya untuk Risha.


Beberapa saat kemudian, Hanzel dan Lora sudah bangun, mereka juga sudah mandi bersama beberapa saat sebelum mereka pergi ke meja makan. Sebentar Hanzel menunggu karena sarapan yang dibuat Ita sudah mulai dingin jadi Lora harus menghangatkan nya dulu.


" Tuan, ini sudah selesai. " Ujar Lora membawa semangkuk sup ayam, dan juga ayam goreng dalam satu nampan. Seperti kebanyakan istri lainnya, Lora mengambilkan nasi, sayur dan juga lauk untuk Hanzel, baru dia akan mengambil untuk dirinya sendiri. Tak banyak yang mereka obrolkan sampai kegiatan makan mereka selesai.


Tak lama setelah selesai makan, Ita datang masuk ke dapur dengan langkah setengah terburu-buru, tatapannya juga terlihat panik.


" Tuan, diluar ada nona Risha. "


Lora sontak terdiam, sementara Hanzel nampak mengeryit entah apa yang dia pikirkan.


Lora, gadis itu mencengkram ujung bajunya karena tak tahu harus bagaimana. Apakah dia harus mengikuti surat perjanjian? Tapi dia kan sudah mengatakan segalanya tentang perasaan yang ia rasakan kepada Hanzel. Lora menatap Hanzel yang terdiam tak bicara, diamnya Hanzel rupanya menjadi alasan bagi Lora untuk memilih bangkit dan pergi saja dari sana.


" Tuan, aku masuk ke kamar dulu. "


Hanzel mencoba untuk menenangkan sebentar dirinya, setelah itu barulah dia berjalan keluar untuk menemui Risha. Sebentar Hanzel sempat berdiri menatap Risha yang bangkit begitu melihat kedatangan Hanzel. Gadis itu masih menunjukkan tatapan yang rindu seperti sebelumnya saat mereka berpisah beberapa bulan yang lalu.


" Hanzel,.... " Risha berjalan cepat menghampiri Hanzel, memeluknya erat-erat setelah menenggelamkan wajahnya ke dada Hanzel. Sebentar tak ada suara, tapi lama kelamaan Risha menangis lirih, dia semakin mengeratkan pelukannya seolah ingin menumpahkan betapa rindunya dia dengan sosok Hanzel yang beberapa bulan terakhir tidak ia temui.


" Aku merindukanmu, Hanzel. " Seperti biasa, inilah ungkapan yang akan dikatakan Risha setelah lama berpisah dengan Hanzel. Sebenarnya ini adalah waktu terlama mereka tidak bertemu, karena kalau sebelumya hanya akan berpisah satu bulan itu sudah paling lama.


" Kenapa kau merindukanku? Padahal kita kan sudah tidak ada hubungan apa-apa. '' Ujar Hanzel tak membalas pelukan gadis yang selama ini mengisi hatinya. Rindu? Iya, dia merindukan Risha. Tapi kata-kata terakhir sebelum Risha meninggalkannya seolah terus terngiang-ngiang ditelinga Hanzel hingga terus mencegah untuknya memeluk Risha seperti Risha memeluknya.


Risha mengurai pelukannya, menatap Hanzel yang sekarang nampak menahan kecewa sama seperti sebelum mereka berpisah beberapa bulan lalu.


" Hanzel, aku tahu sekali kau sangat kecewa dengan keputusanku saat itu, tapi percayalah kalau aku juga tidak memiliki pilihan lain ketika itu. "


Hanzel menghela nafasnya, dia meraih tangan Risha dan menjauhkan dari tubuhnya. Hanzel memilih untuk duduk di kursi dan tak lama Risha juga ikut duduk menyusul Hanzel dengan duduk disebelahnya.


" Hanzel, aku sudah kembali, kita bisa berbaikan lagi kan? "


Hanzel sebentar terdiam, bukan munafik kalau dia juga tergiur dengan ajakan itu, tapi apakah akan baik-baik saja kalau sampai dia mengiyakan?


" Risha, berhentilah mempermainkan sebuah hubungan. Dari awal aku sadar benar jika hanya aku yang paling serius dengan hubungan kita, tapi kau berbeda, Risha. Dari awal kau hanya main-main saja kan? Kau ingin mencoba menjalin hubungan denganku karena penasaran saja kan? "


Risha sebentar terdiam. Iya, apa yang dikatakan Hanzel memang benar, sebagai anak dari pengusaha sukses, ditambah rupanya yang cantik dia hanya merasa kalau memiliki hubungan dengan pria sepadan sajalah dia akan semakin menawan dan akhirnya terbuai ingin mencoba-coba. Tapi, pada akhirnya dia sungguh-sungguh jatuh cinta dengan Hanzel yang memilki pesona liar biasa, ditambah dia juga anak dari orang berada.


" Tapi aku sungguh jatuh cinta denganmu, Hanzel. Aku ingin kita menikah, aku sudah tidak perduli apakah orang tuaku merestui kita atau tidak. "


Bersambung.