Little Wife

Little Wife
BAB 50



Lora sesegukan di pelukan Hanzel. Iya, hati siapa yang tidak hancur? Sedari kecil dia menganggap dirinya terkhianati oleh janji Ibunya yang memberikan banyak Sekali iming-iming kebersamaan, nyatanya hanya dua bulan saja Ibunya bertahan bersama dengannya, lalu mati adalah pilihan yang harus di ambil Ibunya, meninggalkan Lora kecil yang berusia lima tahun dengan air mata kemarahan, kekecewaan, juga kesedihan hingga menimbulkan trauma mendalam dan berkepanjangan sampai saat ini.


Lora pikir, Tuhan itu akan adil dan memberikan banyak kebahagiaan saat seorang wanita tersenyum, mengulurkan tangannya dengan tatapan hangat seolah mampu melindungi, menyayangi, dan juga memberikan bukti dari janji yang diberikan oleh Ibunya. Tidak, semua itu tidak seindah bayangannya, nyatanya dia harus lebih tersiksa, kesulitan makan, kekurangan dengan sangat yang namanya kasih sayang, dia juga harus menerima penindasan yang dilakukan Resa, bahkan tetangganya juga sering menindas karena menganggap Lora hanyalah anak pungut.


Enam belas tahun usia seorang remaja yang biasanya hanya akan ada rasa suka, ceria dan bermain bersama teman sebaya, berbagi kebahagian tanpa mengenal kepedihan begitu dalam. Lora, gadis cantik itu mengalami semua kesakitan, mulai dari ketakutan setiap hari saat melihat Ayah angkatnya menatap dengan maksud menakutkan, bahkan sebelum pelecehan terfatal itu dilakukan, Ayah angkatnya sering kali melakukan ha yang memalukan seperti meremas bokong saat Kita sedang mengerjakan tugas rumah, memegang dada, bahkan pernah saat Lora sedang membersihkan lemari, Ayah angkatnya memegang bagian intinya. Lora yang sudah sering mendapatkan pelecehan seperti itu tentu bukan sekali dua kali menangis, setiap hari bahkan dia ketakutan tanpa sebab karena Ayah angkatnya itu.


Sudah pernah menceritakan ini kepada tetangga berharap dia mendapatkan pertolongan, nyatanya Lora malah di anggap tidak tahu diri dan tidak tahu berterimakasih. Tidak heran, itu semua karena sikap Ayah angkatnya terbilang baik dan sopan kepada tetangga jadi mereka berpikir tidak masuk akal jika Kita mengatakan hal itu.


" Lora, aku tahu sulit sekali bagimu melupakan kejadian itu, karena yang jelas itu tidak akan pernah kau lupakan. Tapi, bukankah selama ada aku kau akan bahagia? Ingat saja tentang ku, mari kita bahagia sampai bisa menertawakan masa lalu. "


" Bagaimana bisa? masa lalu menjijikkan itu bisa ditertawakan? Kalau ingat hari itu, aku benar-benar ingin bunuh diri saja. Aku ingin mengelupas kulitku yang tersentuh olehnya, aku ingin menusukkan pisau di semua tubuhku, aku bahkan jadi tidak ingin hidup lagi. " Lora memerosotkan tubuhnya di lantai karena tidak tahan dengan tubuhnya yang lemas. Hanzel kembali meraih tubuh Lora, membawanya untuk duduk di tepat tidur. Sebenarnya Hanzel ada rapat penting yang harus dia hadiri, tapi melihat Lora yang sangat hancur tentu saja dia tidak bisa mengesampingkan Lora, karena bisa jadi Lora hilang kendali dan mencoba untuk bunuh diri nantinya.


" Laki-laki itu kan sudah dihukum, tidak semua orang bodoh akan percaya begitu saja. Jangan tertekan hanya karena orang-orang bodoh itu, percayalah banyak orang pintar juga yang akan lebih mempercayai mu. " Hanzel mengusap wajah Lora dengan lembut, dan itu membuat Lora jadi ingin menatap Hanzel dan mengatakan apa yang ingin dia tanyakan.


" Apa kau tidak jijik denganku? Apa kau tidak merasa kalau aku itu kotor sebelumnya? Aku bekas pria brengsek itu, aku bekas- "


" Berhenti, Lora! " Hanzel menangkup wajah Lora dan menatapnya dengan tegas.


" Kita manusia hidup pasti punya masa lalu, aku juga punya masa lalu yang membuatku tidak ingin mengingatnya, sama seperti dirimu. Kita berdua adalah orang yang rapuh, kita bisa bertahan dan saling menghibur, aku bergantung itu darimu, begitu juga denganmu. Lora, apa gunanya terus terikat masa lalu jika jelas masa depan adalah hal yang jauh lebih penting. Kau boleh sedih karena masa lalu, tapi jangan sampai mempengaruhi masa depanmu yang seharusnya bisa membuatmu bahagia. Aku denganmu, Lora. Ayo kita coba terus untuk keluar dari belenggu itu, percayalah padaku semua akan baik-baik saja pada akhirnya. "


Lora mengangguk, tapi dia juga tidak bisa berhenti menangis. Tidak apa-apa, nyatanya menangis juga akan bisa membuat seseorang menjadi lebih tenang.


Sudah satu jam lebih Hanzel menemani Lora, sekarang ini Lora sudah tertidur mungkin karena dia kelelahan menangis. Jadi untuk menyelesaikan semua urusan pekerjaan yang tertunda, Hanzel meminta Ita untuk berada di dalam kamar menemani Lora selalu, dan Ita diminta untuk menghubungi Hanzel apabila Lora terbangun nanti.


***


Nora menatap tak percaya, tapi dia juga sedih saat melihat berita kampus yang sedang trend saat ini. Lora, gadis polos itu ternyata di tuduh telah menggoda Ayah angkatnya beberapa kali, lalu memasukkan dalam penjara agar bisa membuat namanya bersih dengan bantuan kekasihnya sekarang yang diketahui adalah anak dari pengusaha kaya yang cukup terkenal karena memiliki beberapa istri.


" Tidak mungkin. " Ucap Nora setelah membaca artikel-artikel itu. Sekarang dia beralih membaca satu persatu komentar dari para siswa, rata-rata dari mereka jelas sekali menyudutkan Lora, memaki dengan seenaknya, bahkan mengutuk dengan sangat frontal juga buka hanya satu dua orang saja.


Karena masih penasaran, Nora terus mecari tahu siapa Ayah angkatnya, tapi yang muncul adalah photo Resha. Dengan segera Nora melihat media sosial milik Resa, kalau dari tepat ia photo, dan juga bangunan rumah, sepertinya Resa adalah anak dari orang kaya. Tapi apakah mungkin Lora seperti yang diberitakan?


" Kalau sampai dipenjara, apakah mungkin abdi negara bisa di suap? "


" Nora? " Nora tersentak dan segera menutup laptopnya karena yang memanggil adalah Ayahnya.


" Ayah? " Nora bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Ayahnya.


" Kau makan dulu ya? Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. "


Nora mengangguk dengan cepat.


" Tadi sedang melihat apa? kelihatannya serius sekali. "


Nora menggeleng.


" Hanya komentar dari iklan kosmetik saja, Ayah. "


" Ya sudah, makan siang dulu ya? " Ayahnya Nira mengusap kepala putrinya sebelum pergi terlebih dulu.


Nora mengepalkan tangannya dengan mata memerah menahan tangis. Rasanya sedih sekali karena tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi ini juga demi keselamatan Ayahnya, maka membisu untuk ini adalah pilihan yang bisa Nora pilih.


Maaf, Lora.


***


Resa tersenyum bahagia melihat banyaknya komentar buruk yang ditujukan untuk Lora. Rasanya dia sangat puas, bahkan bibirnya terus tersenyum tak bisa berhenti.


" Lora, kau mana boleh bahagia dengan apa yang seharunya bukan milikmu? "


Resa mengambil iPad nya, lalu membalas satu-persatu komentar yang merasa iba padanya dengan bahasa yang melas agar Lora semakin tersudutkan.


Bersambung.