Little Wife

Little Wife
BAB 61



Lora terus menangis tanpa suara sembari mengobati punggung tangan Hanzel. Sungguh dia merasa begitu bersalah karena Hanzel harus terluka, sebenarnya dia sendiri juga tidak yakin apakah dia sanggup meninggalkan Hanzel atau tidak, tapi saat dia berpikir semua itu demi kebaikan dan kepentingan Hanzel, dia jadi merasa kalau itu memang penting untuk dia lakukan.


Hanzel, pria itu juga hanya bisa menyeka air mata Lora yang terus mengalir deras. Paham, dia sangat paham bagaimana perasaan Lora saat ini. Lora pasti sangat tertekan oleh Ibu juga olehnya secara bersamaan. Tapi mau bagaimana lagi? Lora memerlukan gebrakan agar bisa dengan tegas memilih pilihan yang tidak akan disesali bagi mereka berdua.


" Kau masih sedih karena aku marah tadi? " Tanya Hanzel karena Lora masih tak bisa berhenti untuk menangis.


Lora menggeleng dengan cepat, lalu menyeka air matanya.


" Aku bukan sedih karena dimarahi olehmu, tapi aku sedih karena punggung tangan mu terluka gara-gara aku. "


Hanzel menghela nafas, sebenarnya dia sendiri juga sangat sedih melihat Lora bersedih. Tapi begitu mengetahui kalau Lora sedih karena dia terluka, rasanya Hanzel jadi merasa sangat berbunga-bunga tali juga merasa keheranan. Setelah selesai mengobati punggung tangan Hanzel, segera dia meraih tubuh Lora dan ia bawa kedalam pelukannya. Dia mencium penuh kasih di dahi Lora, juga mengusap kepalanya dengan lembut.


" Lora, bisakah memberikan janji padaku? "


" Janji apa? " Lora menatap Hanzel dengan tatapan penuh tanya.


" Berjanjilah apapun yang terjadi, utamakan untuk kita bisa bersama. Entah itu alasan terbaik untuk satu sama lain, tapi percayalah aku hanya akan baik bersama denganmu, kau juga begitu bukan? "


Lora terdiam, tapi dia mengeratkan pelukannya karena merasa ingin sekali melakukan apa yang dikatakan Hanzel. Jujur, di dalam hatinya masih merasa jika meninggalkan Hanzel adalah pilihan terbaik, tapi selama Hanzel masih menginginkannya untuk bersama, maka dia hanya akan memenuhi keinginan Hanzel itu.


" Ibuku pasti sedang sangat kacau makanya bisa mengatakan itu, tapi sebagai seorang suami dan anak aku hanya bisa memperjuangkan kalian berdua. Aku tetap ingin menyayangi Ibuku, dan aku juga ingin bersama denganmu melebihi yang kau pikirkan tentang rasaku padamu. "


***


Setelah kembali dari rumah Hanzel, Ibu Rose kini tengah duduk dipinggiran tempat tidur dengan tatapan sedih. Sungguh dia benar-benar tidak ingin kalau nanti Lora akan membuat Hanzel dalam kesakitan. Melihat tatapan Hanzel yang sangat putus asa tadi, rasanya dia sangat tidak tega dan menyesal karena meminta Lora untuk meninggalkan Hanzel.


" Tadi apa saja yang kau bicarakan dengan Lora? " Tanya Tuan Haris begitu membuka pintu kamar Ibu Rose.


" Tidak ada. " Jawab Ibu Rose dengan harapan pembicaraan itu tida berlanjut. Sungguh dia tidak ingin membuang waktu hanya untuk berdebat dengan Tuan Haris karena memang seperti itulah hubungan mereka selama ini.


Tuan Haris menatap kesal, tapi dia juga enggan untuk mengakhiri pembicaraan karena dia masih ingin tahu apa saja yang dibicarakan Ibu Rose dan Lora, karena jujur saja di dalam hatinya berharap Hanzel dan Lora berpisah agar dia memiliki kesempatan untuk menjerat Lora, lalu membelenggunya dengan uang yang ia miliki.


" Jangan berpikir kalau kau bisa menyembunyikan semua dariku, Rose. Kau tahu benar kalau aku bukan orang yang penyabar kan? Aku hanya ingin tahu saja, dan berharap Hanzel memilih jalan yang pantas untuk dia pilih. Bagaimanapun aku adalah Ayahnya, jadi tentu saja aku ingin yang terbaik untuknya juga. "


Ibu Rose membuang nafas kasarnya. Sebenarnya dia itu harus bagaimana menghadapi pria yang dulu sangat ia cintai itu. Semakin lama semakin menderita, juga semakin membuatnya merasa kalau Tuan Haris memang sudah kehilangan jati dirinya yang dulu kala itu.


Tuan Haris menghela nafas dan kembali menatap Ibu Rose dengan tatapan kesal. Sebenarnya dia sangat tidak ingin terus bersitegang dengan istri pertamanya itu, tapi mau bagaimana lagi? Hubungan mereka memang sudah tidak baik dari lama, mau berbicara dengan baik-baik juga sudah tidak mungkin.


" Kau terlalu memanjakan dia, membela terus menerus sehingga dia tumbuh menjadi pria yang sangat kasar kepada ku, padahal aku adalah Ayahnya, tapi lihatlah bagaimana dia memperlakukan ku, dia sama sekali tidak menganggap ku sebagai Ayah, dan terus memusuhi hanya karena hal sepele. "


Ibu Rose terdiam sebentar, lalu menatap Tuan Haris dengan tatapan jengah.


" Hal sepele yang kau maksud adalah hal memalukan bagiku, bagi Hanzel, dan juga seluruh dunia. Jadi berhentilah membela dirimu sendiri dengan kata-kata sok benar mu itu. "


Tuan Haris menghentakkan tongkat yang biasa ia gunakan untuk berjalan ke lantai dengan kuat, dia menatap Ibu Rose marah sebentar tak mengatakan apapun.


" Haris, beberapa waktu terakhir aku sudah sangat lelah. Tolong jangan membuat emosiku naik dan pada akhirnya kita harus bertengkar lagi-lagi. Aku sudah sangat tak memiliki tenaga, jadi keluarlah dari kamarku, dan kau bisa menemani dua istrimu yang lain. "


" Kau jangan lancang, ini juga adalah kamarku! Mau dimana aku tidur tentu saja itu terserah padaku! "


***


Resa terdiam di ujung ruangan dan terlihat sangat frustasi. Dia benar-benar seperti kehilangan segalanya dengan berada di sana. Enam orang yang berada disana, tapi lima perempuan yang juga di tahan disana, malah hampir setiap hari menindasnya. Entah apa yang dilakukan Resa seperti selalu salah di mata mereka, jadilah Resa hanya bisa meringkuk di ujung ruangan dengan perasaan tertekan.


Sebenarnya Resa juga tidak habis pikir dengan cara lima orang lainnya memperlakukan dirinya. Padahal jelas dia sama sekali tidak pernah membantah, dia melakukan apa yang diminta oleh mereka. Malam ini hanya karena Resa memijat agak kuat dia jadi mendapatkan pukulan hingga wajahnya tertinggal bekas warna biru dari lebam yang timbul. Entah kebetulan atau tidak, tapi selama berada di sana dia terus teringat dengan dia yang memperlakukan Lora selama ini. Menyesal? Tidak, karena kenyataannya Resa malah semakin mendendam dengan Lora, juga semakin berkeinginan untuk membalas dendam dengan brutal begitu dia keluar dari penjara.


" Hei, bodoh! " Panggil ketua dalam penjara itu.


" I iya? " Resa menelan salivanya, mencengkram kuat kain baju yang ia kenakan karena sungguh di merasa sangat takut dengan wanita itu.


" Pijat kakiku! "


Resa terdiam sebentar, tapi pada akhirnya dia beranjak juga untuk memijat kaki wanita itu.


Lora, aku akan membunuhmu mu!


Bersambung.