
Lora terdiam karena tidak tahu harus bicara apa. Sungguh dia mendengar semua yang orang sedang katakan tentang dirinya. Sejenak dia mencoba untuk memikirkan bagaimana caranya agar kabar ini berbalik, tapi seperti memakan buah simalakama, jika dia mejelaskan bahwa dia di lecehkan, itu juga menjelaskan bahwa dia sudah ternodai oleh Ayahnya Resa kan?
Lora mengarahkan pandangannya ke pada Resa yang nampak tersenyum seolah dia menang karena telah membuat Lora terdiam tak bicara sepatah katapun. Iya, memang benar, tapi apakah dia sama sekali tidak memiliki empati di dalam hatinya? Bukankah dia juga perempuan sama seperti dirinya? Lalu, apakah dia tidak berpikir bahwa dia juga telah mempermalukan Ayah kandungnya sendiri?
Tak mau lagi berada disana dan mendengar bisik-bisik orang yang terus membicarakannya, dengan segera Lora beranjak pergi. Tentu Lora bukan wanita tahan banting yang tak menangis, dia tetap menangis seraya melangkahkan kaki menuju kelasnya, berharap semoga ucapan Resa tidak membuat orang berpikir buruk tentang dirinya.
Lora benar-benar memfokuskan dirinya dengan materi yang di berikan dosen hari ini. Entah seberapa banyak pasang mata yang terus menatap mencuri pandang ke arahnya, tapi Lora masih bisa mencoba untuk kuat setidaknya sampai jam kuliah selesai. Istirahat pun Lora tidak berani ke kantin, dia tidak ingin mendengar kata-kata yang pada akhirnya akan memojokkan dirinya, membuatnya stres, atau apalah yang bisa membuatnya sedih.
Jam kuliah habis, saat berjalan menuju pintu gerbang juga tak henti-hentinya semua mata terarah padanya, sembari berbisik. Jelas Lora bisa merasakan itu, hingga sampailah dia di gerbang kampus, disana ada Alexander, juga Arlando yang baru akan masuk ke dalam mobil. Lora tak mau menatap ke arah mereka, karena dia memiliki firasat jika ujungnya mereka hanya akan menatap Lora sama seperti tatapan orang kepadanya saat ini.
" Lora? " Sapa Alexander, tapi Arlando segera menyentuh pundak kakaknya agar tak bicara lagi. Benar kan? Batin Lora yang sudah memukul rata bahwa semua orang memang sama seperti yang dia pikirkan.
Lora terdiam menunggu Hanzel datang menjemputnya. Pasti tidak akan lama, karena Hanzel memang selalu tepat waktu, tapi entah kenapa sudah sepuluh menit, mungkin juga lebih Lora berdiri di sana dan Hanzel belum juga datang. Yang sekarang berkerumun untuk melihat Lora, lalu menggunjing juga sudah banyak, bahkan mereka terang-terangan menyindir sembari melirik tajam. Iya, tentu itu adalah hal yang wajar kalau gosip secepat ini menyebar karena Lora sangat terkenal akhir-akhir ini, jadi semua orang dengan mudah mengenalinya.
Nora yang baru keluar dari kampus hanya bisa terdiam melihat banyaknya orang menatap Lora sinis.
" Dasar tidak tahu malu, masih kecil saja sudah berani menggoda Ayah angkatnya. Mentang-mentang sekarang sudah terkenal dan banyak uang, dia seenaknya saja memenjarakan orang yang sudah membantu membesarkannya. Apa tidak punya otak sedikitpun? Apakah karena dia cantik jadi bisa bersikap seenaknya? Cih! Seterkenal apapun dia, najis sekali kalau harus mengidolakan dia? "
Nora menatap kaget ucapan mahasiswi yang ada di dekatnya, lalu menatap Lora yang nampak sangat tertekan tapi mencoba untuk tenang.
" Hanya mengandalkan wajah cantik mana cukup? Setidaknya harus punya otak kan? "
Nora menoleh ke arah mahasiswi itu dengan tatapan marah. Sungguh dia tidak terima saat ada yang menggunjing saudari kembarnya, tapi dia juga tidak bisa mengatakan apapun karena memang tidak mengetahui apapun tentang Lora.
" Nora! Kau sudah mau pulang kan? " Tanya Arlando setelah menggerakkan tangan untuk membuat Nora menoleh padanya yang masih menunggu bersama dengan Alexander.
Nora tersenyum lalu mengangguk.
" Kalian lebih baik jangan asal bicara, sekarang sangat mudah memenjarakan orang. Yang kalian bicarakan tadi kan belum tentu benar, kalian pasti akan di penjara kalau sampai omong kosong. " Ucap Nora dan sontak membuat mereka semua diam.
Lora, gadis itu samar-samar mendengar Nora bicara. Marah, dia sangat marah sampai tidak tahan untuk menangis tanpa suara. Bibirnya bergetar, tangannya mengepal kuat karena pembelaan dari Nora serasa membuatnya seperti tersiram alkohol di kulit yang terbuka akibat sayatan benda tajam. Sungguh dia tidak menginginkan pembelaan apapun dari Nora, dia tidak membutuhkan apapun, yah dia inginkan adalah cukup saja mereka diam dan membatin jika ingin mengumpatnya.
" Nora, kau akan pergi berkencan lagi dengan kakak? " Tanya Arlando saat Nora sudah sampai di dekat mereka, tak jauh dari Lora berdiri dengan tubuh gemetar dan mata yang meneteskan air mata. Nora melihat itu, air mata yang turun dari mata Lora meski hanya terlihat dari arah samping.
Tak lama sebuah mobil berhenti tepat di depan Lora. Dia adalah Hanzel, dengan segera dia keluar dari mobil dan menghampiri Lora untuk dia peluk dengan erat. Tahu, dia sudah mendengar semua itu dari sahabatnya yang bekerja sebagai dosen disana. Memang sih belum terlalu jelas bagaimana kronologinya, tapi jelas dia tahu bahwa Lora sangat hancur sekarang ini.
Lora yang mendapatkan pelukan dari Hanzel tak kuasa menahan tangis seolah Hanzel berkata bahwa semua akan baik-baik saja, dan menangis saja kalau memang ingin menangis. Cukup lama mereka berpelukan dan Lora menangis di pelukan Hanzel membuat semata mata menatap tak percaya.
Nora, gadis itu entah mengapa seperti merasakan sesuatu di dalam hatinya yang tak bisa dia jelaskan. Rasanya dia begitu berdebar melihat Lora menangis sampai seperti itu, entah apakah dia kasihan, ataukah dia cemburu dengan perlakuan pria tampan yang memeluk Lora atau bukan, intinya ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Hanzel mengurai pelukannya, dia menatap Lora seraya tersenyum seolah ingin menguatkan.
" Hei, ada aku. Aku disini, aku tahu semuanya yang mereka tidak tahu, itu sudah cukup bukan? "
Lora mengangguk, sedangkan Hanzel kini tengah menyeka air mata Lora, barulah setelah itu dia membawa Lora untuk masuk ke dalam mobilnya.
" Aku pikir Lora adalah anak orang paling kaya di kampung, ternyata itu pacarnya yang kaya? " Ujar Arlando.
Nora tak bicara, sama seperti Alexander yang tak juga bicara dan hanya bisa membatin di dalam hati. Entah pemikiran dari mana, tapi Alexander merasa tidak percaya dengan gosip yang beredar dengan cepat di kampus seperti yang diceritakan Arlando padanya. Saat menatap mata Lora dengan lekat, dia hanya bisa melihat banyaknya kesedihan, dia juga melihat pelipisnya ada bekas luka robek. Jemari Lora juga ada beberapa bekas luka, di bagian lengan juga ada. Lora malah nampak seperti gadis malang yang sedang menyembunyikan kesedihannya dengan pribadi baru yang seperti bukan dirinya sendiri.
Bersambung.