Little Wife

Little Wife
BAB 69



Lora terdiam di pinggiran tempat tidur, setelah bertemu dengan Nora dan bicara, dia benar-benar tidak bisa tidur sama sekali. Padahal dia tidak ingin perduli dengan Nora, padahal dia ingin membalas dengan hidup sebagian dan sebahagia mungkin, tapi kenapa semua menjadi seperti ini? Nora ternyata mengidap penyakit kelenjar getah bening, lalu Ayahnya juga mengalami amnesia parah yang kalau berusaha mengingat masa lalu akan merasakan sakit luar biasa di kepalanya, bahkan bisa jadi kehilangan nyawa.


Perasaan marah itu kini berubah menjadi perasaan sedih. Haris bagaimana? Padahal dia ingin terus membenci Nora dan Ayahnya, tapi kenyataannya Nora juga tidak hidup sebahagia yang ia lihat melalui media sosialnya. Grep! Lora mencengkram kuat pinggiran tempat tidur dengan perasaan bimbang.


" Temui saja dia lagi, sayang. " Ucap Hanzel yang sontak membuat Lora berbalik karena terkejut, ternyata Hanzel memperhatikannya, Lora pikir Hanzel sudah benar-benar tidur saat dia bangkit tadi.


" Sayang? Kau kenapa jadi terbangun? " Tanya Lora.


Hanzel menghela nafas, dia mengambil posisi duduk, lalu mengusap kepala Lora dengan lembut. Iya, dia hanya berpura-pura tidur karena dia juga tidak bisa tidur begitu saja saat istrinya tidak bisa tidur. Setelah bertemu dengan Nora tadi, Lora benar-benar banyak sekali melamun, bahkan Hanzel harus mengatakan kalimat yang sama berulang kali karena Lora tidak fokus dan lebih banyak melamun.


" Sayang, per adalah padaku, akan lebih baik jika kau menemuinya lagi, kau tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, dengan begitu kau akan merasa lega. Dia itu adalah saudari kembar mu, aku yakin dia juga tidak berniat menyakitimu. Cobalah untuk bicara dari hati ke hati, buang dulu kemarahan mu, aku jamin setelah itu kau tidak akan bimbang dan yakin dengan pilihan mu serta tindakan apa yang akan kau ambil nanti. "


Lora terdiam sebentar, kemudian dia mengangguk setuju karena sepertinya apa yang dikatakan Hanzel benar-benar sangat masuk akal, toh selama ini Hanzel selalu mengutamakan Lora dulu kan?


Lora beringsut masuk ke dalam pelukan Hanzel, sungguh dia tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada Hanzel di dalam hidupnya. Ribuan, bahkan jutaan terimakasih sepertinya juga tidak akan cukup mewakili betapa Lora merasa beruntung karena Hanzel bersedia memberinya tempat di dalam hati meski awalnya mustahil untuk bisa saling jatuh cinta.


Setelah beberapa saat, Lora membuka akun media sosialnya, lalu dia melihat pesan dari Nora yang banyak sekali. Muka dari menanyakan kabar, menyodorkan diri untuk membantu tentang masalah kemarin, bahkan dia juga bersedia kalau harus membuat kesaksian palsu, Nora juga mengajaknya bertemu, mengirimkan photo keluarganya yang ia simpan di dompet dengan keterangan rindu.


Rasanya kebencian terhadap Nora kini sudah tak ia rasakan lagi, mengingat Nora yang sedang sakit kanker juga membuat hatinya berdenyut sakit tak bisa menerima. Segera Lora mengirimkan pesan untuknya mengajak bertemu lagi. Setelah mengirimkan pesan, Lora menjauhkan ponselnya, dia kembali merebahkan dirinya di samping Hanzel karena tidak ingin kekurangan tidur agar besok bisa segar saat bertemu dengan Nora.


***


Nora yang belum juga bisa tidur kini tersenyum bahagia melihat pesan yang dikirimkan oleh Lora. Sebenarnya setelah bertemu dengan Lora dia demam tinggi, tapi untunglah ada Indah yang membantunya dan merawatnya sehingga demamnya bisa di atasi.


" Nora, lebih baik kau tidur sekarang ya? Sepertinya kau sangat lelah deh. Beberapa bukan terakhir ini kau sering kali mendadak demam, kadang juga bisa sampai tiga puluh sembilan sampai empat puluh derajat Celsius. Kau pasti sangat kelelahan, jadi gunakan saja waktu ini sebagai liburan dan perbanyak istirahat. "


Nora tersenyum saja, sampai detik ini dia tidak memberitahu siapapun tentang sakit yang ia derita. Kenapa? Karena dia merasa tidak yakin akan percaya kepada orang lain, sementara kalau dengan Ayahnya dia merasa tidak tega harus memberikan kabar tidak enak ini. Biarlah saja sakit itu dia tanggung sendiri, dia tidak terbebani karena kalau boleh jujur, dia amanat lelah menjalani kehidupan yang sama sekali tak sekalipun memberikannya kenyamanan dan juga kebahagiaan yang dia inginkan. Tapi sekarang Lora sudah tahu, jadi kalaupun nanti harus mati, setidaknya dia bisa mati dengan damai.


" Nora, aku agak curiga dengan kondisi tubuhmu, bagaimana pulang dari Bali kita periksa kesehatan? Sudah beberapa bulan aku tidak melihat hasil tes kesehatanmu, apa kau lupa memeriksakan diri beberapa bulan terakhir ini? "


Nora menghela nafasnya, dia tersenyum seraya menjauhkan ponselnya, itu juga dalam keadaan sudah membalas pesan dari Lora. Dia merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang dengan sebagian tubuhnya tertutupi selimut tebal.


Indah terdiam dengan pikiran yang menebak-nebak tak karuan. Sebenarnya bukan sekali dua kali dia mendengar Nora membicarakan soal kematian, padahal sebelumnya Nora sangat bersemangat, dia juga sering kali mengatakan jika dia harus tetap sehat agar bisa selalu bersama dengan Ayahnya. Apa ini? Apakah terjadi sesuatu yang tidak diketahui?


" Nora entah kau menyembunyikan apa dariku, percayalah bahwa aku adalah orang yang menyayangimu dengan tulus. Aku berharap kau akan baik-baik saja, dan hidup bahagia seperti yang kau inginkan. Tolong jangan menyerah apapun yang terjadi, sesulit apapun keadaannya, aku akan datang di saat kau membutuhkan ku. "


Nora memiringkan tubuhnya membelakangi Indah. Dia menitihkan air mata karena tidak tahan mendengar kalimat Indah yang begitu menyentuh dan penuh kasih.


" Terimakasih kak, bagiamana aku tidak bahagia memilikimu yang begitu baik ini? " Ucap Nora setelah menyeka air matanya.


Indah terdiam dan merasakan keyakinan sangat dengan dugaannya bahwa ada yang tidak beres dengan Nora.


Pagi hari.


Nora dan Lora kini bertemu di restauran kemarin mereka bertemu. Nora rupanya sudah datang lebih dengan kaca mata hitam, topi, dan juga masker penutup wajah.


" Apa kau sudah menjalani pengobatan? " Tanya Lora.


Nora tersenyum, lalu menggeleng. Sebenarnya kalau boleh jujur dia juga sangat tersiksa dengan kondisi tubuhnya yang semakin menurun. Kesibukannya juga semakin membuat tubuhnya drop, tapi karena harus menyembunyikan itu, Nora sebisa mungkin mencoba sekuat tenaga untuk menjalani aktifitas hariannya seperti biasa.


" Kenapa? Kau kan harus menemani Ayah? Kenapa kau tidak menjalani pengobatan? " Lora menatap dengan tatapan marah, tapi juga terlihat sangat khawatir.


" Karena aku lelah, Lora. Aku lelah dengan hidup ku yang sangat menguras energi batinku. Aku sangat ingin berhenti, tapi kalau tidak mati aku tidak memiliki pilihan itu. "


Lora terdiam sebentar, dia tak tahan untuk menangis seolah dia merasakan apa yang dirasakan oleh Nora.


" Kau harus sembuh, barulah aku bisa memaafkan mu! "


Bersambung.