Little Wife

Little Wife
BAB 13



Di sebuah ruangan, tempat para anggota menikmati makan malam mereka. Disana lengkap sudah semua berkumpul, ada Ibu Rose, Tuan Haris, ada istri kedua, dan ketiga. Hebat kan? Hebat atau apa namanya juga tidak tahu, usia Tuan Haris sudah lebih dari lima puluh tahun, tapi keinginan tentang mengoleksi istri sepertinya belum akan berhenti sampai disini saja.


Tidak tahu jurus apa yang dimilik oleh Tuan Haris sehingga bisa mengurus tiga istri dalam satu atap, apalagi mereka bertiga sangat cantik, dan dua di antaranya masih terlihat muda. Kalau Lora prediksi, mungkin seumuran dengan Hanzel, dan yang satu lagi bernama Lina itu seperti berumur dua puluh lima atau lebih pokoknya masih terlihat muda.


" Hanzel, kenapa kau meninggalkan desa? Bukankah kebun teh disana juga harus kau perhatikan dengan benar? " Tanya Tuan Haris ditengah kegiatan makannya.


" Ada orang yang mengawasi, aku juga akan kesana tiap bulan. " Jawab Hanzel.


Tuan Haris menghela nafas karena kesal, padahal dia sengaja meminta Hanzel untuk terus berada disana agar Hanzel kesulitan ekonomi, lalu meminta bantuan padanya, barulah setelah itu dia akan meminta Lora sebagai bahan pertukaran, lalu menyimpan Lora di tempat lain agar tidak diketahui ketiga istrinya, lalu dia akan sering mendatangi Lora dengan alasan pekerjaan.


Tatapan Tuan Haris rupanya sering kali Hanzel lihat begitu jelas ke arah Lora, dan tentu saja selain membuatnya kesal, Lora juga jadi tak berani melihat ke arah lain selian ke piringnya. Hanzel meletakkan sendok dan garpu nya, lalu menatap Lora yang duduk di sampingnya.


Hanzel mengeryit bingung, rupanya steak di piring Lora sama sekali belum dia makan. Apakah karena dia takut di tatap terus menerus oleh Ayahnya. Sudahlah, dibanding memikirkan itu, lebih baik biarkan Lora makan dengan benar karena beberapa saat lalu mereka kan sudah mengeluarkan banyak tenaga.


" Kenapa kau tidak memakan makanan mu? " Tanya Hanzel.


Lora tersenyum sembari menatap pisau dan juga garpu di tangannya.


" Aku sudah berusaha meniru kalian, tapi aku tetap tidak bisa memotong dagingnya. " Ucap Lora dengan wajah bersemu merah karena malu. Maklum saja, sebelumnya dia kak memang tidak pernah memakan steak, dan juga dia selalu menggunakan tangan sebagai alat untuk menyiapkan nasi ke mulutnya.


Hanzel menghela nafasnya, lalu meraih piring Lora dan memotong menjadi beberapa bagian daging steak di piring Lora, lalu mengembalikan kepada Lora.


" Makanlah. "


Mungkin apa yang dilakukan Hanzel adalah hal yang lumrah, tapi bagi Lora, itu seperti memperlakukannya bagai orang yang penting karena sebelumnya dia sama sekali tidak pernah mendapatkan perhatian sebaik ini dari orang lain.


" Terimakasih. " Ucap Lora seraya menerima piringnya.


" Simpan saja terimakasih mu, lakukan dengan cara yang lain nanti. "


Baru saja selesai bicara, rupanya Lora salah mengartikan dan langsung saja mencium pipi Hanzel di depan semua orang. Padahal perlakuan Hanzel yang begitu perhatian sudah cukup membuat mereka semua tercengang, dan sekarang ditambah Lora menciumnya seolah itu adalah hal biasa bagi mereka.


Hanzel menelan salivanya, lalu menatap cepat satu persatu orang yang kini menatap mereka dengan tatapan kaget. Tapi ya sudahlah, mau di apakah lagi kalau sudah terjadi, toh mereka adalah suami istri, melakukan cium pipi seperti ini bukanlah hal yang aneh.


Tuan Haris, pria itu semakin menatap tajam menunjukkan ketidaksukaannya kepada Hanzel dan Lora. Sementara para istri muda hanya bisa terdiam karena tak berani berkomentar. Sedangkan Ibu Rose, dia tersenyum karena bahagia dengan kehidupan rumah tangga putranya yang sepertinya baik-baik saja malah harmonis sekali yang ia lihat hari ini.


Wanita yang menyambut Hanzel dan Lora beberapa saat lalu boleh saja tak bicara, tapi tatapan yang jelas menunjukkan kecemburuan juga tak bisa ia tutupi. Sebentar dia menenangkan pikirannya, lalu dia coba untuk menggoda Hanzel dengan mengelus kaki Hanzel menggunakan kakinya. Tentu saja Hanzel merasakan itu, dan dia tahu siapa yang melakukannya. Dia adalah Velove, atau biasa di panggil Velo. Dia adalah mantan kekasih Hanzel yang entah bagaimana bisa menjadi istri kedua Tuan Haris. Merasa kalau Hanzel mengabaikannya, dia berpura-pura menjatuhkan satu sendirinya sehingga dia memiliki alasan untuk menunduk dan memastikan bahwa kaki yang dia usap tadi adalah Hanzel meski dia yakin karena mereka duduk persis berhadapan. Setelah merasa yakin, Velo kembali menjalankan kakinya dan mengusap lebih dalam lagi, yaitu ke paha Hanzel.


" Lora, kalau sudah selsai kita langsung pulang ya? " Lora mengangguk setuju. Sebenarnya Hanzel ingin sekali menepis kaki Velo, tapi karena posisi mereka masih berada di tengah-tengah keluarga, dia masih mencoba menahannya meski rahangnya mulai mengeras.


Sebentar Hanzel menatap Velo dengan dahi sedikit mengeryit dan tatapan tajam, tapi sepertinya Velo sengaja karena dia malah tersenyum tipis. Hanzel membuang nafas kasarnya, menggerakkan tangannya untuk turun kebawah, lalu menyentuh paha Lora. Tentu saja si pemilik terkejut dan langsung menatap Hanzel penuh tanya.


" Minum dulu. " Ucap Hanzel karena dia tahu jika Lora belum meminum air miliknya.


" Sudah. " Ucap Lora setelah menenggak separuh dari air yang terisi penuh di gelas tersebut.


" Kita pulang sekarang. " Ajak Hanzel, tapi segera dicegah oleh Ibu Rose.


Tadinya Hanzel ingin menolak, tapi melihat tatapan Ibunya yang begitu berharap, dia menjadi tak tega dan mengiyakan saja.


" Kalau begitu aku dan Lora ke kamar duluan ya Bu? Seharian ini aku sudah sangat lelah sekali, aku butuh istirahat secepatnya. "


Ibu Rose tersenyum dan mengangguk.


" Kemarin saat kau mengabari kalau sudah menikah, Ibu sudah membelikan beberapa baju tidur untuk istrimu untuk berjaga-jaga kalau dia menginap disini. Bajunya sudah ada di lemari, jadi kalian bisa langsung istirahat saja. "


Hanzel dan Lora tersenyum kepada Ibu Rose, lalu Hanzel mendekat padanya untuk mencium kening Ibunya.


" Terimakasih, Ibu. "


" Sama-sama. "


Tak berpamitan dengan yang lain, Hanzel langsung membawa Lora ke kamar lamanya. Sementara Tuan Haris menjadi semakin tak suka dengan Hanzel karena masih menganggap kalau Hanzel telah merebut calon istrinya. Velo, dia juga semakin cemburu dan menjadi memiliki niat yang tidak baik.


Sesampainya di kamar.


" Tuan mau mandi lagi? " Tanya Lora saat melihat Hanzel mulai membuka pakaiannya.


" Tidak, aku sudah sangat mengantuk. "


Lora mengangguk, lalu ikut mendekati lemari untuk mengambil baju ganti.


" Kenapa pakaiannya seperti ini? " Lora menatap kaget pakaian yang disediakan Ibu mertuanya. Hah! Sangat terbuka sekali! Bukan lingerie sih, tapi dress tidur sepaha, lalu atasnya hanya berubah tali kecil.


Hanzel tersenyum tipis.


" Hanya ada aku yang akan melihat, malu dengan siapa? "


Lora menelan salivanya dan mulai bergerak untuk segera menanggalkan seluruh pakaiannya. Masa bodoh saja tidak usah ke kamar mandi, toh Hanzel juga sudah sangat hapal bentuk tubuhnya.


Grep!


" Ah, Tuan! " Kaget Lora saat Hanzel merengkuh tubuhnya dan menjauhkan baju tidur yang akan dikenakan Lora. Lalu mulai menyatukan bibir mereka.


" Tuan, tapi anda bilang kan lelah. "


" Aku bilang lelah bekerja, bukan lelah melakukan ini. "


Gila! Kakiku saja masih gemetar, apa harus lagi?


Bersambung.