
Lora bangkit perlahan setelah menyingkirkan kaki dan tangan Hanzel yang menimpa tubuhnya. Setelah berada di posisi duduk, Lora menyengir merasakan sakit dan pegal di punggungnya. Setelah beberapa saat mereka saling menyatakan perasaan dan keinginan masing-masing, Hanzel benar-benar menyerangnya tanpa ampun. Entah sudah berapa banyak gaya yang digunakan, miring ke kanan, ke kiri, begini begitu semua sepertinya sudah mereka coba. Ah, tapi tidak apa-apa, karena Lora sekarang sedang tersenyum bahagia mengingat bahwa hubungannya dengan Hanzel akan semakin mesra kedepannya.
Setelah cukup lama duduk untuk mengurangi rasa pegal di punggungnya, segera Lora bangkit dari tempat tidur untuk ke dapur. Maklum saja, setelah beberapa saat melakukan hubungan suami istri dia menahan diri untuk tidak minum padahal sangat haus, dan sekarang Hanzel sudah nyenyak jadi dia bisa pergi ke dapur untuk menyiram kerongkongan nya yang sudah sangat kering kerontang.
" Ah! " Lora tersenyum puas setelah segelas air putih dingin masuk ke perutnya, dan jelas sudah mengobati rasa hausnya. Ita yang sedari tadi melihat Lora hanya bisa tersenyum tanpa suara, rasanya sangat senang melihat Lora dan Hanzel mesra lagi. Ah, bahkan saat kembali tadi, Lora dan Hanzel terlihat lebih mesra dari biasanya.
" Ehem! "
Lora terperanjak dan segera berbalik untuk melihat siapa yang baru saja berdehem.
" Kak Ita? "
Ita tersenyum, lalu berjalan mendekati Lora.
" Bagaimana? "
Lora tersenyum dengan pipi yang bersemu merah. Iya, tentu Ita bisa melihat itu, dan jelas dia bisa menebak apa yang terjadi di antara Lora dan Hanzel.
" Terimakasih ya kak Ita, berkat mu aku masih bisa menjaga hubunganku dengan Hanzel. Aku sempat takut sekali saat di jalan menemui Hanzel, dan sekarang aku sudah sangat lega. "
Ita menghela nafas, dia megambil gelas dari tangan Lora dan menuangkan air untuknya minum.
" Lora, aku tidak tahu seberapa besar masalahmu, tapi aku perduli bagaimana kalian saling mencintai tanpa pengakuan. Tuan Hanzel sering kali menatapnya dengan lembut dan jelas terlihat dia mencintaimu. Kau juga mencintai Tuan Hanzel kan? " Ita menjeda ucapannya karena dia tengah meminum air di dalam gelasnya.
" Lora, aku ingat benar bagaimana keadaanmu saat kita bertemu pertama kali. Kau seperti seorang gadis yang dikutuk dengan jutaan penderitaan, jujur aku sangat kasihan, aku juga mendoakan agar Tuan Hanzel melepaskan mu dan membiarkan mu hidup sesukamu. Tapi, seiring berjalannya waktu aku melihat cinta yang sesungguhnya dari matamu untuk Tuan Hanzel, begitu juga dengan Tuan Hanzel sendiri. Kalian dua orang yang saling mencintai, jadi untuk apa memilih jalan yang sulit kalau pada akhirnya akan sedih juga kalau berpisah? Tuan Hanzel mungkin akan mendukung mu karena dia mencintaimu, dan mungkin karena dia tahu bagaimana kehidupan mu di masa lalu, tapi sebagai seorang kakak seperti anggapan mu, aku menyarankan untuk memegang erat tangan Tuan Hanzel, kau hanya perlu bahagia, ukir senyum indah mu, berbahagia sampai kau mampu menertawakan kesedihan mu di masa lalu. "
Lora tersenyum lalu mengangguk, nasehat untuk hidup bahagia sebagai upaya balas dendam juga sudah dikatakan Ita sebelum Lora memasuki mobil taksi saat akan menemui Hanzel tadi. Sekarang dia mendapatkan nasehat dari Ita yang sudah dia anggap sebagai kakak rasanya pemikirannya begitu terbuka dan mulai paham tentang balas dendamnya.
" Kak Ita, terimakasih untuk semua nasehat yang kau berikan. Jika tidak ada kak Ita, mungkin aku hanya akan menjadi Lora yang pengecut dan bodoh. "
Ita tersenyum, lalu menepuk pundak Lora dengan pelan.
Setelah berbicara dengan Ita, Lora kembali ke kamarnya. Sebentar dia mematung menatap Hanzel yang masih terlelap dibatas tempat tidur dengan nyaman. Lora tersenyum, di dalam hati mengucap syukur karena masih bisa mempertahankan Hanzel. Segera dia membuang nafas kasarnya, lalu beringsut masuk ke atas tempat tidur dan memeluk Hanzel untuk kembali masuk ke dunia mimpi.
Pagi Harinya.
Seperti biasa, setelah sarapan bersama, Hanzel mengantarkan Lora ke kampus. Tak seperti biasa karena mencium Hanzel dengan kaku meski dia tersenyum, nyatanya dua orang itu saling mendekat seakan enggan untuk berpisah.
" Masuklah, aku jadi sulit menahan diri kalau begini. " Ujar Hanzel setelah mereka selesai berciuman. Lora tersenyum, lalu mengangguk. Sebelum keluar dia berkaca dulu karena malu juga kalau lipstiknya berantakan, setelah itu barulah Lora keluar dari mobil, melambaikan tangan sampai mobil yang Hanzel kendarai tak lagi terlihat.
Begitu sampai di kampus, Lora langsung di datangi oleh Resa.
" Rupa-rupanya kau semakin mesra saja ya? Sudah berhenti lama mobilnya tapi belum juga keluar. Kau habis melakukan apa? " Resa tersenyum dengan seringainya yang jelas sekali terbaca kalau dia sedang mengejek.
" Apa mau mu? " Lora langsung saja pada intinya, bukan marah, tapi dia muak dengan Resa. Sedari awal dia bertemu dengan Resa, gadis itu hanya tahu menghinanya dan merendahkan semaunya. Padahal kalau di pikirkan lagi, bagian mana yang lebih dari Lora? Fisik jelas Lora berada di paling depan, sikap juga jelas Lora memiliki sikap yang baik, lalu dari mana asal keberanian itu untuk selalu merendahkannya?
Resa menatap kesal, sebentar dia membuang nafas, melipat kedua lengannya untuk dia letakkan di dada dengan tatapan sok berani.
" Mau ku adalah, kau menghilang dari muka bumi ini. "
Lora mengepalkan tangannya menahan marah, juga kesedihan. Padahal dia tidak melakukan apapun yang membuat Resa begitu membencinya, tapi pada akhirnya gadis itu malah semakin menjadi dengan persepsinya sendiri.
" Mintalah kepada Tuhan, dia yang memiliki kehidupan, dia yang berhak atas nyawaku. "
Resa mengigit bibir bawahnya menahan kesal. Jujur dia tidak bisa menahan lagi minat Lora yang begitu sukses. Jelas dia tahu kalau Lora menjadi model di salah satu minuman teh kemasan yang banyak diminati, Lora juga membintangi iklan makanan ringan yang sekarang ini sudah banyak beredar di pasaran. Belum lagi hubungannya dengan Hanzel yang sampai detik ini masih mesra, dia jadi tambah tak suka. Bukan tanpa sumber dia tahu, itu semua karena satu unggahan Lora yang mengunggah photo Hanzel dengan keterangan Love. Benar sih, wajah Hanzel di tutupi dengan stiker, tapi tetap saja Resa tahu siapa pria itu.
" Apa kau tidak malu hah?! Kau menggoda Ayahku, bukan sekali dua kali. Kau juga memenjarakannya untuk membersihkan namamu, dan kau juga merebut calon suamiku! " Kini semua mahasiswa yang ada disana menatap ke arah Resa dan juga Lora. Hampir dari semua yang melihat dan mendengar jadi bergosip sesuka hati mereka.
Bersambung.