Little Wife

Little Wife
BAB 57



Setelah mengantarkan Lora dan Ita, Hanzel pergi lagi untuk menemui Roni yang jelas sudah menunggunya karena dia tadi benar-benar terburu-buru mengantar calon tunangannya untuk pulang ke rumah. Seperti biasa, bar adalah tempat mereka untuk bertemu sembari menikmati minuman beralkohol favorit mereka. Roni sudah berada disana, sepertinya juga sudah minum beberapa gelas karena tak sabar menunggu Hanzel untuk datang menemuinya.


" Ron? " Hanzel duduk di sebelah Roni, lalu memesan minuman untuknya. Roni, pria itu menoleh dengan tatapan yang terlihat kesal.


" Sejak kapan, Hanzel? "


Hanzel terdiam sembari menghela nafas panjang. Tentu dia paham sekali apa maksud dari pertanyaan Roni barusan. Sebenarnya dia juga merasa bersalah selama ini telah membantu Ita bersembunyi dari Roni dan keluarganya. Tapi bagaimana lagi? Ita yang saat itu menangis tersedu-sedu hanya bisa memohon untuk ikut dengannya dan biarkan dia bekerja di rumah Hanzel agar tidak akan ada yang menyangka. Memang Roni pernah datang ke rumahnya beberapa kali, tapi setiap kali Roni datang, Ita akan berada terus di dalam kamar sampai Roni pulang.


" Sejak lama, Ron. "


Roni yang kesal dengan jawaban Hanzel meraih kerah kemeja Hanzel, lalu mencengkram nya dengan kuat. Marah, juga merasa dikhianati, seperti itulah yang dirasakan oleh Roni. Padahal dia sudah mencari keberadaan Ita selama dua tahun setelah kepergian Ita seperti orang gila. Tapi ternyata, Hanzel malah membantu Ita bersembunyi. Padahal jelas Hanzel adalah sahabatnya kan?


" Kenapa kau melakukan ini, Hanzel?! "


Hanzel menghela nafas, lalu meraih tangan Roni dan menjauhkan darinya.


" Awalnya aku juga tidak ingin melakukan itu, Ron. Tapi Ita memaksaku dan memohon dengan menangis seperti sangat putus asa, laku aku bisa apa? "


" Ita? Kenapa kau memanggilnya Ita? " Tanya Roni bingung.


" Dia tidak ingin mengingat nama Prita meskipun itu jelas adalah namanya sendiri. Mungkin dia merasa sedih hanya karena mengingat namanya adalah Prita. "


Roni mengusap wajahnya dengan kasar.


" Kenapa dia malah memilih untuk bersembunyi dariku? Lalu apa saja yang dilakukan selama ini? "


Hanzel terdiam sebentar karena tak tahu dari mana dia akan menjelaskan.


" Hanzel, jawablah pertanyaan ku ini. Aku hanya ingin tahu apa saja yang dia lakukan selama lima tahun terakhir ini. "


" Dia bekerja di rumahku. "


" Apa? " Roni menatap pilu mendengar ucapan Hanzel barusan.


" Jangan salah paham. Aku tentu saja sudah menawarkan banyak sekali pekerjaan yang lebih baik, tapi dia mengatakan berkali-kali jika hanya ingin berada di satu tempat yaitu rumahku sebagai pembantu saja. Dia bilang dengan begitu dia bisa melupakan semuanya, dan dia juga bilang tidak ingin bertemu dengan mu, keluargamu, atau pun keluarganya. Ron, aku memang tidak begitu dekat dengan Ita meski kita tinggal satu rumah, tapi aku bisa melihat betapa sedihnya dia karena pernikahan kalian dulu benar-benar membuatnya sangat trauma, Ron. "


Roni terdiam dengan mata memerah menahan tangis. Semua memang sudah berlalu, sudah lima tahun dan dia sama sekali masih terus mengingat Ita di dalam hatinya.


" Aku tahu dan aku sadar aku adalah orang yang paling besar kesalahannya. Saat itu usiaku ku masih muda, aku terllau gegabah dan tergoda dengan wanita lain, padahal aku sudah berjanji akan menjadikan Prita sebagai wanita satu-satunya dan memperlakukannya seperti seorang putri. Aku gagal memenuhi janjiku, aku gagal hanya karena omongan orang yang terus bertanya kenapa aku menikahi wanita yang usianya lima tahun lebih tua dariku. Aku benar-benar bodoh sekali waktu itu. "


Hanzel menghela nafas, lalu menenggak minumannya.


" Dari awal sudah ku beri tahu kan? Kalau ingin bermain-main, setidaknya carilah partner yang memiliki niat sama. Tali akan lebih baik lagi kalau kau tidak pernah main-main dengan wanita. Wanita itu bukan mainan, Ron. "


Lora duduk di ruang tamu karena Tuan Haris, Velo, dan juga Ibu Rose datang kerumahnya. Tadinya Lora ingin menghubungi Hanzel, tapi Tuan Haris melotot tajam dan melarangnya untuk menghubungi Hanzel.


" Berita yang beredar itu, apakah benar? " Tanya Tuan Haris dengan tatapan marah. Sungguh sangat berbeda dengan sebelumnya, karena sebelumya kan Tuan Haris seperti memiliki keinginan saat menatapnya. Velo juga tak berhenti tersenyum puas dan mengejek. Semetara Ibu Rose, dia memilih diam karena tidak tahu harus berkata apa.


Lora, dia hanya bisa meremas jemarinya. Sungguh dia tidak tahu harus mengiyakan atau mengatakan tidak. Tapi mengingat kalau kebohongan adalah senjata yang akan menghancurkan dirinya sendiri di kemudian hari, maka Lora memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu dengan jujur.


" Sebenarnya, semua buktinya sudah diserahkan ke kantor polisi, tuduhan itu jelas tidak benar, Ayah mertua. "


Tuan Haris menghela nafas, sepertinya bukan itu jawaban yang dia inginkan.


" Apa kau benar sudah di nodai oleh Ayah angkat mu? "


Deg!


Lora menelan salivanya, dia menunduk karena tidak sanggup mengiyakan pertanyaan Ayah mertuanya itu.


" Babe, tidak usah bertanya lagi, lihat tuh! Dia menunduk seperti itu, ya jelas saja jawabannya adalah iya. " Ujar Velo menimpali dengan tatapan mengejek.


Tuan Haris menghela nafasnya lagi, kali ini dia terus menatap Lora dengan tatapan yang tak terbaca apa maksudnya.


" Minta Hanzel untuk menceraikan mu! Dengan kebenaran seperti itu, kau sama halnya seperti aib bagi keluargaku. "


Lora mencengkram kain bajunya dengan mata yang sudah dipenuhi air mata. Kenapa? Padahal semua itu juga bukan keinginannya, kenapa dia harus disalahkan seperti ini? Bukannya jelas dia adalah korban yang sesungguhnya? Bahkan hukum juga bisa melihatnya, lalu kenapa masih tidak bisa diterima dan dia di anggap aib?


" Ayah mertua, aku minta maaf untuk masa lalu melakukan itu. Tapi aku tidak ingin berpisah dengan Hanzel, aku amanat mencintai Hanzel, aku tidak bisa hidup tan- "


" Tutup mulutmu! " Tuan Haris semakin membelakak marah.


" Dengan kasus memalukan seperti itu, kau masih ingin menjadi istrinya putraku? Apa kau tidak mau hah?! Bahkan gelandangan saja akan berpikir seribu kali untuk menikahi mu! "


Lora tak tahan lagi, air matanya luruh membasahi pipinya. Ini lah yang paling Lora takutkan. Pada akhirnya akan ada lagi pihak yang menentang hubungan mereka, menyedihkannya lagi adalah, orang itu adalah orang tua dari Hanzel. Ibu Rose yang biasanya terlihat menyayanginya kini hanya bisa terdiam seolah tak mau ikut campur dengan masalah ini.


" Berhenti membuang-buang waktu, cepat kemas barang mu, dan pergilah sebelum Hanzel kembali. Percaya atau tidak, Hanzel itu hanya kasihan padamu, makanya dia membiarkan mu tetap tinggal dirumah ini. "


Lora menyeka air matanya.


" Ayah mertua, tolong jangan menyuruhku pergi. Aku janji aku akan pergi saat Hanzel yang memintanya. "


" Dasar tidak tahu malu! Hanzel itu orang yang sangat baik dan tidak enakan, jadi biarpun dia memang ingin mengusir mu, dia tidak akan mengatakannya. "


Bersambung.