Little Wife

Little Wife
BAB 82



Hari terus berlalu, semua kini berjalan sesuai dengan harapan. Semakin hari keadaan Ayah Nora dan Lora semakin membaik, kandungan bahaya dari obat yang selama ini di konsensi sudah mulai berkurang di dalam tubuhnya.


Lora, kini dia benar-benar sibuk membagi waktu. Utamanya adalah Hanzel, Ayahnya, lalu kuliah. Untunglah Ita benar-benar siap siaga terus selalu ada bersama dengan Lora dalam keadaan apapun.


Nora, gadis itu jadi semangat untuk sembuh semenjak kehadiran Angkatan di dalam hidupnya. Entah kemana nama Alexander menghilang, tapi dengan itu Nora benar-benar bersyukur karena dengan mudah mampu menghilangkan rasa cinta yang menyiksanya. Sebenarnya bukan salah Alexander, karena dia tahu benar cinta memang tidak bisa dipaksakan, jadi biarlah Alexander memilih mana wanita yang diinginkan.


" Lora! " Panggil Nora begitu dia sampai di rumah yang ditinggali Lora dan Nora.


" Nora, kau sudah datang? " Tanya Lora yang baru saja selesai kuliah.


" Hem! Kau sudah selesai kan? " Tanya Nora.


" Sudah. "


Ini adalah kegiatan mereka sekarang ini, sesekali Nora menerima tawaran untuk menjadi bintang tamu di acara talk show. Nora juga sudah mengganti asisten pribadinya dengan yang baru dan bisa dipercaya, sementara Indah selaku managernya hanya bisa menuruti apa maunya Nora karena memang Nora lah artisnya bukan Ibu tirinya.


Setelah itu, mereka bertiga karena bersama Ita pergi untuk menemani Ayahnya di apartemen.


Nira sebenarnya sudah lama ingin bertanya kepada Ita karena mau di tutupi seperti apapun, Ita tidak mirip seperti pembantu pada umumnya. Bentuk tubuhnya sangat bagus, tinggi, wajahnya juga bisa dibilang berkelas meski tak menggunakan make up sama sekali seperti sekarang ini. Benar-benar sangat mengherankan karena wajah seperti Ita tidak di manfaatkan dengan baik. Padahal jelas harus rahangnya begitu tegas, matanya tajam, alis yang tebal dan tegas, buku matanya lentik, bibirnya bersisi, ah! benar-benar sangat disayangkan.


" Nora, kau sudah memandangi ku lama sekali loh. "


Nora terkekeh malu sendiri, bagaimana tidak memandangi wajah Ita dan keheranan? Ita padahal hanya seorang pembantu, tapi bisa mengemudi mobil, ah! Lagi-lagi salah fokus dengan wajahnya yang tidak mendukung sekali menggeluti profesi pengurus rumah tangga yang melelahkan sekali, padahal dengan tubuh dan wajah itu Ita pasti bisa menjadi orang yang terkenal.


" Maaf kak Ita, aku hanya heran saja kenapa kak Ita tidak mejadi aktris atau model saja? "


Lora tersenyum saja karena tidak ingin mewakili Ita bicara. Iya, biarkan saja mereka akrab, dan dia juga harus membalas pesan Hanzel di kursi belakang sendirian.


" Aku tidak tertarik menjadi aktris atau model lagi, aku ingin hidup bebas, bebas sekali tanpa beban. "


Nora mengeryit bingung.


" Lagi? Kakak sudah pernah jadi aktris atau model? "


" Dulu iya. "


Nora terdiam, sebenarnya menjadi aktris seperti ini juga bisa di bilang berkah untuknya, hanya saja dia tidak bisa mendapatkan kebebasan yang dikatakan Ita, ah atau dia tidak paham apa arti kebebasan bagi Ita?


" Bebas seperti apa yang kakak inginkan? "


Ita tersenyum tanpa mengalihkan pandangan dan fokus mengemudi.


" Kakak tidak punya suami, atau pacar? "


" Tidak, tidak akan! Aku memutuskan untuk tetap sendiri, dan aku bersumpah untuk tidak akan tergoda dengan lelaki manapun. Banyak orang bilang hidup sendiri tidaklah mudah, tapi aku malah yakin aku akan bahagia hidup sendiri, tua di tempat yang aku inginkan, meningal dengan tenang seperti yang aku harapkan. "


Nora tersenyum kaku, sebenarnya dia paham sekali ada yang tidak baik-baik saja di dalam perjalanan hidup Ita, tapi bukankah begitu Tuhan memberi jalan kehidupan? Memiliki pasangan sampai hari tua tentu adalah pilihan hampir semua manusia, tapi memilih tetap sendiri hingga tua dan meninggal, maka itu juga adalah pilihan hidup yang harus di hargai.


Sesampainya di apartemen, Nora dan Ayahnya mengobrol soal rencana mereka untuk membuka butik seperti cita-cita Nora, yang ternyata juga sama dengan cita-cita Ibunya. Sementara Lora dan Ita menyiapkan makan siang untuk mereka. Maklum saja, Nora dan Ayahnya hanya sarapan roti saja tadi pagi jadi Lora yakin mereka masih belum kenyang.


" Lora, kau semakin hebat ya? Lihat warna saus tomat yang kau buat, benar-benar merekah mengalahkan saus tomat kemasan. " Ujar Ita memuji karena memang begitulah adanya.


" Syukurlah kak. " Lora tersenyum senang, tapi karena belum mencoba rasa saus tomat buatannya, segera Lora meraih sebuah sendok, sedikit menyendok saus tomat yang masih panas di teflon, lalu mencium aromanya seperti biasa dia akan mencicipi makanan.


" Ugh! " Lora menjauhkan sendoknya, dia menutup bibirnya yang serasa ingin muntah, lalu segera berlari menuju kamar mandi. Seperti kebanyakan orang yang mual dan muntah, hanya saja tak ada yang keluar dari sana sebanyak apa pun Lora merasakan mual dan ingin muntah, nyatanya tak ada apapun yang keluar.


" Lora, kau tidak apa-apa? " Tanya Ita jelas dia khawatir.


Lora menggeleng, aneh sekali karena tiba-tiba perutnya serasa seperti sangat penuh, bahkan seperti di remas hingga tak karuan rasanya. Melihat Lora seperti itu, tentu saja Ita segera berjalan mendekat dan membantu Lora untuk bangkit, dan mengajaknya keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa yang ada di jendela tak jauh dari dapur.


" Kak, sepertinya aku salah memasukkan bumbu deh. Baunya tidak enak, tidak bisa di jelaskan baunya seperti apa, tapi bau saus tomat buatan ku itu benar-benar tidak enak deh. "


Ita mengeryit karena bingung, padahal jelas dia bisa mengendus wanginya, dan itu terkesan sangat sedap. Tak mau menjawab dulu, Ita juga mencoba mencicipi saus tomat buatan Lora. Lagi, karena dia takut salah dan ternyata memang sangat enak seperti dugaannya. Tapi kenapa katanya bau aneh? Apanya yang aneh?


" Lora, saus tomat ini malah sangat enak. Mungkin hidung mu sedang eror ya? "


Lora menghela nafas, jelas sekali tadi dia mencium bau tidak enak dari saus tomat itu.


" Kak, apa tomat yang kita gunakan tadi tomat busuk? " Tanya Lora yang masih tak mau kalah.


Ita jelas menggeleng dengan cepat sebagi bentuk bantahan darinya.


" Kan kita beli berdua, Lora. Aku yakin sih tomatnya fresh kok. " Ujar Ita. Tapi sebentar Ita kembali menerka dalam diam sembari menatap Lora.


" Kak, kenapa kau menatapku seperti itu? " Tanya Lora karena jelas sekali dia bisa melihat tatapan aneh Ita kepadanya.


" Lora aku tidak tahu benar atau tidak karena aku juga tidak banyak pengalaman meski pernah mengalaminya. Coba deh kau tes kehamilan saja. "


Bersambung.