Little Wife

Little Wife
BAB 90



Lora menarik nafas panjang sebelum dia bangkit dari duduknya. Sungguh tidak bisa leluasa karena perutnya semakin membesar. Usia kandungannya sudah enam bulan, tapi besar perutnya yang sudah seperti sembilan bulan benar-benar membuatnya kesulitan. Bukan hanya bangun dari duduknya, tapi saat akan tidur juga dia amat kesulitan, belum lagi makannya juga semakin sulit.


" Sayang, bagaimana kalau kita ke Dokter saja? " Tanya Hanzel yang tak tega melihat bagaimana kaki Lora membengkak bahkan sampai sulit bergerak.


" Tapi kita kan juga baru saja menemui Dokter beberapa hari lalu. " Ujar Lora.


" Iya aku tahu, tapi kalau sampai kau sulit berjalan seperti ini, aku benar-benar tidak tega melihatnya. Nafas mu juga semakin sulit kan? "


Lora tersenyum, sebenarnya bukan nafasnya yang sulit, tapi kadang-kadang dia merasa kurang puas dengan nafasnya yang dirasa kurang jadi sering kali menarik nafas dalam menghembuskan juga kuat.


" Aku baik-baik saja kok sayang, kau berangkat kerja saja. " Ujar Lora yang tidak ingin membuat Hanzel merasa tidak tenang meninggalkannya di rumah.


" Ita kan sedang menjemput adiknya, nanti kalau ada apa-apa dengan mu bagaimana? "


" Ada Diah kok, jangan khawatir ya? "


Hanzel menghela nafasnya, dia bukannya tidak tahu bagaimana sifat Diah yang selama ini suka bergerundel dan menggunjing Lora, tapi karena Lora bilang tidak ingin mempermasalahkan hal itu dan membuatkan dia bekerja, mau tak mau Hanzel hanya bisa menuruti saja apa maunya Lora.


" Kau yakin dia bisa di andalkan sayang? " Tanya Hanzel yang belum bisa menghilangkan perasaan khawatirnya.


" Bisa kok, tenang saja ya? "


Hanzel tak memiliki pilihan lain, jadi pada akhirnya dia meninggalkan Lora di rumah bersama dengan Diah sampai Ita kembali nanti setelah menjemput adiknya.


Sore hari, Ita kembali bersama seorang gadis cantik yang ternyata adalah adik kandungnya. Dia terpaksa membawa adiknya serta karena adiknya memaksa untuk ikut agar tahu dimana Kakaknya tinggal.


" Kak Ita sudah pulang dari tadi? " Sapa Lora sembari berjalan mendekati ruang tamu dimana Ita, adiknya dan juga Diah berada. Mereka nampak santai berbincang, jadi Lora yang tak sengaja mendengar suara mereka dari kamar akhirnya ingin bergabung juga dengan mereka.


" Belum lama kok, Lora. Maaf ya tidak langsung menemui mu dulu. " Ujar Ita seraya bangkit dari duduknya, dia meraih lengan Lora agar bisa membantu Lora untuk duduk juga disana.


" Tidak apa-apa kak, ini siapa? " Tanya Lora yang senang melihat wajah cantik yang tak lain adalah adiknya Ita.


" Namanya Putri, dia adikku, Lora. "


" Halo, namaku Putri. " Sapa nya lalu tersenyum dengan manis.


" Halo juga putri. "


" Kamu masih sangat muda ya? Ngomong-ngomong berapa usia kandunganku? "


" Usiaku sembilan belas tahun kak, sudah enam bulan usia kehamilanku. " Jawab Lora dengan senyum ramah seperti biasanya saat dia sedang berbicara dengan siapapun juga.


Gadis itu nampak melongo tak percaya, memang sih tampilan Lora itu benar-benar seperti anak remaja, tapi dia pikir jaman sekarang kan banyak orang dewasa yang memiliki wajah seperti anak muda, tapi benar-benar dia tidak menyangka kalau gadis sembilan belas tahun yang hidup di kota serba modern ini ada yang menikah di usia sangat muda.


Ita membulatkan matanya karena terkejut dengan pertanyaan Putri, dia menyenggol lengan Putri dengan sikutnya berharap untuk dia berhenti bertanya yang bukan-bukan karena mau bagaimanapun juga Lora adalah istri dari Tuannya yang berarti juga adalah Nyonya rumah yang harus di hargai dan dihormati.


Lora tersenyum, sebenarnya dia bukan tidak tahu maksud pertanyaan itu, tapi dia sendiri paham benar resiko dari setiap tindakannya. Tak merasa harus menjawab panjang lebar, Lora hanya menyimpulkan semua perasaan yang ia rasakan selama menikah dengan Hanzel.


" Aku bahagia, malahan bahagia sangat, amat, pokoknya aku bahagia sekali setelah menikah. Hamil tentu menambah kebahagiaan untukku, juga untuk suamiku. "


Putri memaksakan senyumnya, sungguh dia tidak tahu dan tidak paham dengan jalan pikiran anak muda jaman sekarang. Dia saja yang usianya sudah dua puluh enam tahun masih betah dengan statusnya karena tidak tertarik dengan kehidupan rumah tangga yang menurut banyak orang sangat rumit, dan menguras emosi. Kasus yang terjadi pada Ita selaku kakaknya tentu membuat Putri semakin selektif mencari calon suami karena tidak ingin salah pilih, dan merasakan apa yang dirasakan kakaknya.


" Sekarang kau bisa berkata begitu karena usia pernikahan mu kan masih baru, kalau sudah lama apalagi suamimu melirik wanita lain, kau pasti akan menyesal amat menyesal malah. "


Ita menghela nafas sebalnya, dia padahal sudah memelototi adiknya, tapi bukannya berhenti dia malah terus saja mengoceh ke sana ke mari membuat Lora merasa tidak nyaman.


" Aku tidak ingin memperdulikan masa depan, yang penting adalah apa yang kami jalani sekarang, meksipun pada akhirnya suamiku akan tergoda dengan wanita lain, setidaknya aku sudah memberikan seluruh cinta dan perhatianku, jadi saat perpisahan di antara kami terjadi, aku akan tetap meninggalkan kesan baik, dan aku juga tidak akan pergi dengan penyesalan. "


Putri memaksakan senyumnya, benar-benar tidak habis pikir dengan Lora yang sepertinya sangat mencintai suaminya itu. Tapi kalau melihat rumah beserta isinya, jelas sekali kalau yang punya rumah alias suaminya Lora pasti adalah orang kaya sehingga Lora tidak segan-segan mengabaikan masa mudanya yang sangat penting dan menjadi seorang istri demi hidup enak. Ah, apakah Lora malah menjadi istri kedua? ketiga mungkin? Entahlah! Gadis jaman sekarang bisa dengan mudah menikah kalau ada pria kaya yang mengajak menikah, juga tidak perduli akan jadi simpanan atau istri ke sekian.


" Kau ini bicara apa sih, sayang? " Ucap Hanzel yang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah.


" Sayang? Sudah pulang? Kok tidak dengar suara mobil mu? "


Lora perlahan bangkit di bantu Ita, sementara Hanzel langsung menghampiri Lora untuk mencium kening dan pipinya.


" Mobilku tadi bocor, jadi aku naik taksi saja. Sudah minum susu hamil mu? "


Lora menggeleng.


" Kenapa? " Tanya Hanzel sembari mengeryit dengan pemikiran yang sudah buruk tentang Diah, yah siapa tahu Diah tidak melayani istrinya dengan baik.


" Tadi Diah sudah buat, tapi aku lupa meminumnya. "


Hanzel menghela nafas, dia mengusap kepala Lora dengan lembut, merangkulnya untuk di ajak masuk ke kamar.


" Ita, tolong buatkan susu ya? Sekalian antar ke kamar juga. "


" Baik, Tuan. "


Putri, gadis itu tak henti-hentinya menatap Hanzel penuh kekaguman, bahkan sampai Hanzel masuk ke dalam kamarnya bersama Lora. Tampan, bahkan sangat tampan dan tubuhnya sangat bagus.


Bersambung.