Little Wife

Little Wife
BAB 80



Ayah menatap photo yang diberikan Lora dan Nora, itu adalah photo Ibu dari anak kembarnya, juga istri pertamanya. Dia sudah mendengar cerita dari Lora sesuai dengan apa yang diberitahu Hanzel, dan sekarang dia benar-benar merasa begitu sakit hati dan tidak bisa menerima kebenaran ini.


Wanita itu, Ibu dari anak kembarnya benar-benar sangat cantik. Dari tatapan matanya jelas dia adalah wanita yang sangat baik, juga lembut. Melihat sikap Lora dan Nora, entah mengapa dia merasa jika itu pasti diturunkan oleh Ibu mereka.


" Dimana Ibu kalian sekarang? "


Nora terdiam, Lora juga sama. Bagaimana dia akan mengatakan kepada Ayah mereka? Haruskah berbohong? Ataukan jujur agar semuanya jelas?


" Beritahu saja, Ayah hanya ingin tahu. "


Lora mengeratkan kepalan tangannya. Sungguh kalau mengingat hari dimana Ibunya meninggal rasanya amat sangat menyakitkan sekali.


" Ayah, Ibu sudah meninggal, dua bulan setelah Ayah dan Ibu bercerai. " Nora menjawab mewakilkan Lora yang terlihat tak bisa menjawab pertanyaan itu.


" Apa?! " Ayah menatap Lora meminta konfirmasi darinya, tapi melihat ekspresi Lora jelas itu adalah kebenaran, jadi dia tidak lagi bertanya mengenai Ibunya.


" Jadi bagaimana kau hidup selama itu Lora? "


Lora lagi-lagi tak bisa menjawab, mana mungkin dia menceritakan bagaimana kehidupannya selama itu? Di pukul, di hina, di ludahi, di asingkan, di nodai, di fitnah, di usir, mungkinkah seorang Ayah mampu menerima kenyataan bahwa putrinya mengalami semua itu? Tidak! Sedang Lora yang mengalaminya sendiri seperti tidak sanggup mengatakannya, bagaimana mungkin seorang Ayah mampu menerima kebenaran putrinya begitu terhina seperti bukan manusia saja orang memperlakukannya.


" Aku, baik-baik saja Ayah. Aku hidup dengan baik, aku bertemu pria baik dan menikah. "


Ayah mengeryit bingung. Menikah? Usia Lora baru sembilan belas tahun, dan sudah menikah? Bagaimana bisa? Apakah Lora salah pergaulan lalu hamil dan terpaksa menikah?


" Kau, dengan siapa kau tinggal selama ini? Kenapa kau menikah di usia yang masih sangat muda? "


Lora memaksakan senyumnya, benar, tidak perlu menunjukkan betapa menyedihkan jalan hidupnya sebelum bertemu dengan Hanzel, maka dia hanya perlu menutupinya dengan senyum sebaik mungkin hingga tidak ada satu orang pun yang bisa melihat luka di hatinya.


" Aku hidup bersama dengan orang tua angkat, mereka sangat baik, mereka mencintaiku, dan menyayangiku seperti anaknya sendiri. "


Nora, dia tidak tahan mendengar kebohongan yang Lora ucapkan, dia mencengkram ujung sofa tempat dia duduk dengan mata memerah bahkan sudah berair.


" Aku tidak sengaja bertemu dengan suamiku, Hanzel. Kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama, karena kami merasa tidak ingin terpisah, jadi kami memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. "


Ayah menatap Lora pilu, kenapa? Karena hanya ada di dalam impian saja hidup seperti yang di ceritakan oleh Lora. Dicintai, disayangi layaknya anak kandung, bertemu pria baik dan jatuh cinta, benarkah ada kehidupan yang begitu membahagiakan di dunia ini? Nora boleh saja tersenyum saat mengatakan itu seolah-olah dia bahagia, tali nyatanya seorang Ayah mampu melihat luka dari kedua bola mata putrinya, Lora.


" Aku dan Hanzel sudah beberapa bulan menjadi suami istri, kami sebenarnya sering bertengkar untuk hal-hal kecil, tapi karena Hanzel sangat baik dan pengertian, dia selalu bisa membuat suasana di antara kami berdua menjadi baik. "


Kali ini Ayah bisa melihat kebahagian yang nyata dari ucapan Lora, iya, sekian dari Hanzel maka tidak ada yang bisa membuat Lora bahagia selama ini. Keluarga angkat, jelas Ayah bisa merasakan jika ucapan Lora pasti bohong, dan itu berarti mereka bukan orang yang baik.


Lora menatap Ayahnya penuh tanya.


" Maaf untuk apa, Ayah? "


Ayah tersenyum, meraih tangan Lora dan menggenggamnya, lalu mencium punggung tangannya.


" Tidak ada, hanya saja Ayah merasa harus meminta maaf padamu. "


Lora tersenyum, tapi dia juga jadi tak bisa banyak bicara lagi karena takut Ayahnya akan menyadari sesuatu.


***


" Lancang! " Tuan Haris menatap Hanzel marah, bagaimana tidak? Bukanya berterimakasih karena sudah di bawakan banyak photo gadis yang menurutnya cocok untuk Hanzel, pria itu justru menolak mentah mentah dan menyingkirkan photo mereka dari mejanya seperti memperlakukan sampah.


" Ini adalah untuk yang terakhir kakinya aku memperingati kalian. Aku tidak suka urusan rumah tanggaku ada yang ikut campur, termasuk kalian berdua. Percayalah kalau sampai kalian tidak menggubris peringatan ini, aku bukan hanya hanya akan menghancurkan kalian, tali juga bisa menghancurkan hal paling inti dari kalian. Kau adalah Ayahku, tapi kau bersikap seolah kita bermusuhan dan saingan. " Hanzel kini menatap Velo yang terlihat tertekan oleh tatapan tajam dan mengancam dari Hanzel.


" Kau ini sekarang adalah Ibu tiri ku, maka bersikaplah seperti Ibu tiri, jangan menggodaku dengan cara menjijikkan mu apalagi menyentuh tubuhku seperti waktu itu. Aku, tidak akan tergoda, lagi pula aku juga tidak suka berbagi lubang yang sama dengan Ayahku sendiri, karena aku yakin lubang itu sudah sangat kotor. "


Tuan Haris menatap Velo dengan tatapan marah, biar bagaimanapun Velo adalah istrinya, kalau benar dia menggoda Hanzel di saat sudah menjadi istrinya, maka bukan salahnya kalau dia akan sangat marah.


" Pergilah, sebentar lagi akan ada keturunan baru yang akan lahir, jaga dia baik-baik, biarkan Ibunya mendidik dengan baik, dan jangan sampai menjadi seperti Ayah. Ah, aku berdoa dia bukan seorang bayi kecil bergender wanita, aku takut dia menerima karma dari Ayahnya. "


" Bajingan! Jaga ucapan mu! "


Hanzel tersenyum miring, sungguh dia yakin sekali kalau bayi itu adalah bayi perempuan, karena Tuan Haris benar-benar sangat marah saat dia berkata demikian. Tapi sebagai seorang manusia, dan dia juga adalah kakak dari bayi yang akan lahir itu, maka Hanzel hanya bisa berdoa di dalam hati agar bayi itu dilindungi dari segala keburukan, menjadi gadis yang baik dan polos, serta dilimpahi cinta kasih.


" Babe, ayo kita pulang saja ya? Ini sudah malam kan? Nanti kita harus makan malam bersama keluarga. " Ajak Velo yang takut kalau sampai Hanzel mengatakan banyak sekali hal yang akan membuatnya terpojok. Saat ini dia masih membutuhkan uang Tuan Haris, maka dia tidak memiliki pilihan lain karena Hanzel juga sudah jelas tidak akan sudi menerimanya lagi.


" Lebih baik apa yang dikatakan Hanzel tadi itu bohong, karena kalau tidak, aku tidak akan segan-segan membuang mu! "


Velo mengangguk dengan cepat, dia meraih lengan Tuan Haris agar segera meninggalkan Hanzel di ruangannya.


Hanzel, pria itu bisa tersenyum lega karena dia yakin benar tidak akan ada yang mencoba menghalang halangi lagi dari pihak keluarganya.


" Sekarang tinggal fokus kepada Lora saja."


Bersambung.