
Hanzel tak bicara sepatah katapun begitu mereka masuk ke dalam mobil. Wajahnya tampak kesal, tapi sungguh tidak tahu apa yang membuatnya kesal. Lora masih diam menunggu saja kapan kira-kira Hanzel akan mengajaknya bicara, tapi sampai dirumah pun Hanzel masih tidak bicara. Dia kembali ke kantor juga tidak pamit seperti biasanya. Aneh, tapi Lora juga tidak berani bertanya.
Lora terus memandangi mobil Hanzel yang semakin menjauh sembari terus berpikir, apa kira-kira yang membuat Hanzel kesal? Apakah karena dia mengobrol dengan Alexander tadi? Tapi apakah mungkin Hanzel se-cemburu itu? Ah, rasanya ingin percaya tapi takutnya itu hanyalah halusinasinya saja.
" Lora! " Panggil Ita yang baru saja ingin keluar. Dia sudah menggunakan baju yang rapih, dan cantik. Sebenarnya Ita adalah janda muda yang cantik, gaya berpakaian juga sangat keren tidak menunjukkan apa pekerjaannya.
" Kak Ita mau kemana? " Tanya Lora penasaran.
" Mau pergi ke Mall, Lora mau ikut tidak? "
" Kakak mau beli baju? " Tanya Lora.
" Mau ke supermarket nya, soalnya bahan makanan banyak yang habis, sekalian mau beli baju yang model baru itu. "
Lora menggaruk kepalanya yang tak gatal, sungguh kalau baju model baru Lora benar-benar bingung. Dia melihat di internet, dan itu banyak sekali sampai dia bingung sendiri manakah yang paling baru dan paling bagus.
" Memang yang paling baru itu yang bagaimana, kak? "
" Duh, yang kalau dipake bisa buat naik turun gitu. "
Lora mengernyit bingung. Naik turun? Baju bisa seperti bukit juga ya?
" Lora mau ikutan beli tidak? "
" Ah, tidak kak. Aku tapi mau ikut kak Ita belanja ya? "
" Oke! "
" Aku taruh tas, dan buku ku dulu ya kak? "
" Iya, aku tunggu disini. "
Setelah Kita meletakkan tas dan bukunya, segera Lora berjalan untuk menyusul Ita. Tapi sebelum berangkat dia sudah memberikan kabar kepada Hanzel bahwa dia akan pergi ke Mall bersama dengan Ita.
" Lora ganti baju juga? " Tanya Ita karena melihat baju Lora yang berbeda dengan sebelumya.
" Iya kak, baju yang tadi agak bau asam, sekalian tambah lipstik sedikit agar tidak terlihat pucat. "
Tak lama mereka langsung pergi menggunakan taksi online yang sudah di pesan oleh Ita, nanti pulangnya baru minta tolong Bapak supir untuk menjemputnya karena akan banyak barang belanjaan nantinya. Sesampainya di supermarket, Lora ikut memilih bahan-bahan makanan untuk keseharian mereka. Mulai dari beras, telur, dan banyak yang lainnya.
" Kak, aku mau pilih buah disana ya? " Tunjuk Lora ke arah bagian buah-buahan, disana juga tersedia buah yang sudah dipotong-potong jadi lebih mudah untuk memakannya. Lora mengambil buah strawberry, anggur hijau, apal hijau, plum, peach, kiwi, pisang, dan ada beberapa macam buah lagi kesukaan Hanzel. Maklum saja, Hanzel itu harus minum jus setiap hari, jadi stok buah dirumah juga harus banyak.
" Oh iya kak! Disini ada obat-obatan juga kan kak? "
" Bukan obat sih, cuma vitamin Tuan Hanzel saja. Aku lihat hanya tinggal beberapa butir, besok pagi pasti sudah habis. "
" Kalau vitamin nanti kita beli di apotik saja ya? Soalnya Tuan Hanzel biasa berlangganan disana. " Lora mengangguk setuju.
" Lora, ini semua buah kesukaan Tuan, sayuran juga kesukaan Tuan. Kau tidak beli untuk diri mu sendiri? " Tanya Ita.
" Aku suka apa saja kak, jadi tidak perlu khawatir. Apalagi kalau Tuan Hanzel, ah aku suka sekali! "
Ita menggeleng heran, sementara Lora terkekeh geli sendiri.
" Wah, ada Cinderella nih sedang belanja. "
Lora menoleh ke arah sumber suara karena dia paham sekali siapa pemilik suara itu. Resa, dia entah sejak kapan ada disana, dia tengah tersenyum miring dengan lengan yang berdecak berani.
" Dia siapa, Lora? " Tanya Ita yang penasaran. Tatapan penuh kebencian begitu terlihat dari sorot mata Resa, jadi Ita merasa kalau gadis itu pasti memiliki niat tidak baik kepada Lora.
" Dia, Kakak angkat ku, orang yang sudah memukul kepalaku beberapa kali. " Ucap Lora memperingatkan agar Resa tak bicara macam-macam atau dia akan mengatakan kepada orang-orang bahwa Resa sering sekali menyakitinya dulu.
Resa menahan tawanya dengan begitu jelas. Tidak diangka kalau pada akhirnya upik abu dirumahnya telah menjadi seorang yang penting bagi seorang pria yang kaya, juga tampan. Jika mengingat tentang itu, rasanya Resa benar-benar murka. Andai saja dia yang menikah dengan Hanzel saat itu, sekarang ini dia pasti telah duduk dengan bangga, dan sombong karena bergelimang harta.
" Kau lah yang minta dipukul, jadi jangan menyalahkan orang lain. " Resa tersenyum mengejek, dan jelas Lora bisa mengingat hari itu, hari dimana dia tidak sengaja menumpahkan teh ke kaki Resa. Sebagai seorang yang salah tentu saja buru-buru Lora meminta maaf, tapi yang ada malah Resa memukul kepalanya sampai kupingnya berdengung dua hari.
" Kak Resa, orang boleh berkata kasar, tapi jangan tangan juga berbuat kasar. Kakak ini kan seorang wanita, bahkan laki-laki saja belum tentu akan ringan tangan seperti kakak. "
Resa terlihat marah, tapi dia juga tidak berani melakukan apapun di tempat umum seperti ini, apalagi Lora juga bersama seseorang yang terus mengamatinya.
" Jangan sombong dulu kau, Lora. Sekarang kau boleh saja di puja-puja, tapi tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Dan jangan lupa ya, Lora. Kau sudah membuat Ayahku dipenjara, jadi aku tentu tidak akan tinggal diam. Aku akan membuatmu merasakan apa yang namanya penderitaan. " Resa kembali tersenyum miring, kali ini tatapan dari mata Resa jelas sekali tatapan mata seseorang yang sedang mengancam penuh kemarahan.
" Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi besok kak, tapi pelajaran hidup, serta penderitaan yang orang tua kakak, dan kakak sendiri berikan padaku aku mulai paham akan apa itu artinya kekuatan, bagaimana caranya agar aman, bagaimana caranya bisa melawan, dan bagaimana mempertahankan apa yang aku miliki, agar jangan sampai orang yang tidak tahu diri datang menyamar sebagai korban lalu merebut milikku."
" Dasar tidak tahu malu! Sudah menggoda Ayahku, memfitnah Ayahku, dan sekarang merebut calon suamiku! Apa kau tidak punya hati, hah?! " Resa berbicara amat lantang, dan sepertinya itu sengaja ia lakukan agar semua orang menoleh padanya lalu perduli dengan apa yang mereka bicarakan.
" Kak Resa, kalau kakak berbuat macam-macam, aku janji akan membalas apa yang Kakak lakukan. "
" Apa kau sudah bahagia? Ayahku dipenjara, kau juga sudah menjadi Nyonya untuk calon suamiku. Seharusnya kau tahu diri, Lora! "
Semua orang kini tengah menatap Lora, mereka berbisik seperti sedang menggunjing tanpa suara yang jelas.
Bersambung.