Little Wife

Little Wife
BAB 12



Lora terdiam begitu kata-kata aneh itu keluar dari wanita yang tadi menyambut Hanzel, iya hanya Hanzel saja karena dia sama sekali tidak melihat ke arahnya, jadi tentu saja dia hanya perduli Hanzel saja. Lora sebenarnya agar merasa aneh dengan tatapan wanita itu, tapi seperti yang sudah ia niatkan bahwa apapun yang terjadi dia akan menghadapi, dan tidak akan mau mengalah apapun kondisinya.


Hanzel pria itu justru terlihat marah, dia mengeraskan rahangnya, bahkan juga mengepal seperti orang menahan kesal. Lora tak sengaja melihat ekspresi Hanzel, memang dia tidak paham benar apa yang terjadi di antara keduanya, tapi Lora merasa kalau harus menjauhkan Hanzel dari wanita itu.


Lora membuang nafas, lalu tersenyum sebaik mungkin agar terlihat dia tidak dalam keadaan yang lumayan tertekan. Lora menatap Hanzel sebentar, meraih lengannya dan memeluk lengan Hanzel.


" Sayang, kakiku pegal berdiri di sini terus. "


Hanzel tersentak menoleh ke arah Lora. Gadis itu tersenyum menatapnya, bahkan dia sampai tidak menyadari kapan Lora memeluk lengannya.


" Sayang, apa kau masih ingin disini? "


Gila! Jantung Hanzel berdegup kencang melihat bagaimana ekspresi Lora saat menatapnya sembari memanggilnya sayang. Padahal sepanjang perjalanan dia merasa malas dan lelah, maklum saja pekerjaannya kan sangat banyak, belum lagi sampai rumah dia melakukan hubungan suami istri dengan Lora hingga dua kali, tapi begitu melihat wajah Lora yang begitu manis saat memanggilnya sayang, rasanya lelah itu menghilang entah kemana.


" Kita masuk sekarang. " Hanzel mengubah tangan Lora dari lengannya untuk dia genggam. Tidak tahu apa alasannya, tapi Lora menduga kalau dia lakukan karena untuk memamerkan kepada wanita tadi.


" Tuan, wanita tadi itu siapa? Aku hampir saja cium tangan karena aku pikir dia adalah Ibu kandungnya Tuan. " Ucap Lora seraya mengikuti langkah kaki Hanzel yang membawanya pergi masu dengan genggaman tangan layaknya pasangan kekasih yang Lora lihat di televisi. Awalnya sih memang ada rasa kaget, tapi tangan Hanzel juga begitu hangat hingga dia merasa enggan untuk melepaskannya.


" Istrinya Ayahku, nanti akan bertemu dengan Ibuku. Seperti yang aku katakan tadi, cukup hormati Ibuku saja, yang lain tidak perlu. "


" Oke! "


Hanzel tersenyum tipis melihat Lora yang semakin berubah menjadi ceria, sungguh sangat berbeda dengan pertama kali dia bertemu Lora yang terlihat lusuh dan seperti ketakutan akan banyak hal.


" Selamat malam Ibu? " Sapa Hanzel kepada seorang wanita paruh baya yang bisa Kita lihat jika wanita itu adalah orang luar negeri. Rambutnya ke emasan, matanya berwana abu-abu, kulitnya sangat putih, bisa di bilang hampir sama dengan Hanzel, hanya saja Hanzel memiliki bola mata berwarna coklat dan rambutnya juga agak kecoklatan, yah mungkin ini campuran antara Hanzel dan Ayahnya.


Ibunya Hanzel sempat terdiam memandangi genggaman tangan Lora dan Hanzel, tapi setelah Hanzel cukup dekat dengan Ibunya, dia melepaskan genggaman tangannya dan memeluk Ibunya.


" Bagaimana kabar Ibu? "


" Ibu, Ibu. Kenalkan, ini istriku, Lora. " Hanzel beranjak meraih tangan Lora lalu mendekatkan kepada Ibunya yang terdiam di tempat, dan hanya matanya saja bergerak menatap Lora.


Lora, gadis yang baru saja genap berusia delapan belas tahun satu bulan yang lalu, ditambah tak pernah sekalipun memiliki hubungan dengan pria, tapi sekarang sudah harus berhadapan dengan Ibu mertua? Hah! Sudahlah, jalani saja dan bertindak seperti air mengalir saja.


" Selamat malam, Ibu? Perkenalkan, nama saya Lora, senang bertemu dengan Ibu. "


Sebentar Ibunya Hanzel masih terdiam, tapi lama kelamaan dia tersenyum dan mengangguk. Dia menepuk ruang kosong disebelahnya pertanda jika dia menginginkan Lora untuk duduk disebelahnya. Meski sejujurnya Lora sangatlah gugup, dengan bibir tersenyum dia berjalan mendekati Ibu mertuanya, lalu dengan sopan dia duduk disebelah Ibunya Hanzel yang juga adalah Ibu mertuanya.


" Namamu sangat bagus. " Ucapnya lalu tersenyum seraya mengusap kepala Lora.


" Berapa usia mu? "


" Baiklah, Ibu harap kalian akan saling memahami satu sama lain, dan bertahan hingga maut memisahkan. Maaf karena Ibu tidak datang saat kalian menikah ya? "


Lora tersenyum.


" Tidak apa-apa, Ibu. "


" Hanzel, istrimu masih sangat muda, cara berpikirnya mungkin akan berbeda denganmu, tapi Ibu berharap kalian bisa saling memaklumi, terutama kau Hanzel, Ibu ingin kau lebih mengerti Lora. "


Hanzel terdiam setelah sebentar tersenyum untuk mengiyakan secara tidak langsung. Hanzel menatap Lora yang kini tersenyum kepada Ibunya dan berbincang entah apa itu.


Bagaimana kalau Ibu tahu tentang perjanjian pernikahan kami? Aneh sekali, padahal aku pernah mengenakan Risha, tapi dia sama sekali tidak tersenyum seperti itu, apalagi sampai mengusap kepalanya seperti yang dilakukan kepada Lora.


" Kalian sudah datang? "


Lora tersentak tapi tak ingin melihat si pemilik suara berat khas laki-laki yang dia jelas tahu siapa itu. Lora terdiam, bukan tak ingin menjawab, tapi bayang-bayang perlakuan pria itu tak bisa membuatnya sadar dari ketakutan.


Hanzel sebentar membuang nafas lalu menjawab meski dia malas.


" Iya. "


" Babe, meja makan sudah rapih, kita bisa ke meja makan sekarang. " Ucap wanita yang tadi meyambut Hanzel di depan. Dia tersenyum lalu memeluk lengan Ayahnya Hanzel dengan begitu mesra.


" Kau memang sangat rajin, dimana Lina? "


" Dia tadi sedang istirahat karena tidak enak badan, sebentar lagi pasti akan turun untuk bergabung bersama kita. "


Ibu Rose nampak terdiam seolah menahan diri untuk tidak marah, lalu dia memilih untuk memalingkan padangan, tapi yang ia lihat malah Lora yang terlihat pucat bahkan tubuhnya juga gemetar.


" Hanzel? " Ibu Rose memanggil Hanzel dan menatap Lora yang terlihat sangat tidak baik dari ekspresinya. Hanzel paham jika Lora pasti sangat takut dengan Ayahnya, segera dia mendekati Lora dan menggenggam tangannya seraya bangkit dari duduknya.


" Ada aku, dia tidak akan macam-macam. Kau lihat wanita yang tadi kan? Dia adalah istrinya juga, dia tidak akan macam-macam apalagi sebentar lagi akan ada satu tambahan istri yang akan bergabung, jadi dia tidak akan macam-macam denganmu. " Ucap Hanzel berbisik di telinga Lora. Benar-benar seperti sihir, ucapan Hanzel itu mampu membuatnya tenang dan bisa tersenyum lagi.


Haris, pria itu terlihat sangat tidak suka dengan kedekatan Hanzel dan Lora terbukti dengan tatapannya yang tajam ke arah mereka. Ibu Rose menyadari akan tatapan menjijikan itu, tapi segera di mengalihkan padangan karena tak ingin lagi melihat betapa bejat suaminya itu.


Jangan harap kau akan memisahkan Lora dari putraku, aku tidak akan membiarkan putraku merasakan hal itu lagi, tidak akan!


Bersambung