Little Wife

Little Wife
BAB 45 ( Visual )




Aku kasih visual karena kemarin ada yang request ❤️ Btw cocok gk visualnya untuk mereka berdua?


Lora menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur karena terlalu lelah dengan kegiatan hari ini. Pagi dia kuliah sampai siang, lanjut les berakting, lalu memenuhi keinginan Roni untuk pemotretan. Sudah satu bulan lebih dia menjalani aktivitas seperti ini, hingga kadang dia pasti sudah tertidur begitu Hanzel pulang.


Satu dua hari Lora masih bisa melakukan aktifitasnya seperti biasa baik dirumah sebagai istri, sebagai pelajar, juga sebagai pemula yang akan menapaki dunia hiburan. Tapi setelah satu Minggu, Lora mulai kelelahan dengan segala aktivitasnya, dia bahkan sering tak membalas pesan dari Hanzel dengan alasan sibuk, sudah hampir tidak pernah membuat sarapan karena bangun selalu kesiangan, saat malam juga jarang sekali membantu Hanzel menyiapkan pakaian seperti biasanya karena selalu saja dia ketiduran. Untunglah, Hanzel sama sekali tidak protes dengan kesibukannya.


Tok Tok Tok


Suara ketukan di pintu kamar Lora terdengar, dan dengan suara malas Lora bangkit untuk membuka pintu kamarnya.


" Kak Ita? "


" Kau ingat hari ini hari apa, Lora? "


Lora mengeryit bingung menatap Ita penuh tanya. Hari? Apakah harus dia jawab bahwa hari ini adalah hari Jumat? Tidak mungkin kan alasan Ita bertanya hari karena lupa?


" Memang ada apa, Kak? " Tanya Lora yang tak mendapatkan jawaban dari kebingungannya sendiri.


Ita menghela nafas, dia menatap Lora seperti tatapan kesal. Tentu Lora agak kaget dengan tatapan semacam itu dari Ita yang hampir tak pernah ia lihat dengan mimik yang se-serius itu.


" Lora, aku tahu aku hanya membantu dirumah ini, dan tidak berhak mengatakannya. "


" Jangan bicara seperti itu, kak! aku tidak menganggap mu begitu kok. " Ujar Lora segera menjawab karena memang dia tidak menganggap begitu, bagi Lora Ita sudah seperti kaka kandung sendiri.


" Oke kalau begitu, aku ingin memberitahu bahwa hari ini Tuan Hanzel ulang tahun, dan kau pasti lupa kan? "


Lora membeku di ambang pintu, iya padahal hari ini sudah dia ingat-ingat dari dua bulan yang lalu, tapi dia lupa karena kesibukannya.


" Lora, semenjak kau memutuskan untuk masuk ke dunia hiburan aku takut pada akhirnya kau akan sibuk seperti ini, kau melupakan banyak hal yang biasanya menjadi kebiasaan mu. Lora, aku mengatakan ini karena aku juga menganggap mu sebagai adikku, aku tidak ingin kau mengalami apa yang aku alami dalam hubungan rumah tangga. Tapi Tuan Hanzel adalah pria yang baik, dia selalu memperlakukan mu dengan sepenuh hati meski tidak pernah mengatakannya lewat lisan. Lora, kau sudah berubah sangat jauh dari Lora yang aku kenal. Dulu, di matamu hanya ada Tuan Hanzel, tapi sekarang yang bisa aku lihat adalah obsesi yang berlebihan. "


Lora terdiam mengingat bagaimana sebulan lebih ini dia lewati, dia pikir Hanzel diam dan tidak protes karena perduli padanya, dia akan setuju saja dan memaklumi apa yang dia lakukan sekarang ini.


" Akan aku beritahu, Lora. Seminggu yang lalu Nona Resha datang kerumah saat kau telat pulang. Tuan Hanzel sudah mencegahnya dan meminta untuk pulang, tapi dia dengan ngotot memaksa untuk tinggal lalu nimbrung saja Tuan Hanzel yang sedang makan. Aku tidak tahu apakah Tuan Hanzel masih kau prioritaskan atau tidak, tapi jika seperti ini terus, kau akan kehilangan suami mu, Lora. "


Lora mengepalkan kedua tangannya dengan mata memerah menahan tangis. Iya, apa yang dikatakan Hanzel memang benar, pada akhirnya dia sendirilah yang lebih sibuk di banding Hanzel suaminya sendiri.


" Aku tidak tahu dari mana obsesi mu berasal, tapi percayalah padaku Lora. Kau ini seperti sedang mengejar sesuatu yang bahkan tidak akan menjamin kau bahagia. Kau mengejar sesuatu yang semu, sampai kau menjadi lupa ada hal yang jelas bisa memberikan kebahagian padamu. "


Lora masih terdiam, sekarang ini dia mulai menangis karena tak bisa berkata apapun. Semua yang dikatakan Ita benar, dan sejauh ini dia masih tidak menyadarinya sama sekali.


" Ponselku mati kak. " Lora semakin sesegukan.


" Bersiaplah Lora, kau jangan sampai melewatkan momen ini. Tuan Hanzel biasanya akan menghabiskan malam dengan teman atau kekasih nya sebelum mengenalmu. Temui dia cepat, jangan sampai dia merasa sendirian, karena bisa juga hubunganmu berakhir setelah ini. "


Lora mengangguk. Segera dia menuju kamar mandi, tidak mau berlama-lama, dia segera keluar dan memakai pakaian yang sudah di siapkan Ita. Untunglah Lora memang selalu menggunakan make up senatural mungkin jadi tidak butuh waktu lama, Ita juga dengan sigap membantu Lora untuk bersiap jadi cepat selesai, dan dia juga sudah mengisi baterai ponsel milik Lora, setelah menyala Uta menggantinya dengan power bank agar Lora bisa tetap berkomunikasi selama di jalan.


" Lora, lihat kesan masuk! Taun pasti mengirimkan pesan untukmu. "


Lora mengangguk, dengan segera dia melihat isi pesan dari Hanzel saja.


Kau masih sibuk? Malam nanti bisa pulang cepat? Kita pergi makan mau tidak? Hubungi aku kalau sudah tidak sibuk lagi. Kau sudah selesai? Nanti aku tunggu jam enam, kalau kau masih belum selesai, aku akan ke bar saja bersama teman-teman ku.


Lora melihat jam sekarang sudah akan setengah delapan, Segera Lora menuju tempat dimana Hanzel mengajaknya untuk makan malam. Sesampainya disana rupanya Hanzel sudah tidak ada, setelah bertanya kepada pelayan, rupanya Hanzel sudah pergi sekitar satu jam yang lalu. Sekarang dia segera menuju bar dimana Hanzel berada dan ini berkat Ita.


Selama di perjalanan Lora tak henti-hentinya menangis, biarkan saja matanya sembab saat bertemu Hanzel, dia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis menyesali apa yang dia lakukan sebulan ini.


***


" Hanzel, kau pasti sangat kesepian ya sampai datang ke bar? " Risha terkekeh, dia paham sekali bagaimana Hanzel, dia tidak mungkin akan merayakan hari ulang tahunnya bersama orang tuanya yang sama sekali tidak harmonis.


" Pergilah sana! Aku benci setiap kali kau selalu saja muncul di manapun. "


" Jangan terlalu galak, dari pada menghabiskan waktu sendirian untuk minum, bagaimana kalau aku temani saja? Istri dadakan mu pasti sedang sangat sibuk dengan urusan anak muda kan? "


Hanzel rasanya ingin memukul seseorang, tapi dia juga tidak mungkin memukul Risha kan?


" Pergilah sebelum aku benar-benar mabuk, aku tidak jamin apa yang akan terjadi satu menit kemudian. " Ujar Hanzel.


Resha bangkit dari duduknya, dia mendekat ke arah Hanzel dan akan memeluk pria yang terlihat sudah akan teler itu.


Lora yang melihat itu segera berjalan mendekat, meraih pundak Risha dan menjauhkan dari Hanzel.


" Lora? " Hanzel mengeryit melihat benarkah itu Lora atau bukan.


" Maaf aku terlambat. " Lora memeluk Hanzel dengan erat. Setelah mencium aroma tubuh Kita, Hanzel kini yakin benar jika itu benar-benar Lora. Segera dia merapatkan tubuh Lora yang sudah sangat ia rindukan perhatiannya sebulan lebih ini.


Bersambung.