Little Wife

Little Wife
BAB 42



Hanzel kini tengah mengobrol bersama dua temannya yang bernama Roni dan Dirga. Seperti sebelumnya saat bertemu, mereka akan menceritakan kehidupan mereka selama tidak saling bertemu. Dirga adalah pria yang dua bulan lalu menikah, dia dengan semangat menceritakan bagaimana proses terjadi pernikahan setelah kegagalannya di pernikahan pertama. Disaat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba Resha datang dengan pakaian yang agak terbuka.


" Resha, kau ini benar-benar pacar yang selalu ada di manapun pria mu berada ya? " Ujar Dirga yang belum tahu kalau Hanzel sudah menikah dengan Lora.


Hanzel, pria itu beralih pandang menunjukkan betapa tidak sukanya dia terhadap Resha.


" Aku ikut bergabung ya? " Tanya Resha, lalu tanpa menunggu persetujuan siapapun, Resha duduk di sebelah Hanzel, bahkan dia sampai Menggeser bangkunya agar lebih dekat dengan Hanzel.


" Pergilah sana, atau biar aku yang pergi. " Ujar Hanzel menahan kesal.


" Jangan mudah kesal begitu, Hanzel. Kita kan sudah lama tidak bertemu, apa salahnya kalau kita mengobrol sebentar? " Ujar Resha tersenyum manis entah apa maksudnya. Mungkin ingin menggoda Hanzel, atau memang dia orang yang suka sekali tersenyum.


" Maaf, kalian ini sedang bertengkar saja atau sudah tidak lagi berhubungan? " Tanya Dirga penasaran. Sementara Roni, pria yang sedari tadi hanya tersenyum kini masih saja memperhatikan mereka bertiga karena dia sudah tahu semuanya yang terjadi antara Hanzel dan juga Resha.


" Hanya ada salah paham saja kok. " Ujar Resha.


Hanzel menghela nafas sebalnya, tentu bukan masalah biasa kalau Resha ada disana. Dia ingat benar dulu Resha sempat membuatnya mabuk parah hanya karena ingin membuktikan kepada teman-temannya bahwa dia sangat dicintai oleh Hanzel. Aneh sih karena Hanzel yang seperti itu bisa jatuh cinta hingga bodoh, tapi semua itu memang iya benar adanya. Setelah hubungan asmaranya dengan Velove berakhir dengan jalan yang menyakitkan, dia benar-benar semakin menghargai wanita.


" Resha, aku ada istri. " Ujar Hanzel seraya menjauhkan posisi duduknya.


" Serius?! " Dirga menatap Hanzel kaget.


" Iya, aku sudah menikah. Sudah tiga bulan, kau terus saja bercerita tentang hubungan pernikahan mu, jadi aku belum sempat memberitahu mu kalau aku juga sudah menikah. "


" Wah, benar-benar kau ini ya? kenapa tidak mengundang ku sih? " Protesnya tak terima.


" Dia bahkan tidak mengundangku, apalagi kau yang jauh di luar negeri sana. " Ujar Roni.


" Selamat, Hanzel. Ngomong-ngomong kau menikah dengan siapa? Aku tahunya kau kan sudah lama berhubungan dengan Resha. "


Resha terdiam karena kesal dengan obrolan yang sedang berlangsung.


" Aku menikah dengan orang desa. Kau tida kenal di sama sekali pasti. "


Dirga mengeryit tak percaya. Orang desa? Aneh sekali batinnya. Padahal jelas sekali dia dia ingat bahwa mantan kekasih Hanzel sebelumnya adalah wanita yang bisa dibilang kekinian, apalagi Resha yang adalah anak pengusaha kaya yang cukup terkenal, jadi bagaimana bisa menikahi gadis desa dengan tiba-tiba?


" Hanzel, kau tidak melecehkan dia lalu dia hamil dan kau di tuntut untuk tanggung jawab kan? " Tanya Dirga heran.


Hanzel terkekeh, sebentar dia meminum wine yang tersisa di gelasnya.


" Tidak, sekarang dia masih kuliah. "


Dirga masih terbengong tak percaya. Sementara Roni, pria itu hanya bisa tersenyum dan menghela nafas karena dia sudah melihat Lora dari ponsel Hanzel, juga dia kan adalah sutradara saat pembuatan iklan beberapa waktu lalu.


" Istri bocah begitu apa kau tidak malu menceritakannya? Apa kau juga tidak malu kalau sampai dikatai sapi tua memakan rumput muda? " Ujar Resha. Sebenarnya kalau dibilang cemburu tentulah dia cemburu, hanya saja rasa tidak terima dengan pasangan Hanzel begitu membuatnya kesal. Lora, selain dia cantik, dia juga jauh lebih muda dari pada dirinya. Sudah begitu mulut polosnya itu juga sudah membuat dia merasa kesal bahkan sampai sekarang pun masih ada kekesalan itu dihatinya.


" Bocah? " Dirga mengeryit bingung.


" Bocah itu sepertinya masih berumur sepuluh tahun, aku sampai malu melihatnya. "


" Sepuluh tahun? " Dirga semakin mengeryit bingung hingga tidak tahu harus bertanya dari mana karena pertanyaan yang ia miliki untuk Hanzel sudah menggunung.


" Istriku sudah delapan belas tahun, dia sudah memiliki kartu tanda penduduk. Jika kau melihat dia masih seperti berusia sepuluh tahun, maka jangan abaikan wajahmu yang seperti seorang Bibi. "


Resha terperangah tak percaya jika kata-kata itu keluar dari mulut Hanzel yang ia kenal sangat pendiam selama ini. Biasanya kan Hanzel hanya akan sedikit bicara itu juga seperlunya saja, iya, atau tidak, hanya seperti itu.


" Hanya karena istri dadakan mu itu kau sampai menghinaku seperti itu ya, Hanzel? " Resha menatap sedih. Sementara Dirga tak bisa berkata-kata.


" Iya, dia istri dadakan. Tapi, dia benar-benar istri idaman. Usianya baru delapan belas tahun, tapi dia sangat sigap dan selalu mengutamakan aku, jadi aku bisa dibilang sangat beruntung. "


" Anak delapan belas tahun bisa apa sih, Hanzel? Paling cuma tahu main game, merengek, meminta uang jajan, dan nongkrong dengan teman-teman kampusnya. "


" Delapan belas tahun mu mungkin begitu, tapi istriku adalah wanita yang berbanding terbalik dengan dirimu. "


" Tunggu, Hanzel! Kau benar-benar menikahi bocah delapan belas tahun? Ah, aku penasaran bagaimana tampangnya?! " Ujar Dirga antusias. Bukan mengejek Hanzel, tapi dia merasa iri saja sahabatnya bisa mendapatkan gadis semuda itu, sedangkan istrinya malah enam tahun lebih tua darinya. Aduh, tapi dia cinta istrinya kok.


" Kau beli saja minuman botol yang diproduksi perusahaan ku. "


" Maksudnya? "


" Model yang aku gunakan untuk kemasan dan promosi adalah istriku. "


Brak!


Dirga menggebrak meja dengan kuat sehingga membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arahnya.


" Dasar brengsek! Bajingan! Bisa-bisanya kau menikahi gadis secantik itu, beri tahu aku apa resepnya! "


Hanzel dan Roni kompak menghela nafas.


" Aslinya lebih cantik, Dirga. " Ujar Roni.


" Kau sudah lihat?! "


" Sudah, kan aku sutradaranya. Makanya aku sedang membujuk Hanzel supaya membuatkan istrinya mencoba casting, wajahnya itu sangat menjual. "


" Ah, Hanzel menikahi gadis cantik dan muda kenapa aku jadi frustasi?! " Kesal Dirga.


" Iya, itu juga alasanku berada disini. Padahal aku ada banyak pekerjaan loh. " Ujar Roni seolah protes karena Hanzel sudah menolak permintaannya untuk membuatkan Lora casting. Ah, bagaimana ya? Hanzel itu sangat khawatir kalau Lora jadi artis nantinya akan banyak orang yang semakin menyukai dia, bukan tidak mungkin nanti Lora akan meninggalkannya saat merasa bosan kan?


" Tetap saja itu aneh! Dia itu masih bocah, bisa saja dia berselingkuh dengan teman kampusnya kan? " Gerutu Resha tak terima orang-orang memuji Lora.


" Heh, aku selalu meninggalkan tanda setiap kami melakukannya. Tubuhnya tidak pernah mulus, jadi itu bisa meminimalisir adanya perselingkuhan, dan lagi aku percaya dengan istriku sendiri. "


Bersambung.