
Dengan segala keberanian yang dimiliki seorang Nora Queenera, dia akhirnya mengirimkan pesan kepada Lora memintanya untuk bertemu berdua saja guna membicarakan sebuah masalah, hal penting. Sebenarnya kalau mengikuti saran dari seseorang yang tak lain adalah Ibu sambung, dan juga ada Dokter, dia diminta untuk tidak menguak tentang hal ini, tapi setelah dia pikirkan lagi, dibanding dirinya, dan juga Ayahnya, Lora adalah pihak yang paling menderita, dan juga paling tidak patas untuk disia-siakan.
Tentu saja dia tidak mengharap akan segera mendapatkan balasan dari Lora, karena dia juga paham bahwa Lora pasti sudah sangat membencinya entah sudah seberapa dalam dan besar kebencian itu. Tapi, walau bagaimanapun mereka adalah saudara kembar yang seharusnya saling mencintai dan menyayangi terlepas dari apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.
Setelah tak juga mendapatkan jawaban dari pesan yang ia kirimkan melalui pesan singkat di salah satu media sosial, Nora memutuskan untuk menjauhkan dulu ponselnya. Selain tidak boleh banyak berharap untuk bertemu dengan Lora, saat ini dia juga sedang menghindari pekerjaannya. Selain karena tidak fokus, dia juga seperti kehilangan semangat begitu mengetahui apa yang terjadi dengan Lora di masa yang lalu.
Tok Tok
" Nora, Manager Kim bilang kau tidak mengangkat telepon darinya sedari pagi, ada apa? Kau tahu kan malam nanti ada pemotretan untuk iklan sampo? "
Nora terdiam tak ingin menjawab, seperti inilah kehidupannya selama ini. Dia begitu di andalkan untuk bekerja padahal ini bukan tugasnya. Benar, Ayahnya juga bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya bersama istri yang sekarang, tapi tuntutan duniawi yang tidak bisa di jangkau Ayahnya harus dibebankan kepada dirinya. Padahal dia lelah, padahal dia tidak ingin seperti ini, meskipun pernah mengeluh sesekali dengan Ayahnya, pada akhirnya Ayah dan juga Ibu sambung akan bertengkar hebat karena keluhannya. Benar, Ayahnya sangat menyayanginya, tapi juga tidak bisa terus membelanya karena kehidupan rumah tangganya seakan di atur oleh Ibu sambungnya. Iya, tidak menampik juga kalau Ibu sambung Nora terbilang baik padanya.
" Aku sedang lelah, Ibu. " Jawab Nora, gadis itu tak menoleh ke arah Ibu sambungnya karena merasa takut juga kalau sampai Ibu sambungnya bisa melihat kebohongan dari sorot matanya.
Ibu sambung menghela nafas, dia sebentar menatap punggung Nora dan memutuskan untuk membiarkan saja sebentar Nira berisitirahat, karena seharian ini jadwal Nora sangat full. Mulai dari olah raga pagi, kuliah, les vokal, juga mengurus banyak brand yang meminta dia untuk mempromosikan produk mereka.
" Ya sudah, istirahat saja hari ini. Besok kan weekend, kau bisa gunakan sebagian waktumu untuk pergi pemotretan, dan jangan lupa juga besok ada talk show yang harus kau datangi sebagai bintang tamu ya? "
Nora menggenggam erat pinggiran tempat tidur, tapi dia juga coba untuk mengangguk meski hatinya ingin menggeleng secepat mungkin.
" Ya sudah, nanti Ibu ambilkan makan malam untukmu ya? Ibu akan antar ke kamar jadi kau bisa makan di kamar saja. "
" Terimakasih. " Ucap Nora tapi juga masih tak ingin menoleh ke arah belakang telat dimana Ibu sambungnya berada.
" Iya, sama-sama. " Ibu sambung tersenyum meski tahu jika Nira sama sekali tak melihatnya, lalu keluar dari kamar dengan ekspresi yang berbeda. Dia tak lagi tersenyum, mimiknya nampak seperti menahan kesal karena tahu Nora tengah berbohong padanya untuk suatu hal. Bisa dia tebak, jika bukan karena Alexander pria yang katanya tunangannya tapi selalu mengabaikan nya, kemungkinan keduanya adalah Nora merindukan masa dulu yang jelas hanyalah masa lalu baginya.
***
" Sayang, mau bawa ini tidak? Bagaimana dengan yang ini? " Lora menunjukkan satu persatu pakaian Hanzel, ah! Tapi Lora benar-benar sangat bersemangat, karena sedari tadi yang banyak dia masukkan ke dalam koper hanyalah kain segitiga milik Hanzel, juga celana pendek saja. Oh, mungkin karena dia berpikir Hanzel lebih tampan tanpa menggunakan pakaian atas.
" Sayang, kita apa perlu bawa camilan juga? "
Hanzel tersenyum, dia yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya jadi tidak bisa fokus dan memilih untuk menghampiri Lora.
Lora menelan salivanya, kemudian dengan cepat mengeluarkan sebagian pakaian bawah Hanzel dengan banyak sekali baju-baju Hanzel disana. Hanzel, pria itu terkekeh sembari mengusap kepala Lora. Sungguh senang sekali melihat Lora yang seperti ini, Hanzel jadi merasa benar-benar memiliki keluarga sungguhan. Garis besarnya adalah, Hanzel bisa melindungi, mencintai, dan memperlakukan Lora sebaik mungkin sebagai seorang istri karena dia merasa begitu dihargai oleh Lora berbanding terbalik dengan saat bersama Risha. Gadis itu memang sangat cantik, tapi dia juga sangat kaya, dan bisa dibilang dia adalah anak kesayangan karena dia adalah anak gadis satu-satunya. Saat bersama Risha, Hanzel sebenarnya merasa tertekan karena setiap kali yang dilakukan tidak ada artinya bagi Risha. Makanan mewah apapun jelas sudah pernah dimakan Risha, berlibur juga maunya selalu ke Eropa, dan negara-negara maju lainnya sedangkan Hanzel bukan orang yang memiliki banyak waktu seperti Risha, jadilah hubungan mereka seperti kepompong kosong yang tak memiliki arti.
" Sayang, pokoknya selama di Bali, kau tidak boleh buka baju sama sekali ya? " Linta Lora dengan tatapan memohon. Ah, dia benar-benar sangat imut, jadi boleh lah menyimpan wajah imut Lora di dalam hatinya.
" Di Bali adalah tempatnya orang tanpa busana lengkap, jadi mana mungkin aku memakai baju? " Goda Hanzel.
Lora melotot seolah menunjukkan betapa tidak setujunya dia dengan apa yang diucapkan Hanzel barusan.
" Tidak boleh ah! Pokonya semuanya yang ada di tubuhmu adalah milikku! "
Hanzel terkekeh, tapi dia juga segera mengangguk setuju saja asalkan Lora tetap bahagia, bukankah tidak mungkin Lora akan meninggalkannya?
Ketika mereka sedang asik bercanda, tak lama terdengar suara ketukan pintu, dan jelas lah itu pasti Ita. Lora bangkit dengan cepat untuk membuka pintu, karena Ita bukan orang yang suka mengetuk pintu kamar, datang ke kamar kalau ada Hanzel di sana, kalau dia sampai mengetuk pintu kamar di saat begini, berarti ada hal penting dan juga mendesak.
" Kak Ita, ada apa? "
Iya nampak panik, tapi dia juga segera memberitahu apa yang membuatnya panik.
" Lora, di luar ada Roni! Tolong minta Tuan Hanzel untuk menemuinya ya? Aku akan segera masuk ke kamar dan tidak akan keluar kalau dia belum pergi. "
Lora yang bingung hanya bisa mengangguk setuju saja.
" Sayang, kata kak Ita, di luar ada kak Roni. ''
Hanzel mengangguk karena dia juga mendengar Ita bicara tadi.
" Ya sudah, aku turun dulu untuk menemui Roni ya? " Lora mengangguk setuju.
Bersambung.