
Seperti janji Ayahnya Nora dan Lora, dia sudah fokus untuk menyembuhkan diri dengan menjalani beberapa terapi setiap minggunya, obat juga hampir gak pernah absen dia konsumsi. Apapun saran Dokter benar-benar di lakukan demi kedua putrinya. Meksipun ada juga rasa rindu dengan putri ketiganya yaitu anak dari istri sekarang ini, karena walau bagaimanapun dia juga putrinya.
Nora, gadis itu akhirnya memenuhi keinginan Lora untuk fakum sementara waktu dari dunia hiburan, dan kini tengah fokus dengan kesembuhan nya.
Nora menghela nafas merasakan terik matahari yang menyengat di kulitnya. Hah! Benar-benar malas sekali sebenarnya harus berada di rumah sakit, selain malas bau obat, dia juga malas menerima kenyataan bahwa dia sedang sakit sekarang ini.
" Sialan, panas sekali! " Kesal Nora karena sampai merasakan terbakar. Yah, untung saja dia selalu memakai kaca mata hitam dan masker wajah, kalau tidak dia pasti sudah akan mengeryit silau dan merakan panas di seluruh wajahnya.
Tak tahan lagi, Nora buru-buru untuk menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit.
Bruk!
" Ah! " Pekik Nora saat seorang pria matang tak sengaja menabraknya. Kalau di lihat-lihat dari cara dia berjalan dan mimik wajahnya, sepertinya pria itu sangat terburu-buru.
" Maaf, maaf. " Pria itu menahan lengan Nora karena takut dia akan terjatuh.
" Tidak apa-apa kok. " Ujar Nora yang merasa kasihan juga kalau sampai pria itu akan menemui orang yang sedang sakit di dalam sana.
" Syukurlah. " Ujar pria itu.
Setelah Nora membenahi posisinya untuk lebih kokoh berdiri, dia kembali menatap pria itu.
" Pergi saja, anda buru-buru untuk menemui orang di rumah sakit kan? "
Pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tersenyum kikuk seolah yang dikatakan Nora sangat tidak sesuai dengan apa yang terjadi, alias kebalikannya.
" Aku memang buru-buru, tali bukan untuk menemui orang di dalam sana, tali aku ingin kabur dari orang yang sedang di rawat di dalam sana. "
Nora ternganga bingung.
" Kenapa? " Tanya Nora yang tak tahan untuk ingin tahu karena jawaban pria itu sungguh membuatnya bingung dan sulit mengerti.
" Di dalam sana mantan istriku sedang di rawat. Orang tuanya, dan keluarnya terus membujukku untuk kembali dengannya, makanya aku buru-buru ingin kabur. "
Nora terkekeh geli mendengarnya. Sungguh lucu sekali ya? Kalau di antara Nora dan Alexander ada ikatan pernikahan nantinya, pasti Nora akan menjadi mantan istri pria yang berdiri di hadapannya itu.
" Lucu ya? " Pria itu bertanya tapi mimiknya juga nampak bergurau.
" Ah, maaf. "
" Tidak apa-apa. "
" Oke, aku masuk dulu. " Ucap Nora menunjuk mobilnya yang ada di dekat pria itu.
" Iya, silahkan. " Ujar ya seraya menyingkir dari Lora dan berjalan untuk masuk juga ke mobilnya yang terparkir bersebelahan dengan Nora.
Ah, siap! Batin Nora menggerutu di dalam sembari memukul setir kemudinya. Rupanya pria itu merasa ada yang tidak beres dengan Nora, jadi dia memutuskan untuk keluar dulu dari mobil dan menghampiri Nora.
Tok Tok
Pria itu mengetuk jendela mobil, dan dengan segera Nora menurunkan kaca mobil.
" Apa ada masalah? " Tanya pria itu.
" Mau aku antar pulang, atau butuh di belikan bensinnya? "
Nora nampak berpikir sebentar.
" Antar pulang saja boleh? " Tidak tahu mengapa, padahal jelas kalau pria itu adalah orang asing, tapi Nora sama sekali tak merasa was-was seperti biasanya jika bertemu orang asing.
" Maaf merepotkan. " Ucap Nora sembari melepas kaca mata hitam dan masker wajahnya. Pria itu tadinya Ingin menjawab ucapan Nora, tapi begitu melihat wajah Nora, pria itu jadi mengeryit mengingat-ingat dimana pernah melihat Nora sebelumnya.
" Wajahmu tidak asing ya? Masih sangat muda juga, apa iya hanya perasaan ku saja? " Ujar pria itu.
Nora tersenyum.
" Aku Nora, kalau beberapa waktu belakangan ini ada iklan kosmetik di televisi, itu adalah aku. "
Pria itu kembali menoleh kepada Nora untuk memastikan.
" Ah, pantas saja tidak asing. " Ujar pria itu.
" Senang sekali bisa bertemu langsung dengan aktris cantik. "
Nora tersenyum kembali, sebenarnya bukan hal aneh kalau ada yang bicara seperti itu saat bertemu dengannya, tapi entah mengapa ucapan remeh pria itu cukup membuatnya senang.
" Nama anda siapa? " Tanya Nora.
" Namaku Angkara, salam kenal ya nona Nora. "
" Iya, senang bertemu dengan anda. "
" Tidak usah seformal itu, santai saja. "
" Baiklah, senang bertemu dengan mu. " Ujar Nora menyodorkan tangannya untuk saling bersalaman.
Angkara menyambut tangan itu dengan senang hati. Iya, Angkara adalah paman dari Resa yang kini sedang di penjara karena telah memfitnah Lora dan mengancamnya juga.
Setelah obrolan ringan mereka, entah mengapa mereka sangat nyaman satu sama lain karena arah pembicaraan di antara mereka benar-benar sangat cocok. Sesampainya di rumah, Nora juga merasakan hal aneh karena terus teringat dengan pria yang usianya jauh darinya itu. Angkara, dia mengaku kalau dia adalah duda tanpa anak, dan sepertinya itu adalah benar.
Ting!
Nora tersentak karena suara ponselnya, lalu dengan segera meraihnya untuk melihat siapa Yanga mengirim pesan. Ah, dia Angkara! Dia mengirim pesan dan mengabari bahwa dompet Nora tertinggal di sana, dan untunglah kartu nama Nora juga ada disana.
Nora tersenyum, aneh kan? Iya itu memang aneh! Tapi semenjak bertemu dengan Angkara, dia jadi merasa kalau dia terus bahagia dan bisa tersenyum terus seperti ini.
Nira berdehem untuk memperbaiki suaranya, lalu dia menghubungi Angkara dengan nada bicara yang sok panik. Iya, dia mengatakan bahwa maaf sekali karena lagi-lagi harus merepotkan untuk mengirim dompetnya. Syukurlah Angkara benar-benar bertindak seperti yang dia inginkan. Dia bersedia untuk mengantarkan secara langsung kepada Nora.
***
Angkara menjauhkan ponselnya setelah menghubungi Nora, sebenarnya dia merasa mengembalikan dompet itu adalah kewajibannya, tapi di usianya sekarang entah mengapa dia memiliki ketertarikan kepada gadis yang jelas sangat jauh sekali dari usianya. Ah, benar-benar! Di usianya Nora tidak mungkin kan kalau Angkara akan di sebut pedofil?
" Sebenarnya aku ini kenapa ya? Masa iya aku tertarik dengan gadis muda seperti itu? Apalagi dia juga seorang aktris. Sudahlah Angkara, mungkin saja ada satu dari banyak gadis yang menyukaimu bisa membuatmu jatuh cinta. " Gumam Angkara seraya menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sebenarnya proses perceraian antara Angkara dan mantan istrinya sedang dalam proses, dan dua hari lagi adalah keputusan sidang yang akan menentukan bagaimana hasilnya nanti. Masih terlalu dini untuk jatuh cinta, apalagi gadis itu adalah seorang aktris, jadi akan lebih baik kalau tidak terlalu banyak berkhayal.
Bersambung.