
Lora masuk ke dalam mobil dengan cepat, mencium pipi Hanzel dulu sebelum memakai sabuk pengaman. Berbeda dengan Hanzel yang baru saja datang tapi sudah tidak enak moodnya. Sudah bisa dia tebak sih kalau akan banyak pria yang mendekati Lora, buktinya tadi ada dua pria yang terus menatap Lora dan mengajaknya bicara. Benar-benar semakin tidak tenang, apa harus membuat Lora kuliah dari rumah saja?
" Tuan, kenapa diam saja? " Tanya Lora bingung.
" Tidak apa-apa, tadi itu siapa yang mengobrol denganmu? " Hanzel bertanya seraya melakukan mobilnya meninggalkan gerbang kampus.
" Oh, itu namanya, " Lora mengernyit karena dia lupa siapa nama dua pria tadi. Sebentar dia mengingat-ingat, nyatanya dia masih tidak bisa mengingatnya.
" Siapa? "
" Lupa, Tuan. Tadi mereka sudah memberitahu namanya, tapi aku sudah tidak ingat lagi. "
Hanzel tersenyum tipis, sudahlah, sepertinya Lora memnag tidak ingat, karena juga berarti bahwa dua pria itu tidak memiliki kesan spesial jadi Lora tidak terlalu mengingatnya.
" Bagaimana hari ini? " Tanya Hanzel.
" Semua berjalan lancar, Tuan. "
Setelah itu tak ada lagi yang mereka obrolkan. Hanzel mengantar Lora pulang kerumah, dan dia langsung kembali ke kantor. Sebenarnya Lora sudah bilang untuk membuatkan dia naik taksi saja, tali Hanzel malah melarang keras, dia bahkan rela mondar-mandir mengantar jemput seperti sekarang ini.
Lora tersenyum bahagia seraya melambaikan tangan sampai mobil Hanzel tak terlihat lagi. Rasanya sangat bahagia memiliki orang yang perduli dengannya. Padahal dulu dia hanya bisa iri melihat teman-temannya memiliki keluarga bahagia, semetara dirinya tidak. Tinggal disebuah keluarga, tapi dia merasa diperlakukan seperti binatang. Membersihkan rumah, memasak, bahkan mengajari anak kandung mereka mengerjakan tugas sekolah. Tapi untuk makan saja harus menunggu sisa mereka, kadang juga tidak tersisa sama sekali. Sekarang dia bisa hidup dengan baik kayaknya manusia lainnya, ah tidak! Dia lebih baik dati pada teman-teman sekolahnya dulu.
" Cie, sudah semakin mesra saja ya kalian. " Ledek Ita yang entah sejak kapan berada di balik punggungnya.
" Kak Ita? Mengagetkan saja! " Sebal Lora tapi dia juga terkekeh setelah mengatakan itu.
" Hubungan kalian termasuk cepat kemajuannya loh, aku sampai merona kalau melihat kalian mesra. " Ujar Ita lalu melanjutkan kegiatannya yang tengah menyapu halaman.
Lora tersenyum, tapi menghela nafas setelahnya. Sayang sekali ya hubungan pernikahan dengan orang sebaik Hanzel harus ada surat perjanjian, dia jadi harus meminum pil penunda kehamilan setiap hari seperti pasangan muda yang berpacaran dan takut hamil.
" Kak Ita, wanita yang dicintai Tuan pasti sangat beruntung sekali ya? " Ujar Lora.
Ita terdiam sebentar, menatap Lora dan menghela nafas setelahnya.
" Iya, wanita itu seharusnya merasa beruntung. Tapi ada juga manusia yang kadang rasa haus akan sesuatu yang lebih membuatnya mengkhianati Tuan. "
Lora menoleh menatap Ita dengan tatapan penuh tanya.
" Maksud kakak? "
" Sebenarnya aku tidak enak kalau menceritakan masa lalu Tuan, tapi tujuanku bercerita kali ini adalah karena ku ingin kau belajar dari kesalahan mereka, jangan sampai kau melakukan kesalahan itu. "
" Apa? Aku tidak paham kak. "
Lora menelan salivanya sendiri, gila! Benar-benar luar biasa berani wanita seperti itu. Anaknya, Ayahnya juga?
" Kau pasti bertemu dengan Velo kan? Dia itu mantan kekasih Tuan Hanzel. "
" Iya, pantas saja bicara begitu ya kak? "
" Iya, setelah ketahuan selingkuh dia ingin kembai kepada Tuan Hanzel, tapi karena dia hamil anak Tuan Haris, jadi rencana untuk mendekati Tuan Hanzel lagi dibatalkan. Tiga bulan setelah Velo dan Tuan Haris menikah, eh ternyata Velo keguguran, sampai sekarang belum hamil lagi. "
Lora menggeleng heran, padahal Tuan Haris itu terlihat ada masalah dengan kakinya jadi agak sulit berjalan. Tapi dibalik itu ternyata Tuan Haris adalah pria yang ehem ya?
" Kalau pacar Tuan Hanzel yang sekarang, dia itu anaknya pengusaha batu bara. Namanya Risha, dulu sih aku sempat mendengar mereka bertengkar di atas, tapi setelah hari itu Risha tidak pernah kesini lagi.
Lora terdiam tak tahu harus bagaimana merespon cerita Ita yang sekarang. Anak pengusaha batu bara, sudah pasti kaya kan? Lalu dia? Cuma gadis desa, korban pelecehan Ayah angkat juga, jadi wajar saja kalau dinikahi secara kontrak.
" Risha itu sangat kukuh orangnya. Kalau tidak salah waktu itu Tuan Hanzel dan Risha ribut gara-gara Risha ingin keluar negeri bersama teman-teman nya, tapi Tuan Hanzel melarang. Juga aku pernah dengar, sebenarnya Risha itu dijodohkan dengan kenalan bisnis Ayahnya karena tidak setuju dengan Tuan Hanzel yang terkenal anak dari Tuan Haris yang suka mengoleksi wanita untuk dijadikan istri. "
" Cinta mereka sangat di uji sekali ya? " Ujar Lora.
" Iya, Risha itu kan putri satu-satunya dari pembisnis batu bara yang terkenal, orang seperti itu tentu saja sangat menjaga anaknya, kau tahu sendiri kan bagaimana Tuan Haris? Mereka pasti takut Tuan Hanzel akan seperti Ayahnya. "
" Padahal Tuan itu sangat baik, mana mungkin dia akan seperti Ayahnya. " Gumam Lora.
***
Nora terdiam dipinggiran jendela memikirkan Lora yang dia curigai adalah saudari kembarnya. Jika memang iya, kenapa dia tidak mengatakan kepada Nora? Apakah hanya kebetulan namanya sama, dan wajahnya agak mirip Ibu kandungnya? Rasanya dia ingin sekali berbagi tengah masalah ini, tapi dengan siapa? Ayahnya? Tidak! tidak mungkin!
Nora kembali melihat photo-photo yang diunggah oleh Ardan. Disana ada Lora di bagian tengah mahasiswa lain yang tengah duduk memperhatikan pembina Ospek. Nora memperbesar gambar itu dan terus mengamati wajah Lora. Iya, memang benar mirip Ibunya. Tapi hatinya masih belum bisa percaya, meskipun Arlando sudah memberi tahu nama panjang Lora yang sama dengannya.
Apakah ini kebetulan? Kalau iya kenapa sangat mirip semua kebetulan ini?
" Bagaimana kalau iya? Aku tidak mungkin menceritakan kepada Ayah tentang semua ini. " Nora memeluk lututnya, menaruh wajahnya disana untuk menangis.
Mungkin jika benar itu Lora, dia harus bersiap untuk dibenci. Mungkin juga dia harus siap mendapatkan balasan dari apa yang dia lakukan. Lalu, apakah jika dia mejelaskan mengapa semua ini bisa terjadi dia akan percaya?
" Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menceritakan ini kepada Ayah, aku tidak ingin semuanya hancur. "
Nora mengangkat wajahnya, mengusap air matanya.
" Kalaupun itu Lora, memang apa masalahnya? Aku hanya perlu tidak mengenalinya kan? Lagi pula sudah puluhan tahun, jadi benar atau bukan tidak akan aku biarkan orang tahu kau adalah saudariku. Terutama Ayahku. "
Bersambung.