
Hari kedua untuk kuliah, dan jadwal hari ini adalah ospek mahasiswa/i baru. Tak kalah seperti hari kemarin, Lora juga terlihat lebih cantik dengan setelan Jeans dan kemeja dengan motif bunga kecil. Rambutnya tergerai seperti kemarin, hanya saja hari ini Lora terlihat lebih cantik lagi karena perona pipi tipis yang membuat wajahnya bersemu merah, warna lipstik yang pink kemerahan membuat wajah Lora nampak seperti tokoh anime.
Boleh saja wajah Lora semakin cantik, tapi Hanzel juga malah menjadi semakin was-was dibuatnya. Maklum saja, di kampus kan banyak pemuda tampan yang umurnya tidak jauh dengan Lora, pasti akan lebih nyaman bagi Lora bergaul dengan mereka, berteman biasa, lalu kelamaan menjadi lebih dekat, dan akhirnya menjadi pasangan kekasih. Hah! Kalau saja tidak ada surat perjanjian itu, Hanzel tentu bisa melarangnya dengan tegas. Tapi dia sendiri juga lah yang memperngatkan Lora agar merahasiakan hubungan mereka dari pihak luar.
Hanzel menghela nafas sebal, dia terus saja memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu sehingga membuat kepalanya pusing. Duh, dia jadi ingat juga kalau Lora akan kerja paruh waktu beberapa hari lagi. Hanzel mengusap wajahnya dengan kasar, tidak tahu apa yang membuatnya khawatir seperti ini, tapi apakah salah jika seorang suami mengkhawatirkan istrinya sendiri?
" CK! Kenapa juga sih Lora harus secantik itu? Aku jadi tidak konsentrasi bekerja jadinya. " Gumam Hanzel yang sudah tak tahan lagi dengan pemikirannya yang selalu tertuju kepada Lora.
Berbeda dengan Hanzel yang sedang pusing karena mengkhawatirkan Lora, gadis cantik itu justru begitu menikmati masa ospek yang mengingatkan dia dengan saat masuk sekolah menengah atas dulu. Lelah memang, bahkan sekarang dia juga berpenampilan lucu dengan rambut di ikat menjadi dua, dan dia merasa senang karena baginya itu nampak lucu. Di sela waktu istirahat, Lora mengambil photo dirinya, lalu mengirimkan kepada Hanzel dengan keterangan, Aku lucu kan?
Sungguh tidak disangka kalau Hanzel akan membalas pesannya secepat itu.
Itu bagus, tapi jangan sampai mengunggah photo itu di media sosialmu!
" Kenapa? " Balas Lora.
Tidak boleh! Tidak ada alasan!
Lora terkekeh geli membaca pesan yang dikirimkan Hanzel barusan. Tidak tahu kenapa dia begitu sensitif dua hari ini, mungkin karena banyak pekerjaan.
" Sudahlah, nanti pulang baru peluk dia dan layani degan baik saja. " Lora memasukkan kembali ponselnya. Sebenarnya dia bahkan lupa kalau pernikahan mereka ada surat perjanjian yang seharusnya dipatuhi. Sudah hampir satu bulan hidup bersama Hanzel, dan satu bulan ini dia juga sudah berusaha menjadi semakin baik setiap harinya demi Hanzel, juga tujuannya.
Sudah waktunya pulang, Lora yang belum mendapatkan teman akrab hanya bisa berjalan sendiri ke pintu gerbang dan menunggu Hanzel yang akan menjemputnya tiga puluh menit lagi. Tidak apa-apa lah, baru tiga puluh menit, kalau Hanzel memintanya menunggu tiga puluh hari disana dia juga tidak akan keberatan kok.
Lora berjalan sembari memegangi ponselnya karena tengah bertukar pesan dengan Ita. Wanita itu benar-benar sudah seperti kakak kandungnya saja. Baru bertanya bagaimana ospek hari ini? Ada masalah tidak di kampus? Menyemangati, juga mengirim pesan mengocok perut, juga tidak ketinggalan mengirim pesan berupa gambar tidak senonoh sebagai penyemangat dalam melayani Hanzel.
Bruk!
" Ah! Maaf! " Ucap Lora, dia terlalu fokus dengan ponselnya sehingga berjalan terus menunduk dan menabrak seorang pria tinggi dengan dada bidang lengkap dengan pakaian rapih seperti Hanzel saat akan pergi bekerja.
" Tidak apa-apa, fokuslah saat berjalan. " Ucap pria itu.
" Iya, sekali lagi maaf. " Ucap Lora seraya menggeser tubuhnya untuk melakukan langkahnya.
" Eh, Lora? "
Lora menoleh ke pria yang memanggil namanya. Dia adalah pria yang kemarin dan hari membimbing jalannya acara kampus. Lora sebenarnya agak lupa, tapi melihat cara dia tersenyum, Lora jadi ingat setelahnya.
" Kau mau pulang? " Tanyanya, dia berdiri di dekat pria yang tadi di tabrak Lora, sepertinya mereka kenal, atau bahkan dekat.
" Iya. " Jawab Lora singkat.
" Mau kami antar tidak? Kakak ku ini calon tunangannya Nora yang selebriti itu loh, kau ingat dia kan? "
Lora tersenyum, ternyata kakaknya adalah calon tunangan Nora?
" Ah maaf, aku tidak terbiasa begitu dekat dengan orang asing. Maklum saja, aku kan dari pedesaan yang agak sepi penduduk, jadi memnag tidak terlalu biasa bergerombol seperti itu. " Lora mengakhiri ucapannya dengan senyum .
" Ah, Lora. Kau bilang dari pedesaan, tapi kau tidak terlihat seperti itu, bilang juga tidak punya ponsel, tapi ponselmu saja keluaran terbaru yang sudah dua bulan ini aku idam-idamkan. "
Lora kembali tersenyum, mana dia tahu kalau ponsel yang dipilih Ita adalah ponsel keluaran terbaru? Dia tahunya hanya untuk mengirim pesan, melakukan panggilan video, mengirim gambar, dan menonton tutorial make up, memadupadankan pakaian dengan riasan, ya hanya sebatas itu. Masalah ponsel keluaran terbaru, ponsel mahal, Lora benar-benar zonk pengetahuannya.
" Oh, begitu ya? " Lora menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Aku juga tidak terlalu ingat alamatnya. "
Hah?
" Kau ini sangat aneh ya? " Ujarnya lalu terkekeh.
" Oh iya, kenalkan, namaku Arlando. Ini kakak ku, calon tunangan Nora, namanya Alexander. "
Lora tersenyum sedikit membungkuk. Lagi, dia benar-benar tidak tahu caranya berkenalan, tapi saat Arlando menyodorkan tangannya, dia tahu kalau itu untuk bersalaman, jadi dia meyambut tangan itu.
" Ayo salam kak! " Ujar Arlando kepada kakaknya Alexander. Pria yang katanya calon tunangan Nora itu menyodorkan tangannya, lalu disambut juga oleh Lora.
" Aku Lora, senang berkenalan dengan kakak berdua. " Ucap Lora setelah melepaskan tangannya dari Alexander.
" Oh iya, kemarin aku melihat draft pendaftaran mu, ternyata namamu dan nama Nora benar-benar hanya beda satu huruf saja loh. "
Lora tersenyum.
" Benarkah? "
" Iya! Nora Queenera, dan Lora Queenera. Aku jadi menduga kalau kalian kembar, hahaha... "
Alexander tanpa sadar terus menatap ke arah Lora, memperhatikan bagaimana gadis itu tersenyum, bahkan saat berbicara juga nampak sangat mempesona dan berbinar cantik.
" Di desaku nama Lora Queenera ada tiga loh. "
Arlando terbelalak kaget.
" Berarti orang desamu sangat gaul menamai anak mereka ya? "
" Iya, seperti itulah kira-kira. " Lora memaksakan senyumnya.
" Kak Alex? " Sapa Nora dengan wajah semangat berjalan ke arah Alexander. Tak hanya itu, bahkan Nora nampak manja kepada pria itu.
" Ayahku meminta untuk menjemput kalian karena nanti ada acara makan malam bersama, jadi cepatlah aku harus kembali bekerja. " Ucapnya dingin.
" Oke kak! "
" Lora, kami duluan ya? Kau sungguh tidak ingin pulang bersama kami? "
Lora menggeleng dengan bibir tersenyum.
" Ikut saja, kami tidak akan menjahatimu. " Ucap Alexander.
" Terimakasih banyak. Oh, itu sudah datang! Aku permisi, sampai jumpa besok. " Ucap Lora, lalu berlari mendekati mobil Hanzel.
" Dia anak orang kaya ya? " Gumam Arlando.
Alexander, pria itu tersenyum tipis.
Bersambung.