Little Wife

Little Wife
BAB 72



Hari-hari liburan Kita dan Hanzel benar-benar dirasa sangat membahagiakan. Mereka akan Bangun pagi-pagi, lalu sarapan bersama, pergi mengunjungi tempat yang mereka rencanakan saat malam hari. Memang hanya begitu setiap harinya tapi melakukannya bersama orang yang saling mencintai benar-benar membuat mereka tak pernah luput dari hati yang bahagia.


Hari ini mereka sudah sampai di kota asal mereka tinggal, Hanzel juga harus segera melakukan kegiatan seperti biasanya. Lora juga akan mulai kembali aktif kuliah di rumah entah belum tahu mau sampai kapan.


Setelah selesai kuliah, Lora sebentar duduk di meja makan menunggu Ita yang sedang menggoreng kan ayam untuk mereka berdua makan karena Hanzel tidak lagi pulang saat siang hari. Maklum saja, setelah satu pekan berlibur meninggalkan pekerjaan, pastilah pekerjaan Hanzel di kantor sudah sangat menumpuk.


" Apa yang sedang kau lihat, Lora? " Tanya Ita seraya berjalan mendekati meja makan dengan piring ditangannya bersisi beberapa potong ayam goreng.


" Hanya melihat seorang wanita yang menjadi Ibu tirinya Nora. Wajahnya benar-benar sangat cantik, senyumnya manis sekali, tapi aku benar-benar tidak menyukainya padahal aku tidak pernah bertemu dengannya. " Ujar Lora seraya menjauhkan ponselnya.


Ita meraih ponsel Lora dan minat photo wanita itu.


" Ini kan? " Ita menatap dengan dahi mengeryit seperti sedang teringat wajah seseorang yang di kenal, tapi dia juga masih terus menatap untuk meyakinkan dugaannya.


" Ada apa kak? "


Ita meletakkan ponsel Lora ke tempat asalnya.


" Aku baru sadar kalau Ibu tiri dari artis muda idolaku adalah orang yang aku kenal. Meskipun ada beberapa perbedaan seperti gaya rambut, cara memoles make up, tapi aku masih bisa mengenalinya, dia itu mantan asisten model senior ku dulu. "


Lora mengeryit bingung, bagaimana bisa? Yang ia tahu Ayah dan Ibunya kan tidak memiliki pekerjaan di dunia hiburan, bagaimana bisa dia mengaku kalau dia adalah rekan kerja Ayahnya?


" Kak Ita yakin? "


" Yakin, dia itu dulu juga memiliki masalah denganku, dan juga model senior, tentu aku yakin sekali kenal dia. "


" Memang masalah apa? "


Ita menghela nafasnya.


" Dulu dia mencoba gaun yang akan aku pakai untuk pemotretan, dia tidak sengaja merusak gaun itu lumayan parah, sayangnya gaun itu adalah edisi terbatas. Awalnya aku lah yang kena imbasnya karena dia menuduhku mencobanya tanpa pendamping busana. Tapi setelah diselidiki, dia terbukti bersalah. Sebenarnya aku tidak mau lagi mempermasalahkan hal itu karena aku sudah bebas dari tuduhan, tapi bagaimana lagi? Semua kru dan juga seniorku menentang dia untuk terus bekerja. "


Lora jadi merasa semakin aneh. Jika benar, tidak mungkin kan dia bisa bekerja bersama dengan Ayahnya. Lora ingat benar bahwa Ayahnya bekerja di salah satu tambang batu bara, begitu juga dengan Ibunya.


" Kak, kapan kejadian itu terjadi? "


" Sudah lama sekali, mungkin sekitar lima belas tahun atau empat belas tahun lalu. "


Lora tak lagi bicara, bukan karena tidak ingin mengatakan kepada Ita, tapi dia sendiri masih bingung sehingga memilih untuk diam sampai dia bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi.


Begitu selesai dari makan siang, Lora segera kembali ke kamar. Tidak lagi banyak menonton video tutorial seperti biasa untuk mengisi waktu kosong, tanaman juga sudah ia urus tadi pagi sebelum kuliah dimulai. Karena tidak ingin menyimpan kecurigaannya sendiri, Lora akhirnya mengirim pesan kepada Nora dan mengatakan segalanya agar Nora juga mulai mencari tahu kembali sebelum terlaku jauh kebohongan wanita itu berlangsung.


Belum juga mendapat balasan, padahal sudah hampir satu jam dan ini baru pertama kalinya Nora begitu lama membalas pesan darinya.


***


Saat ponsel Nora berbunyi beberapa saat lalu, Nora justru tak dapat membacanya sama sekali karena ponselnya telah disita oleh Ibu tirinya dengan alasan bahwa Nora membangkang dan hukuman karena sudah kabur di saat banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Menurutnya, Nora sudah membuat rugi banyak pihak. Termasuk pribadinya, agensi, bahkan juga manager indah sekarang sedang kelimpungan menyelesaikan banyak pekerjaan dan meminta maaf kepada pihak yang telah dirugikan.


Setelah membaca pesan itu, Ibu tiri Nora segera menghapus pesan, lalu mengeluarkan simcard milik Nora dan membuangnya. Setelah satu jam, barulah dia masuk ke dalam kamar Nora untuk menyerahkan ponselnya.


Nora, gadis itu hanya bisa terdiam menatap marah wanita yang selama ini menjadi Ibu tiri untuknya. Dia tak bicara, tapi dia mampu membaca apa saja kira-kira yang dilakukan oleh Ibu tirinya. Iya, dengan melihat Ibu tirinya menggenggam ponselnya, sekarang dia tahu benar bahwa isi ponselnya sudah di obrak-abrik, termasuk pasti tentang Lora. Pesan dari Lora tentu sudah dia hapus bersih, tali yakin seratus persen Lora juga mengirim pesan selama ponsel di sita oleh Ibu tirinya itu.


" Kau tahu benar apa resikonya jika melakukan itu kan? "


Nora mengepalkan tangannya, pertanyaan ini adalah kalimat yang paling sering dia dengar dari wanita empat puluh tiga tahun itu. Dulu dia sungguh takut setiap kali wanita itu mengatakan barisan kalimat yang dia anggap sebagai ancaman. Tapi sekarang, entah mengapa dia tak lagi merasakan takut tapi dia juga tidak ingin memberontak karena yakin saja tindakan itu akan berefek buruk untuk dirinya, Lora dan Ayahnya.


" Kau tahu kan kalau akan lebih baik tidak menemui anak itu? Ayahmu lebih penting bukan? Kalau kau benar-benar ingin terus menjaga Ayahmu, maka kau harus pandai-pandai memilih tindakan mana yang harus kau pilih. "


Nora, dia menahan semua makian di dalam hatinya. Bukan tidak berani menyampaikan betapa marahnya dia karena terus di ancam, hanya saja tidak baik juga kalau sampai Ayahnya dengar kan? Sabar saja, nanti akan ada masanya dia bisa menyelesaikan masalah ini, dan menemui Dokter spesialis terbaik untuk berjaga-jaga.


" Aku hanya ingin saudari ku tidak merasa terbuang. Bagaimanapun juga, kami adalah saudara kandung yang tidak seharusnya berpisah dan tidak saling mengenal. " Ujar Lora mencoba sebaik mungkin meredam emosi.


Ibu tiri menghela nafas, lalu menatap Nora dengan tatapan yang sulit untuk Nora artikan. Seperti menyelidik, tapi serasa juga meremehkan, dan menekan, mengancam agar jangan sampai ditemukan kebohongan di dalam ucapannya itu.


" Nora, kau boleh berbohong sebanyak yang kau mau. Ingatlah, tidak ada kebohongan yang sempurna. "


Nora menatap kedua bola mata Ibu tirinya.


Benar, tidak ada kebohongan yang sempurna. Aku akan tunjukan padamu bukti dari kata-kata mu barusan.


Bersambung.