
Setelah hari itu, Nora benar-benar tidak bisa bebas seperti biasanya. Dia sadar benar jika ponselnya di retas, asistennya juga mengikuti kemanapun Nira pergi, bahkan mulai dari hari ini dia ikut tinggal bersama dengan Nora. Kamar Kita di pasang kamera pengawas membuat gadis itu benar-benar tidak nyaman di kamarnya sendiri. Untung saja tidak ada kamera pengawas di kamar mandi, tapi Nora juga tetap tidak bisa melakukan kecurangan apapun karena ponselnya dalam mode retas.
Sebenarnya dia pasti yakin kalau Lora sudah mencurigai ketidakwajaran ini, sekarang dia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Lora bisa segera datang membantunya keluar dari situasi ini. Tidak ada lagi manager Indah, karena dia seperti sengaja di buat sibuk dengan banyak urusan, bahkan membalas satu pesan pun dari Nora juga tidak bisa.
" Nora, adikmu ingin pergi nonton, kalau bisa luangkan waktumu. " Ucap Ibu tiri begitu Nora sampai di rumah setelah selesai kuliah, langsung datang ke acara talk show, dan sekarang ini benar-benar dia senang lelah.
" Tidak bisa, aku sedang lelah. Lain kali saja. " Nora tadinya ingin berlalu begitu saja, tali ucapan Ibu tirinya membuat Nora kembali harus mendengarkan ucapan itu.
" Nora, image baik dan penyayang sangat sulit di bangun selama ini, jangan membuat rusuh. Pergilah ke bioskop nanti, ambil banyak photo berdua, biarkan semua orang berpikir sesibuk apapun diri mu, keluarga adalah prioritas untukmu. "
Nora mengepal tangannya kuat, benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Ibu tirinya itu. Padahal dia sendiri tahu kalau dia sangat lelah, ditambah kondisi tubuhnya sangat mudah lelah saat ini, dia benar-benar tidak sanggup lagi kalau tidak istirahat sampai sore, barulah malam nanti akan menghadiri acara ulang tahun ketua agensi.
" Aku benar-benar lelah, lain hari saja. " Ujar Nora masih mencoba untuk menolak karena dia benar-benar merasa tidak sanggup.
" Nora, lebih baik jangan mengecewakan. Sekarang ini membuat image baik sangat sulit, jadi jangan membuang waktu, pergilah cepat selagi kau bisa agar cepat selesai. "
Nora menatap bola mata Ibu tirinya dengan tatapan kesal.
" Aku tidak punya waktu, jadi jangan memaksa. Aku lelah, jadi jangan terlalu memaksakan ku. Kalau kau mau pergi saja sendiri, image mu juga mulai rusak karena seperti tidak perduli dengan anak-anak mu. " Setelah mengatakan itu Nora berlaku begitu saja, sungguh dia benar-benar tidak ingin memporsir tenaganya. Sebenarnya hari ini Nora harus pergi kerumah sakit untuk memeriksakan diri dan mulai serius untuk mengobati penyakit yang di deritanya, tapi karena asisten pribadinya terus mengekor kemana dia pergi, Nora jadi malas dan membatalkan niatnya itu.
" Kau sudah semakin lancang ya Nora? " Gumam Ibu tiri dengan tatapan kesal, Nora tak bisa melihatnya atau mendengar karena dia sudah berlalu menuju kamarnya.
" Duku kau sangat menurut, tapi semenjak bertemu dengan anak itu, kau jadi sulit dikendalikan seperti ini. " Ibu tiri mengeraskan rahangnya karena begitu kesal. Selama ini Nora sangatlah menurut padanya. Dia akan tersenyum kapanpun dia perintahkan, dia dengan wajah bahagia tersenyum indah saat mereka liburan, makan malam bersama, bahkan dalam keseharian juga nampak rukun dengan dirinya itu semua juga karena perintah darinya.
***
Lora yang semakin tak tenang pada akhirnya meminta tolong kepada Ita dan Hanzel agar mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan Nora. Benar-benar seperti dewa, Hanzel selalu bersedia melakukan apa yang di inginkan Lora sehingga Lora bisa tenang dan menunggu bagaimana hasilnya nanti. Awalnya agak kesulitan setelah dua hari menunggu karena banyak sekali alasan. Mulai dari akses untuk mencari tahu sulit, sambungan telepon tidak terhubung karena ada pelindungnya. Tapi syukurlah pada akhirnya orang yang diminta tolong oleh Hanzel sudah menentukan kabar. Dia juga memberikan photo terbaru Nora di tempat kerja yang selalu di buntuti oleh asistennya. Bahkan sampai ke toilet pun dia menunggu di depan pintu toilet seperti takut saja kalau Nora akan kabur darinya.
" Aku tidak yakin karena belum pasti semuanya, tapi aku rasa rumah itu dikendalikan oleh wanita ini. " Ucap pria itu kepada gambar Ibu tirinya Nora.
Lora juga beranggapan sama, dari semenjak mendengar cerita Nora, dia benar-benar merasa tidak nyaman dengan wanita itu. Entah ini benar hanya dugaan mereka yang sama, atau memang terlalu banyak hal yang mengganjal dan aneh sehingga mereka kompak berpikir sama.
" Jadi, bagaimana caranya untuk menemui Lora secara langsung? "
" Datangi rumahnya secara langsung. " Ujar Hanzel.
Lora nampak berpikir sejenak.
" Nanti kalau di tolak bagaimana? " Tanya Lora yang merasa ragu.
" Tidak, dia boleh saja mencoba memutuskan akses agar kalian bisa bertemu, tapi dia tidak akan mungkin menolak saat kau datang bertemu, asalkan Ayah kalian ada disana. " Ucap Hanzel yang terlihat sangat yakin.
Sekarang Lora juga mulai yakin, jadi dia memutuskan untuk menemui Nora di saat jam pulang kerja Ayahnya, lebih tepatnya setelah Ayahnya bekerja. Ngomong-ngomong soal bekerja, sebenarnya Lora merasa kasihan dengan Ayahnya yang masih mau bekerja padahal dia sudah hilang ingatan, apalagi pekerjannya yang hanya seorang marketing belum tentu juga menghasilkan setiap waktu.
" Aku akan menemanimu besok, jadi jangan terlalu khawatir ya? " Ucap Hanzel menenangkan Lora karena dia minat wajah Lora yang terlihat sedih. Iya, mana tahu juga Hanzel kalau yang sedang dipikirkan Lora adalah Ayahnya karena sedari tadi mereka kan fokus membicarakan Nora.
" Bagaimana kalau aku saja? " Tanya Ita yang baru saja mengantarkan teh dan juga camilan untuk mereka. Lora menjadi lebih semangat, karena yang dia tahu kan Ita mengetahui banyak tentang Ibu tirinya Nora.
" Tidak masalah, tapi jangan lupa mengabari ku jika terjadi sesuatu. " Ucap Hanzel, memang kemungkinan kecil untuk Lora dalam bahaya karena disana akan ada Ayahnya dan juga Nora yang akan melindungi. Lora dan Ita mengangguk setuju.
Seperti rencana mereka, Lora dan Ita kini sudah menuju ke rumah Nora. Satu jam lebih waktu yang dibutuhkan untuk menuju kesana, dan akhirnya mereka berdua sampai di rumah Nora.
" Selamat sore? Saya temanya Nora, boleh saya masuk untuk bertemu Nora? Saya ada janji, jadi mohon beri izin. " Ucap Lora kepada satpam yang berjaga di gerbang.
" Saya tanya non Nora ya? "
Cukup lama menunggu, Lora dan Ita kini akhirnya diperbolehkan masuk. Benar saja, rupanya Ayahnya Nora ada dirumah sehingga mudah bagi mereka berdua untuk menemui Nora.
" Halo, kalian temannya Nora ya? "
Lora terdiam memandangi Ayahnya yang kini tersenyum ke arahnya. Wajah itu, senyum itu, tatapan ramah itu membuatnya terpaku teringat masa saat dia kecil dulu.
Bersambung.