Little Wife

Little Wife
BAB 79



Begitu mendengar keterangan dari Dokter, Ayah hanya bisa terdiam tidak percaya dengan apa yang selama ini terjadi. Rasanya tidak ingin percaya, tapi kandungan obat yang ada di tubuhnya, juga bukti dari pemeriksaan memang tidak bisa di anggap bohong. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepalanya, tapi karena semuanya adalah pertanyaan yang dia pikir tidak masuk akal, maka dia memilih untuk diam saja dan memendam semuanya sampai di perlahan bisa mengingat masa lalunya. Entah itu hanya niatan saja, atau memang dia belum siap, tapi Dokter juga mengatakan kalau obat yang dikonsumsi selama bertahun-tahun olehnya mungkin tidak akan bisa membuatnya mengingat keseluruhan masa lalunya, jadi sekarang dia hanya perlu pelan-pelan saja dan yakini kalau mukjizat itu ada.


" Ayah, ini obat dari Dokter. Aku akan mengingatkan Ayah supaya Ayah tidak terlambat dan lupa meminumnya ya? " Ucap Nora sembari menunjukkan obat-obatan yang diresepkan oleh Dokter tadi.


" Terimakasih. " Ucap Ayah, sebisanya dia tersenyum karena tak ingin membuat Nora khawatir, tapi sungguh Nira bisa melihat itu semua dari tatapan Ayahnya.


" Paman, semua ini memang membingungkan, tapi yakinlah kalau pada akhirnya paman akan merasa bersyukur untuk tindakan kami ini. " Ujar Lora yang juga ada di sana. Hanzel tidak bisa menemani, karena sekarang ini Lora, Nora, dan Ayah mereka berada di apartemen mereka, sedangkan Hanzel ada meeting penting. Ita ada di sana, tali dia sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.


Ayah menatap Lora yang berdiri di dekat Nora duduk. Lagi-lagi dia merasa rindu, tapi juga merasa lega melihat wajah Lora. Kenapa? Ingin sekali dia bertanya, tapi entah mengapa dia takut jawabannya akan membuat dia kecewa.


" Ayah, ada satu kebenaran yang harus Ayah ketahui, tapi sekarang ini kondisi Ayah masih belum kuat, jadi Ayah harus semangat ya? Ikuti saran Dokter agar Ayah pilih lebih cepat. " Ucap Nora.


" Nora, bisakah katakan kepada Ayah kebenaran apa sekarang juga? "


Nora menggeleng, kalau dia mengatakan sekarang, dia takut Ayahnya akan segera mencoba mengingat-ingat dan sakit kepalanya yang bisa sampai membuat Ayahnya pingsan sudah lama tidak kambuh akan kambuh sekarang ini.


Ayah meraih tangan Nora, menggenggamnya erat-erat sembari menatap memohon. Memang siapa yang tidak penasaran kalau dijanjikan sebuah kebenaran tapi harus di tunda lain waktu?


" Katakan sekarang juga, baru Ayah berjanji akan mengikuti semua ucapan Dokter dan tidak akan melewatkan satupun. "


Nora terdiam sebentar, dia menoleh menatap Lora seolah bertanya bagaimana pendapatnya, tapi Lora juga tak bereaksi karena dia sendiri tidak tahu harus mengiyakan atau menolak.


" Nora, katakanlah jika kau benar-benar menyayangi Ayah. Ayah tidak ingin menyesal lebih berat, dan melewatkan hal penting, jadi katakan saja, Ayah tahu apa yang kau khawatirkan, Ayah tidak akan mencari tahu dan mencoba mengingat asalkan kau memberitahu sekarang. "


Lora nampak gemetar, takut? Iya! Dia takut seperti cerita Nora bahwa dia pernah melihat Ayahnya sakit kepala sangat parah saat mencoba untuk mengingat, sampai mimisan banyak dan pingsan setelahnya.


" Ayah, aku- " Nora juga sama, gadis itu gemetar karena takut kalau sampai Ayahnya kesakitan seperti saat dulu.


" Katakan saja, maka semua akan baik-baik saja. "


Nora menekan salivanya, sekarang dia merasa tidak punya pilihan lain, jadi mengatakan pokoknya saja dia rasa Ayahnya akan baik-baik saja asalkan Ayahnya tidak mencoba untuk mengingat lebih kuat dari biasanya.


" Ayah- "


" Nora! " Lora tidak sanggup, entah mengapa dia merasa lebih baik tidak dikenali sebagai anak dari pada melihat Ayahnya menderita.


" Lora, semuanya harus segera selesai. Kau tahu bagaimana kondisiku kan? Semuanya harus selesai, jadi biarkan saja. Aku yakin Ayah akan menepati ucapannya untuk jangan mengingat terlalu kuat, atau bahkan mengingatnya sedikitpun. "


Nora mengeratkan genggaman tangannya bersama dengan Ayahnya. Menatap lekat bersungguh-sungguh bahwa ucapan yang akan keluar dari mulutnya adakah sebuah realita.


" Kau bicara apa, Nora? Kembar apa? Bagaimana bisa? "


Nora menghela nafasnya, lalu meminta ponsel Lora untuk menunjukkan photo mereka bersama dengan Ibu mereka.


" Ayah, lihat ini! Ini adalah aku, Lora, dan ini adalah Ibu. Duku dia adalah Ibuku, Ayah pernah penasaran seperti apa wajah istri Ayah dulu kan? Lihat, dia Adah Ibu ku dan juga Ibunya Lora. "


Ayah menerima ponsel Lora, mengamati gambar yang menunjukkan betapa bahagianya mereka. Senyum dari wajah mudanya, seorang wanita yang cantik mirip seperti Lora, dan Nora, jelas itu adalah Nora karena dia punya photo Nora saat kecil, dan Nora sangat mirip dengan dia selaku Ayahnya.


" Jadi, jadi kalian benar-benar kembar? Kau juga putriku? " Ayah menangis hingga bibirnya gemetar hebat.


Lora, dia yang tidak memiliki persiapan hanya bisa menangis tanpa suara. Dia membekap erat bibirnya dengan tangan karena tak ingin membuat Ayahnya semakin menangis.


" Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini? " Ayah mengusap wajahnya dengan kasar, dia bangkit mendekati Lora, menangkup wajah putri yang jelas sudah alam sekali tak bertemu dengannya. Ayah mengecup dahi Lora dengan mata yang tak berhenti menitihkan air mata, lalu memeluknya erat-erat.


" Maaf, nak. Maaf untuk semua yang terjadi, maaf karena membuatmu tumbuh tanpa seorang Ayah. "


Lora tak bisa mengatakan apapun, kini dia hanya bisa sesegukan dan memeluk tubuh Ayahnya. Iya, dia sangat rindu pria itu, dia pernah membenci tapi juga tak bisa menghilangkan kerinduan yang begitu dalam untuk pria paruh baya yang tak lain adalah Ayah kandungnya sendiri.


Nora menyeka air matanya, dia bangkit dari duduknya dan ikut memeluk kedua orang yang paling dia cintai.


Ita, tadinya dia ingin mempersilahkan mereka semua untuk makan malam, tapi melihat situasi haru seperti sekarang tentu dia tidak mau mengganggu dan merusak suasana. Ita memutuskan untuk kembali ke dapur dan menunggu saja disana.


***


Hanzel terdiam melihat Velo yang katanya hanya ingin mampir bersama dengan Tuan Haris ke kantornya. Entah tidak tahu malu atau bagaimana, tapi mereka berdua benar-benar menjadi perbincangan para pegawai sekarang ini. Iya, Hanzel dulu tidak pernah malu mengakui Velo sebagai kekasihnya saat menjalin hubungan, tapi sekarang Velo menjadi Ibu tirinya, ah! siapa yang tidak akan bergunjing kalau begini?


" Lihat, dan pilihlah beberapa terlebih dulu. "


Jejeran photo gadis-gadis kini terpampang jelas di meja kerja Hanzel, dan pria itu hanya bisa menghela nafas jengah.


" Perbaiki image mu, mereka itu adalah anak dari orang terpandang, jadi mereka akan dengan mudah mengembalikan nama mu yang terbawa buruk gara-gara istri sial mu itu. " Ujar Tuan Haris.


" Istri sial, tapi kau juga menginginkannya bukan? "


Bersambung.