
Seperti yang disarankan oleh Ita, Lora menjalani rutinitas paginya dengan semangat meski sejujurnya tubuhnya sangat tidak nyaman karena lelah, belum juga kedua kakinya yang gemetar karena ulah Hanzel tentunya. Mungkin karena Hanzel masih terbilang muda jadi keinginannya menggebu-gebu seperti sekarang ini.
Lora menyiapkan pakaian ganti untuk Hanzel bekerja, sepatu, bahkan sarapan pagi ini juga Lora yang membuatnya. Sederhana, hanya nasi goreng kampung yang biasa dia buat untuk keluarga angkatnya karena mereka menyukai makanan itu. Tapi untunglah Hanzel juga menyukainya terbukti sepiring nasi goreng kampung ludes tak tersisa di piringnya tadi.
" Tuan, boleh saya bicara sebentar tidak? " Tanya Lora sebelum Hanzel berangkat untuk bekerja.
" Ada apa? " Tanya Hanzel seraya meletakkan barang-barangnya ke dalam mobil.
" Tuan, aku boleh kuliah tidak? "
Hanzel mengernyit, bingung? Iya dia merasa bingung. Kuliah? Bukankah kuliah butuh waktu empat tahun, sementara perjanjian di antara mereka hanya akan berlangsung satu tahun?
" Aku janji akan menjadi istri yang baik dan patuh, sebisa mungkin tidak akan membuat Tuan kecewa, tapi bisakah kuliah menjadi kompensasi untuk ku? Aku akan bekerja paru waktu, jadi aku janji tidak membuang uang terlalu banyak. "
Hanzel nampak berpikir sebentar.
" Kuliah dimana? "
" Kalau itu akan aku beritahu nanti, aku belum memutuskan nya. Seandainya mahal biayanya tetap boleh kan? "
" Terserah kau saja, tapi ingat kau harus menomor satukan tugasmu dulu. "
" Baik. "
" Aku berangkat dulu. " Ucap Hanzel yang sudah akan melangkah masuk ke dalam mobil.
" Tunggu, Tuan! " Lora mencium pipi Hanzel, tersenyum dengan begitu manis sama seperti yang Ita sarankan padanya.
" Selamat bekerja, semoga pekerjaan anda lancar, dan juga hati-hati di jalan. " Hanzel menelan salivanya sendiri, lalu mengangguk karena tak bisa berkata-kata. Entah dari mana dia belajar, tapi sikap Lora benar-benar berubah begitu dia tahu akan ke kota. Tapi, dia sama sekali tidak menyangka kalau perubahannya akan sebesar ini, entahlah! Rasanya aneh karena dia tidak bisa menolak, bahkan dia malah merasa berdebar tidak jelas seperti anak remaja yang baru kenal cinta saja.
" Nanti sore sebelum jam lima usahakan sudah rapih ya? kita harus mengunjungi Ayah dan Ibuku. " Ucap Hanzel sebelum melajukan mobilnya.
" Baik, Tuan. " Lora tersenyum seraya melambaikan tangan saat Hanzel mulai menjauh darinya.
" Benar-benar bagus, pertahankan seperti itu! Tapi usahakan kau juga harus bisa lebih aktif saat di tempat tidur ya? " Ucap Ita yang rupanya sedari tadi mengintip Hanzel dan Lora disana. Maklum saja, Lora itu adalah anak remaja yang baru saja berusia delapan belas tahun, pengalaman akan hubungan pasti tidak banyak dan penting juga untuk menilainya, batin Ita.
Ita terkekeh malu.
" Lora, rumah kan sudah beres, makan untuk siang kita juga tinggal dihangatkan lagi, bagaimana kalau aku ajari cara di atas ranjang? "
" Maksudnya dengan kak Ita? " Lora menatap kaget.
" Jangan salah paham, maksudnya aku ingin mengajakmu menonton video dua puluh satu plus. Eh! Agak ngeri juga kalau nonton berdua, takut khilaf. Aku kirim lewat pesan saja ya? Jangan lupa di tonton! Aku ke kamar dulu untuk mengirimnya padamu, baru aku mau mencuci baju saja dari pada ikut menonton malah nanti aku jadi kebingungan mencari lawan untuk bermain. "
Lora mengeryit bingung menatap punggung Ita yang menjauh darinya untuk memasuki kamar. Entah apa sih yang dia bicarakan, Lora sama sekali tidak paham.
Karena tak ada siapapun, Lora akhirnya masuk ke dalam kamarnya, lalu melihat ponsel yang tujuan awalnya adalah melihat media sosial Nora, tapi karena ada pesan masuk dari Ita yang telah mengirimkan beberapa video panas, Lora dengan ragu-ragu membuka satu video dan menontonnya.
" Ya ampun! Gila! Apa-apaan ini?! Aku sungguh harus begini? " Lora menatap heran, tapi juga bingung. Memang sih sudah beberapa kali melakukan itu dengan Hanzel, tapi kalau harus dengan banyak gaya seperti itu, bukanya akan memalukan ya?
" Sudahlah, Lora. Jangan terlalu memikirkan rasa malu, toh dia adalah suamimu, sekarang cari cara saja agar bisa menata masa depan, dan memanfaatkan peluang besar ini. Tidak perlu menjadi gadis naif lagi, nyatanya naif saja hanya akan membuatmu terinjak, jadi buang saja rasa malu dan fokuslah untuk tujuan mu, Lora. " Ucap Lora kepada dirinya sendiri. Setelah melihat dua video, Lora memutuskan untuk menghentikannya, kenapa? Karena lama kelamaan dia merasa tidak waras dan menjadi berpikir kotor, bahkan dia juga terus membayangkan wajah Hanzel, serta tubuh kekar pria itu saat berada di atas tubuhnya.
" Aku bisa gila! Sudahlah, lebih baik lihat apakah Nora ada unggahan baru? " Lora membuka laman media sosialnya, lalu melihat bagaimana aktivitas Nora.
Nyut!
Nyeri, sakit, juga sesak, itulah yang dirasakan Lora begitu melihat unggahan Nora bersama dengan Ayahnya tengah berlibur di sebuah tempat yang dipenuhi salju. Senyum indah dari wajah keduanya begitu jelas terlihat bahagia seperti tak memiliki beban apapun. Nora juga mengunggah video kebersamaan bersama adik perempuan dan juga Ibu tirinya yang tengah makan disebuah restauran mewah, dan masih ditempat yang memiliki cuaca dingin. Kembali Lora melihat unggahan Nora sampai tuntas, ternyata Nora memang sangat aktif membagikan kegiatan di media sosial, dari unggahannya selama ini, jelas sekali Nora dan keluarganya sering berlibur keluar negeri, berbelanja barang mewah, bahkan pesta ulang tahun Nora juga digelar besar-besaran. Ada satu lagi photo yang semakin membuat Lora sesak yaitu, photo dimana Ayahnya memberikan sebuah mobil sport terbaru dengan keterangan gambar yang menyakitkan. Hadiah tahun baru dari papaku tersayang.
Lora menggenggam ponselnya dengan kuat. Tahun baru? Tahukah mereka bahwa setiap tahun baru dia akan tinggal dirumah orang tua angkat sendiri, sementara mereka semua pergi berlibur kerumah saudara mereka. Lora hanya diam memandangi langit malam dan menangis sejadi-jadinya di setiap malam pergantian tahun itu. Tidak ditinggalkan uang untuk membeli makan, pernah juga air minum tidak ada sama sekali. Mungkin terdengar bohong, tapi hampir setiap tahun baru Lora akan menahan lapar selama dua hari sampai orang tua angkatnya datang dan memberikan uang untuk dia masak dan dimakan mereka, barulah sisanya bisa Lora nikmati penuh syukur.
" Aku akan membalas semua ini, aku akan menghukum semua orang yang sudah menyakitiku di masa lalu. "
Lora bangkit dari tempat tidur, berjalan cepat menuju meja riasnya, lalu membuka internet untuk meniru bagaimana cara memakai make up. Satu, dua, tiga, bahkan sampai puluhan kali Lora terus mencoba sebisa mungkin agar dia bisa berdandan dan terlihat cantik. Masih gagal, tapi ada hari esok, dan dia tidak akan menyerah sampai dia benar-benar bisa melakukan segalanya dengan sempurna.
" Aku tidak akan lelah lagi. "
Bersambung.