
Hanzel menelan salivanya karena dia merasa gugup luar biasa. Bagaimana tidak? Setelah permintaannya disetujui oleh Lora tadi, sampai sekarang Kita malah terus terusan tersenyum kepadanya membuatnya jadi malu. Sungguh sebal tapi dia juga tidak berani mengatakan kepada Lora kalau dia malu di tatap seperti itu. Sudah keluar dari Mall, sekarang juga sedang berada di mobil untuk menuju rumah mereka, tapi Lora masih saja menatap Hanzel dengan senyum yang membuat Hanzel tak bisa menahan malu.
" Sayang? " Lora tersenyum dan ini sudah entah berapa kali Lora memanggil sayang tanpa tujuan, eh mungkin tujuannya adalah untuk menggoda Hanzel yang tak menjawab sama sekali padahal jelas dia lah yang meminta untuk dipanggil seperti itu.
" Sayang...... " Panggil lagi Lora, lalu dia terkekeh setelahnya. Iya, dia juga bahagia karena tidak lagi harus memanggil Tuan, dan temannya tidak akan salah paham nantinya.
" Kau tidak membeli apapun? " Tanya Hanzel mengalihkan Lora agar tak terus meledeknya dengan memanggil sayang.
" Tidak, aku kan masih punya banyak stok baju baru. Lagi pula memang niatnya hanya ingin ikut belanja kebutuhan dapur saja kok. "
" Tadi kau bertemu seseorang? "
Ita terdiam sebentar. Dia tahu pasti Ita yang sudah memberitahu Hanzel masalah tadi, jadi tidak ada gunanya juga dia mengatakan tidak untuk berbohong.
" Iya, aku bertemu dengan Resa. "
" Apa yang dia katakan? "
" Seperti biasanya, dia hanya suka mengajak bertengkar saja. "
Hanzel menghela nafasnya. Jelas dia tidak bisa mengancam Resa untuk tidak menceritakan apapun tentang masa lalu Lora, tapi dia juga harus segera bertindak jangan sampai masalah pelecehan itu terkuak. Apalagi mental Lora mesih belum bisa disebut tangguh, bahkan masih jauh dari kata tangguh.
" Oh iya, Tuan. Eh, maksudnya sayang. Masalah bekerja di cafe sebagian kegiatan paruh waktu, aku- "
" Tidak, tidak ada! Kau hanya perlu kuliah dengan fokus, jangan lagi memikirkan tentang bekerja paruh waktu. " Ucap Hanzel tegas. Iya mau bagaimana lagi? Lora kuliah saja sudah mulai banyak yang berniat menggoda Lora, ditambah bekerja di cafe, yang ada akan banyak pria yang menyukai Lora dan itu juga akan membuat dia menjadi meilki banyak saingan nantinya.
" Tapi sayang, kan aku juga tidak bisa mengandalkan mu selamanya. Apalagi kontrak yang waktu itu kan hanya setahun. " Ujar Lora terlihat sedih.
" Kita bisa perpanjang kok. "
Ah, hilang sudah rasa sedihnya. Lora kini menyenderkan kepalanya di lengan Hanzel, memeluk lengannya untuk bermanja-manja disana.
" Lora, jangan seperti ini! Aku kan sedang mengemudi. "
" Ah, jangan alasan! Kan bisa tetap mengemudi walaupun aku begini. ''
Hanzel gak lagi bicara. Tapi sungguh dia bahagia dengan hubungan mereka berdua saat ini. Ternyata meminta Ita membawa pulang barang belanjaan dengan sopir adalah pilihan yang amat sangat tepat.
" Kita pergi makan malam dulu ya? " Ajak Hanzel.
" Oke! "
Empat puluh menit kemudian, Lora dan Hanzel sampai ke sebuah restauran Japanese yang cukup terkenal di kota itu. Awalnya Lora agak bingung dengan makanan yang kebanyakan masih mentah, tapi karena ingin mencoba dan agar suatu hari tidak kaget dengan rasanya, Lora mencoba saja makanan itu.
" Aduh, tidak enak, sayang! " Keluh Lora.
Hanzel sebenarnya ingin tertawa. Awalnya sih dia sudah feeling kalau Lora tidak akan menyukai makanan itu, tapi karena Lora terus ngeyel dan mengatakan dia bisa makan apa saja, Hanzel akhirnya memutuskan untuk membawa Lora ke sana.
" Celupkan dulu ke sini, lalu makan! " Hanzel menyodorkan ikan salmon mentah ke kecap asin atau apalah itu namanya Lora tidak tahu, tapi dia juga tetap membuka mulutnya dan perlahan mencoba merasai makanan itu.
" Bagaimana? " Tanya Hanzel.
" Tetap aku tidak suka sih, tapi aku bisa makan kalau caranya seperti tadi. " Lora tersenyum setelah mengatakan itu.
" Kalau kau tidak suka, kita pindah ke restauran yang menyediakan makanan lokal saja ya? " Ajak Hanzel yang tidak tega kalau harus melihat Lora memaksakan diri untuk memakan makanan yang tidak dia sukai.
" Tidak usah, sayang! Aku kan juga harus mencoba makanan seperti ini supaya nanti kalau aku jadi orang kaya aku tidak kaget dengan makanan begini. Lagi pula juga ada sup dan nasi kan? "
Hanzel menghela nafas sembari mengacak rambut Lora.
" Kau ini bicara apa? Kau kan pegang kartu ku, kau bisa beli apa yang kau mau. "
" Tapi itu kan milikmu, itu uangmu! " Sargah Lora.
" Uang suami adalah milik istri, jangan bertingkah seperti kemiskinan uang. " Ucap Hanzel tak berekspresi, dia kini mulai sibuk memakan sushi, juga teh hijau yang ia pesan tadi.
Lora tentu bahagia mendengarnya. Tapi untuk uang Hanzel dia memang benar-benar tidak ingin memanfaatkan kebaikan Hanzel, sudah cukup semua yang Hanzel berikan, sekarang dia juga harus tahu membatasi diri, dan menjaga dirinya hanya untuk Hanzel seorang.
" Oh iya, besok kita ke kantor ya? Kemasan minuman yang memakai photo mu sudah ada sampelnya di sana. Nanti kau yah tentukan saja, soalnya ada tiga photo mu dan harus pilih satu saja. "
Lora mengangguk cepat.
" Oke! Besok aku pulang kuliah langsung naik taksi online saja tidak usah dijemput. "
Hanzel mengeryit tak setuju.
" Tidak boleh! Berangkat denganku, pulang juga harus aku yang jemput. "
Lora meletakkan sendok yang ia gunakan untuk menyeruput sup. Kini dia menatap Hanzel dengan bibir tersenyum indah.
" Sayang, aku jadi tidak rela loh kalau ada yang menyukaimu. " Rengek Lora.
Hanzel mendorong pelan dahi Lora dengan jari telunjuknya.
" Urus dulu lalat yang mengelilingi mu! Aku baik-baik saja tidak akan melakukan kesalahan itu. "
" Lalat? " Lora menoleh ke kanan ke kiri, atas bawah mencari dimana ada lalat? Sekarang saja tidak ada satu pun nyamuk, apalagi lalat?
Tanpa Lora dan Hanzel sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang terus menatap mereka dengan tatapan tak suka. Dia adalah Nora, gadis itu baru saja selesai untuk pemotretan minuman kemasan milik perusahaan lain, dan kini tengah makan malam karena satu jam ke depan dia juga ada pemotretan untuk brand kecantikan.
Lora, kau beruntung sekali memiliki kekasih yang tampan, juga sangat menyayangimu. Bahkan, tunangan ku saja melihat mu seperti dia menyukaimu. Aku mulai membencimu, Lora.
Setelah Lora dan Hanzel selesai, mereka. berjalan keluar menuju ke mobil mereka. Sungguh Lora sama sekali tak melihat adanya Nora karena Nora berada di tengah-tengah orang. Dan mereka adalah Manager, asisten, dan kru yang lain. Mata Nora masih terus memandangi Lora karena dinding disana terbuat dari kaca transparan jadi dia bisa melihat Lora masuk kedalam sebuah mobil pintu dua yang terkenal dengan harga fantastis dan kekinian.
Kenapa kau bisa mendapatkan semua itu? Pria tampan dan kaya seperti itu, dari mana dan bagaimana caramu mendapatkan nya?
Bersambung.