Little Wife

Little Wife
BAB 68



Hanzel berdiam diri tak ingin melangkah lebih dekat saat melihat Lora dan Nora yang kini saling berhadapan tapi juga dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Seperti ini pasti akan lebih baik, walau pada awalnya akan ada perdebatan, tapi mereka adalah saudara kembar yang pasti akan saling memahami dan mencintai meski membutuhkan waktu yang tidak tahu apakah lama atau sebentar.


Lora menatap datar wajah Nora yang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa Lora lihat sebelumnya. Seperti ada kerinduan, juga seperti ada hal yang begitu banyak tak bisa dia sampaikan dengan waktu yang singkat.


" Kenapa? Oh, maksudku ada apa kau datang kesini? Apa kau sedang bekerja? " Tanya Lora.


Nora terdiam sebentar memikirkan dari mana dia harus mengatakan apa yang sudah dia pikirkan sebelum menemui Lora. Entah kemana semua itu, karena tiba-tiba otaknya kosong seolah tak memiliki persiapan sama sekali.


" Bagaimana kabarmu? " Tanya Nora sembari mengukur waktu mempersiapkan diri untuk mulai berbicara dengan Lora.


" Aku baik. " Jawab Lora singkat.


" Bisa kita bicara sebentar? "


" Tidak! " Tegas Lora menjawab, karena memang dia tidak ingin membicarakan apapun dengan Nora yang dia anggap bukan lagi saudara kembarnya meski hatinya tidak bisa melakukannya.


Nora terdiam, dia menunduk karena dia benar-benar merasa sangat tidak sanggup menghadapi penolakan Lora yang begitu jelas, bahkan Nora juga bisa. dilihat sorot mata Lora yang begitu menunjukkan kebencian terhadap dirinya.


" Lora, apa yang ingin aku bicarakan ini adalah hal yang sangat penting untukku, meskipun kau memang tidak perduli, tali bisakah kau melakukan ini sebagai teman kampus saja? Hanya sepuluh menit saja, aku mohon, Lora. " Nora menatap Lora dengan alis yang hampir bertautan, mimik sedih ya seolah menggetarkan hati Lora hingga pada akhirnya dia menyetujui saja ajakan Nora sebelum Nira lebih mahir lagi berakting sedih dan membuatnya lupa tentang kebencian terhadap Nora.


" Aku harus memberitahu Hanzel dulu. " Ucap Lora, kakus segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Hanzel.


" Sayang, ada dimana? Aku boleh izin sebentar untuk bicara dengan teman kampus tidak? "


Aku bisa melihatmu, sayang. Pergilah, aku akan menunggu sampai kau kembali nanti.


Lora mengakhiri panggilan teleponnya, dia mencari keberadaan Hanzel yang katanya bisa melihatnya. Yah, memang benar apa yang dikatakan Hanzel, rupanya pria itu tengah tersenyum sembari melambaikan tangan karena mengizinkan Lora untuk pergi bicara dengan saudari kembarnya.


Di sebuah restauran, Nora sengaja meminta Indah untuk memesan ruang VVIP demi kemanan dirinya agar tidak tertangkap kamera sedang berada di Bali, juga demi untuk melindungi Lora yang akhir-akhir ini tengah menjadi buah bibir, sekaligus agar mereka bisa berbicara dengan nyaman dan tidak khawatir jika ada yang akan mendengarnya nanti.


" Apa yang ingin kau katakan? " Lora menatap Nora dengan tatapan datar, di Sengaja karena tidak ingin terlihat oleh Nora bahwa sebenarnya dia juga merasa sangat tertekan dengan situasi sekarang ini.


Nora mengaitkan semua jemarinya berharap kekuatan akan muncul dari sana, dan semoga saja dia bisa mengatakan apa yang seharusnya dia katakan tanpa menyakiti perasaan Lora.


" Lora, maafkan aku yang harus berpura-pura tidak mengenali saat kita bertemu dulu, aku benar-benar tidak memiliki niat buruk dengan perilaku ku, sungguh aku tidak bohong dan aku punya alasan tersendiri. "


Lora menghela nafasnya, tentu saja dia paham benar semua tindakan di ambil karena memiliki alasan, hanya saja alasan apa? Anehnya dia juga sama sekali tidak tertarik untuk bertanya karena merasa kalau Nora adalah pihak yang bersalah dan kejam kepada dirinya.


Nora mengigit bibir bawahnya menahan tangis. Iya, wajah saja kalau inilah yang akan dia dapatkan dari Lora. Semua ucapan Lora, tatapan matanya, cara ia bersikap di hadapannya sudah menunjukkan bahwa di hati Lora hanya ada kebencian untuknya. Tapi, bukankah seharusnya dia berusaha lebih keras agar bisa memulihkan hati Lora? Yang ia tahu Lora adalah gadis polos dan pengertian, jadi terus saja anggap seperti itu.


" Lora, aku tahu hidupmu sangat tidak mudah, bahkan lebih sulit dari yang aku bayangkan, tapi kau harus mengetahui ini, Lora. "


" Apa sih yang harus aku tahu? " Lora menatap sebal Nora Yangs sepertinya berat ingin memberitahu, bahkan wajahnya sudah cukup mejelaskan jadi untuk apa lagi memaksakan diri seperti sekarang ini?


Nora mengeraskan cengkraman jemarinya semakin kuat hingga gemetar.


" Lora, Ayah benar-benar stres parah setelah Ayah dan Ibu kita bercerai. Dia mencari mu dan Ibu untuk bisa membujuk agar kita bisa kembali bersama. Ayah seperti orang gila, Lora. Dia selalu menangis setiap kali melihat photo keluarga kita, sampai akhirnya Ayah tertabrak mobil saat sedang mencari mu dan Ibu. Waktu itu kita kan bukan keluarga kaya, Lora. Ayah tidak cukup memiliki uang dan koneksi untuk bisa menemukan kalian dengan mudah. Aku pikir semua akan baik-baik saja setelah Dokter mengatakan bahwa Ayah sudah melewati masa kritis, tapi saat Ayah tidak mengenaliku, aku menjadi sangat sedih yang terus mengingatkan tentang diriku karena aku pikir Ayah akan mengingatku. Tapi, Ayah malah semakin kesakitan hingga pingsan karena tidak bisa menahan sakit begitu mencoba mengingat-ingat masa lalunya. Aku masih terlaku kecil saat itu, Lora. Jadi aku tidak tahu dengan siapa aku harus bergantung merawat Ayah yang sakit amnesia parah. Lalu seorang wanita yang katanya adalah teman kerja Ayah datang dan menawarkan bantuan. "


Lora mencengkram pinggiran kursi yang ia duduki karena tubuhnya bergetar mendengar cerita dari Nora.


" Dia membantu merawat Ayah, lalu meminta ku untuk membuatkan Ayahnya menikahinya dengan alasan bahwa seorang wanita dewasa dan pria dewasa tidak lantas tinggal di satu rumah yang sama. Aku membujuknya dengan harapan Ayah bisa sembuh, tapi sampai detik ini Ayah malah tak menunjukkan sedikitpun tanda kalau dia bisa mengingat masa lalunya. "


" Lora, aku tahu kau pasti membenciku karena membuat Ayah tidak mengingat tentang mu, tapi saat Dokter mengatakan untuk jangan membuat Ayah mengingat masa lalu, karena itu sangat berbahaya untuknya. Saat itu aku hanya punya Ayah, jadi aku melakukan segalanya dengan patuh tanpa memperdulikan mu, maafkan aku, Lora. "


Lora menahan dirinya yang seperti ingin menangis, tapi juga marah entah untuk bagian yang mana.


" Bukanya itu bagus? Kau, dan mereka bisa hidup bahagia tanpa ku kan? "


" Tidak bisa, Lora. Aku tidak sebahagia yang kau bayangkan. Aku tersenyum di kamera dan media sosial ku, tapi aku bahkan tidak pernah bahagia. "


" Aku tidak perduli. " Sargah Lora yang sebenarnya tak tahan lagi dengan cerita Nora yang juga begitu sedih.


" Tidak apa-apa, Lora. Aku akan menunggu sampai kau memberikan aku maaf. Tapi, tolong jangan terlalu lama, Lora. Aku tidak yakin bisa bertahan lama. "


" Kau sedang mengancam ku? "


Nora menggeleng.


" Tidak, tiga bulan yang lalu Dokter memberikan hasil pemeriksaan kesehatanku, aku ada kanker kelenjar getah bening, jadi aku takut tidak bisa melihatmu tersenyum seperti saat kita kecil dulu. Aku mengatakan ini bukan memaksamu dengan kisah melas ku, tapi aku harap setelah aku tiada, kau bisa mencintai Ayah meski kau enggan untuk melihatnya. "


Bersambung.