Little Wife

Little Wife
BAB 76



Nora terdiam sembari mengintip apa yang sedang dilakukan Ibu tirinya. Tangannya mengepal menahan marah, rahangnya juga mengeras dibarengi mata yang memerah menahan tangis. Sungguh dia tidak percaya kalau dia bisa melihat Ibu tirinya tengah memasukkan bubuk obat kedalam teh Ayahnya. Entah ini disebut keberuntungan, ataukan ini kebenaran yang menyakitkan, dan bodohnya ini sudah berlangsung lama?


Nora diam saja sampai dia yakin benar jika teh itu memang untuk Ayahnya. Diam-diam Nora sudah merekam apa yang dilakukan Ibu tiri tadi, dan mengikuti sampai ke ruang tengah dengan langkah hati-hati. Benar saja, rupanya teh itu memang diberikan untuk Ayahnya. Nora yang terkejut segera berlari mendekat dan menepis teh panas yang hampir saja akan diseruput oleh Ayahnya.


Prang!


Ibu tiri dan Ayahnya melotot kaget melihat Nora yang tiba-tiba berada disana menepis cangkir.


" Apa yang kau lakukan? " Tanya Ibu tiri dengan mata yang membulat sempurna.


" Nora, kau kenapa? Lihat! Tangan mu merah terkena air panas. " Ayah bangkit dari posisi duduknya, lalu membawa Nora pergi untuk mengobati tangannya.


Ibu tiri menatap marah, tapi dia juga tak mengatakan apapun. Tentu saja dia menjadi sangat tahu kalau Nora sudah mengetahui satu hal, yaitu tentang serbuk obat yang dia masukkan kedalam teh suaminya tadi. Dia menghela nafas, lalu berjalan untuk menghampiri Nira dan juga Ayahnya yang sekarang pasti sedang di ruang ujung tempat dimana kotak p3k di simpan.


" Biar aku saja. " Ujar Ibu tiri lalu tersenyum kepada suaminya. Iya, seperti itulah yang dia lakukan selama ini. Dia tersenyum dengan begitu manis dan lembut agar rupa aslinya tak terlihat oleh siapapun.


" Tidak apa-apa, kau pasti lelah sekali hari ini. " Ujar Ayahnya Nora.


" Tidak, ini adalah tugas seorang Ibu, jadi berikan saja padaku. " Ayahnya Nora mengangguk saja dan memberikan kotak p3k itu kepadanya.


" Kau istirahatlah saja, hari ini kau juga lelah bekerja kan? "


" Baiklah, baik-baik mengobati Nora ya? "


" Iya. "


Ibu tiri tersenyum miring menatap Nora yang enggan menatapnya. Tanpa mengatakan apapun sebelumnya, dia meraih tangan Nora dengan kasar, lalu membersihkan dengan antiseptik sengaja dia tekan agar Nora kesakitan. Sayangnya Nora tak berekspresi, jadi dia semakin menekan hingga punggung tangan Nora malah menjadi tambah merah.


" Apa sudah selesai? Aku sedang sibuk, jadi harus segera kembali ke kamar. " Ucap Nora yang semakin lama semakin tak tahan dengan rasa perih di punggung tangannya.


" Menurut mu? "


Nora menatap sepasang mata yang kini menatapnya dengan tatapan menakutkan. Jujur saja Nora memang merasa agak takut, tapi itu tidak bisa dibandingkan dengan ketakutan kehilangan Ayahnya.


" Apa yang kau masukkan ke teh Ayahku? " Tanya Nora dengan tatapan berani dan menuntut. Sebenarnya memang bukan hal mengejutkan, hanya saja selama ini Nora banyak diam karena tidak ingin Ayahnya khawatir kalau mendengar mereka berdua bersitegang.


" Hanya gula halus, memang apa lagi? "


" Kau pikir aku bodoh?! "


" Sssth! " Ibu tiri meletakkan jari telunjuknya ke bibir Nora.


Nora menepis tangan Ibu tiri dan dan menatapnya lebih tajam.


" Berhentilah untuk terus mengancam ku dengan itu, aku sudah tidak tahan dengan mu. Kau, boleh saja membodohi ku selama ini, tapi kau tidak boleh mencelakai Ayahku! Kau hanya tahu mengancam saja, membuatku menjadi sapi perah juga apa masih belum puas? "


Ibu tiri melipat kedua lengannya, menatap Nora dengan tatapan mengejek.


" Percayalah Nora, aku akan tetap memperlakukan mu dengan baik kalau kau tidak banyak bicara dan menuruti saja ucapan ku. "


Nora tersenyum pilu, padahal sudah selama itu dia mengikuti kata-kata wanita yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya. Dia mengabaikan sebuah kebenaran, dia mengabaikan saudari kandungnya, yang dia pikir hanyalah demi melihat Ayahnya sehat dan berumur panjang. Tapi ternyata, semua itu tidak ada artinya karena dia malah kehilangan banyak hal, dan bisa jadi juga dia lah yang sudah menyebabkan Ayahnya terbelenggu oleh wanita yang tidak jelas asal usulnya.


" Aku benar-benar bodoh sekali dulu, bagiamana bisa aku menganggap seorang wanita brengsek seperti seorang malaikat? Kau terus memperlihatkan tatapan lembut dan senyum manis palsu mu, ternyata kau benar-benar begitu hebat menyembunyikan wajah aslimu, aku benar-benar sangat salut. " Nora menahan air matanya yang ingin jatuh hingga matanya memerah. Sungguh hal yang paling dia sesali di dalam hidupnya adalah mengikuti kata-kata wanita yang berdiri di hadapannya dengan begitu patuh.


" Sudah ku bilang kan? Kau lebih baik bodoh, karena dengan bodoh kau akan terlihat baik, dan kau akan lebih bahagia kan? "


Bahagia? Maksudnya bahagia karena dia tidak tahu menahu bahwa yang dia pikir memberikan kebahagian nyatanya hanya memberikan luka yang semakin besar, bila di ibaratkan bukankah ini yang namanya menyimpan bom atom tapi menganggap bom atom itu sebagai petasan yang akan meledak dan menentukan warna warni indah?


" Aku tidak ingin terus bodoh, aku tidak ingin menikmati kebahagiaan palsu, aku janji akan membuang mu jauh dari kami. " Ujar Nora yang tak lagi bisa menahan kekesalannya.


" Kalau begitu, jangan salahkan aku melakukan apa yang aku inginkan untuk membuatmu tunduk. "


Nora tersenyum miring, dia menghidupkan layar ponselnya, kemudian memutar video saat Ibu tirinya memasukkan serbuk obat ke dalam teh Ayahnya.


" Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku juga punya bukti yang bisa membuatmu dalam bahaya. " Ucap Nora yakin.


Ibu tiri merasa kesal, dia merebut ponsel Nora, kemudian menghapus video tadi, lalu melemparkan ponsel Nora ke sofa samping Nora duduk.


" Jangan sok berani, kau tidak akan bisa mengalahkan ku. "


Nora tersenyum miring.


" Bisa, aku bisa melakukannya. Rekaman tadi tentu saja aku sudah memiliki copy nya, dan aku tidak akan segan-segan menyebarkan video itu kalau sampai kau melakukan hal buruk lagi. " Nora bangkit dari duduknya, sebentar dia menatap Ibu tirinya, lalu berlalu dari sana.


" Dia berani sekali sekarang. " Ujar Ibu tiri menahan kekesalannya.


" Tidak boleh begini, aku sudah hidup dengan baik selama ini, jadi aku tidak boleh kehilangan semua yang aku miliki sekarang. " Ibu tiri menatap marah punggung Nora yang semakin menjauh darinya. Rasanya ingin sekali menarik tangan Nora dan kembali mengancamnya, tapi situasi sekarang ini tak mendukungnya dan mau tak mau dia harus diam saja dulu sampai dia bisa membalikkan waktu.


" Nora dan saudari kembarnya itu bukan tandinganku, jadi aku hanya perlu tenang dan berpikir positif saja. Iya, mereka hanyalah anak-anak yang tidak bisa menyusun sebuah kehidupan sepertiku. "


Bersambung.