Little Wife

Little Wife
BAB 88



Nira menjauhkan ponselnya setelah membaca semua pesan yang dikirimkan Alexander padanya. Memang tidak menjurus ke arah mengajak untuk jangan memutuskan hubungan pertunangan, tapi dia sangat penasaran apa sebab dari keputusan Nora yang sangat tidak biasa ini. Padahal jelas sekali Alexander merasakan bagaimana perasaan Nora menggebu-gebu padanya, dia juga sering kali terlihat marah saat Alexander menyapa wanita lain meski tak sekalipun mengatakannya.


Semua sudah berakhir, perjuangan yang tiada habisnya untuk mengharapkan cinta dari seorang Alexander, dan Tuhan telah mengirimkan seorang Angkara, duda tanpa anak yang sudah berusia matang. Mungkin Angkara memang tidak muda, tapi usia dan sikapnya yang dewasa justru memberikan kenyamanan yang tidak pernah dirasakan oleh Nora sebelumnya. Seperti sekarang ini, Angkara mengajak Nora untuk melihat rumah yang akan ditinggali mereka saat menikah nanti, padahal rumahnya minimalis, tapi Nora sama sekali tak bisa menghentikan bibirnya untuk gak tersenyum. Dia bahagia, sangat bahagia hingga tidak perduli dengan tempat tinggal mereka nanti.


" Rumah ini minimalis, tapi aku ingin kita tinggal disini karena dengan begini akan mudah bagi kita terus dekat. Dan lagi, aku benar-benar ingin tinggal berdua denganmu. Tapi kau tidak usah pikirkan masalah bersih-bersih rumah, aku akan membantu semua yang bisa aku lakukan. " Ucap Angkara seraya menutup tirai jendela yang ia buka beberapa saat lalu. Rumah itu memang sudah di beli Angkara beberapa waktu lalu sebelum memutuskan menikah dengan Nora. Selain dia menyukai desain minimalis tapi terlihat mewah, dia juga merasa suasananya akan lebih hangat dengan ruangan yang tidak terlalu luas apalagi kalau sampai menggema saat bicara.


" Aku tidak masalah mau tinggal dimana, ini juga sudah bagus kok. " Ucap Nora, dia tersenyum menampilkan barusan giginya yang rapih dan putih. Menatap Angkara lekat yang kini tengah berjalan ke arahnya.


" Kau gadis kecil yang dewasa, benar-benar sangat beruntung aku bisa memiliki tempat di hatimu. " Angkara mengusap wajah Nora dengan lembut. Dia terus menatap Nora yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang tak bisa untuk dia artikan.


Nora, gadis itu melangkah maju semakin dekat dengan Angkara, menyusupkan tangannya untuk memeluk pinggang pria itu dan menenggelamkan kepalanya di dada Angkara.


" Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini padamu, tapi aku benar-benar ingin terus memeluk mu seperti ini. " Ucap Nora semakin erat memeluk Angkara.


" Aku juga sama, jadi lebih semangat untuk sembuh ya? Setelah acara pernikahan kita selesai, kita langsung berangkat ke Singapure untuk berobat, bagaimana? "


Nora mengangguk setuju, bisakah dia melewati batas hari ini? Dia sedang dalam fase tidak bisa mengendalikan diri, karena setiap di dekat Angkara pikirannya selalu melalang buana membayangkan melakukan banyak hal bersama pria itu.


" Boleh aku mencium bibirmu? " Tanya Nora sembari menatap Angkara dengan keinginan yang seperti sulit di tahan. Angkara tak mengiyakan atau pun menggeleng, tapi dia segera mendekatkan bibirnya kepada Nora yang tingginya jauh berbeda dengannya. Perlahan ciuman itu begitu penuh cinta, tapi siapa sangka kalau pada akhirnya mereka akan tanpa sadar melakukan hal yang lebih. Nora melakukannya lebih dulu, dia memasukkan lidahnya menyusuri habis rongga mulut Angkara, dan pria yang sudah cukup lama tidak melakukan hubungan suami istri itu tentu saja terpancing dengan cepat hingga membalas ciuman Nora dan begitu menggebu-gebu.


" Ah........ " Lenguh Nira saat tangan Angkara menyusup masuk menyentuh bagian benda kembarnya satu persatu, memberikan pula sentuhan di ujungnya dengan gerakan yang pelan.


Masih kurang puas, segera Angkara membawa Nora untuk menuju tempat tidur, merebahkannya disana, membuka kain yang menutupi bagian atas tubuh calon istrinya hingga polos tanpa busana memarkirkan benda kembar yang sempat dia sentuh sebelumnya. Bak bayi kehausan, Angkara menyesap dengan semangat satu persatu ujung benda kenyal itu sembari memberikan pijatan lembut disana.


Nora, gadis itu benar-benar sudah tidak bisa berhenti lagi, dia benar-benar menikmati apa yang sedang di lakukan Angkara dengan tubuhnya. Malu? Iya dia merasa malu, tapi saat Angkara menyerang bagian benda kembarnya, dia tidak lagi teringat apa itu malu, dan dia terus merasakan keindahan rasa dari apa yang Angkara lakukan.


" Kau mau apa? " Tanya Nora saat Angkara sudah melepas penutup bawahnya, dan memposisikan kepalanya di tengah-tengah sana. Tentu saja aneh, bukankah seharusnya dia jijik?


Sungguh sangat aneh, tapi rasanya Nira juga tidak ingin berhenti melenguh mewakili perasaan indah yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Nora benar-benar semakin masuk ke dalam lembah surga bagi suami istri saat Angkara bukan hanya menggunakan mulut dan lidahnya saja untuk menyapu bagian itu, tapi jemarinya juga menelusup masuk merasai hangatnya bagian inti Nora.


" Ah, Angkara...... " Tubuh Nora semakin menggelinjang tak tahan, hingga perasaan akan ada ledakan dari bagian bawahnya terasa sangat nikmat hingga membuatnya menjerit tanpa sadar.


" Aku tahu ini bukan waktunya, tapi aku juga tidak bisa menahan diri. " Ujar Angkara seraya menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


" Aku mulai, sayang. " Ucap Angkara seraya meraih miliknya dan mengarahkan ke tempat yang memang seharusnya.


" Ah, sakit! " Pekik Nora sembari mencengkram sprei yang melapisi ranjang tidur mereka.


" Aku akan pelan-pelan. " Ucap Angkara. Sebenarnya agak mengejutkan juga karena seorang selebriti yang biasanya pasti akan berada di pergaulan bebas justru masih suci seperti Nora, dan syukurlah dia benar-benar jatuh hati kepada wanita yang tepat.


Suara memekik dari mulut Nira sempat begitu nyaring, tapi Angkat dengan cepat membungkam dengan ciuman yang mendalam. Perlahan dia mengerakkan pinggulnya maju dan mundur, hingga masuklah semua keseluruhan dengan benar.


Awalnya perlahan Angkara melakukannya karena tidak ingin menyakiti Nora, tapi siapa yang akan tahan melakukan itu dengan pelan-pelan? Setelah dirasa cukup menyediakan miliknya di mili Nora, dengan cepat Angkara memompa membuat Nora mengeluarkan suara-suara yang semakin membangkitkan jiwa laki-laki yang sudah beberapa bulan terakhir dia tahan.


Angkat mengatur nafasnya setelah membaringkan tubuhnya di samping Nora. Dia berubah posisi untuk memeluk Nora yang terlihat kelelahan juga.


" Terimakasih sudah menjaga diri dengan baik selama ini, mulai sekarang biarkan aku menjagamu dengan cinta yang aku miliki. "


Nora tersenyum, sungguh apa yang mereka lakukan tadi terasa sangat indah. Meski ada rasa sakit, nyatanya dia lebih banyak mendapatkan keindahan rasa dari apa yang mereka lakukan tadi.


" Aku mencintaimu. " Ucap Nora dan Angkara bersamaan.


Bersambung.