
Hanzel memberikan setumpuk bukti-bukti tentang Ibu tiri Nora kepada Lora. Bahkan juga ada rekaman kamera pengawas jika Lora ingin melihatnya secara langsung.
" Sayang, segini banyak bagaimana aku bisa mengerti? " Protes Lora yang sudah merasa tidak yakin melihatnya banyak sekali bukti tentang Ibu tiri Nora .
Hanzel pria itu tersenyum, dia merapatkan tubuhnya kepada Lora dan sebentar mengecup kepala istrinya. Tentu saja dia tahu sepandai-pandainya Lora, akan sulit juga mengartikan kesimpulan dari banyaknya berkas yang di berikan padanya.
" Jadi begini, istriku tercinta. Ibunya Nora itu sebenarnya memiliki obsesi untuk menjadi seorang bintang terkenal, tapi karena tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya secara finansial, akhirnya dia mencoba untuk bekerja sebagai tukang bersih-bersih di gedung pertelevisian. Lama kelamaan karena kegigihannya ada seorang aktris yang menawarinya menjadi asisten pribadi, tapi karena semakin lama semakin banyak membuat kesalahan, dia di pecat. Tak berhenti sampai disitu, dia akhirnya pindah dari aktris satu ke artis lain, juga beberapa model untuk menjadi asisten. Tapi masalahnya, obsesinya untuk menjadi aktris sangat besar hingga bukan hanya sekali dua kali membuat kesalahan, jadi akhirnya dia di dikucilkan oleh semua orang. "
" Lalu, kenapa dia mengaku teman Ayahku? Kenapa, dan untuk apa? "
Hanzel terdiam sebentar, dia meraih tangan Lora dan menggenggamnya erat-erat. Percayalah, selama perjalanan pulang Hanzel sama sekali tak tenang memikirkan bagaimana menceritakan ini kepada istrinya.
" Lora, dia itu adalah keponakan Ibumu. "
Lora tercekat tak bisa bicara untuk beberapa saat, sekarang matanya terarah kepada Hanzel dengan tatapan tajam, kaget, juga menuntut penjelasan apa maksud dari ucapan Hanzel barusan.
" Aku tidak bohong, Lora sayang. " Hanzel membuka amplop yang ada di meja, mengeluarkan semua isinya, dan Hanzel meraih satu photo yang ada di sana untuk Hanzel tunjukan kepada Lora.
" Lihat, ini adalah Ibumu. Ini adalah kau dan Nora yang masih berusia enam bulan. Yang berdiri di samping Ibumu itu adalah Ibu tiri mu, yang tak lain adalah Bibi mu sendiri. "
Dengan tangan gemetar Lora meraih photo itu dan memperhatikan wajah Ibunya yang tersenyum begitu bahagia. Benar, kalau itu Ibunya pasti sangat bahagia hingga tidak tahu kalau pada akhirnya nasib anak-anaknya dan juga suaminya akan menjadi seperti sekarang ini.
" Ibu..... " Lora menitihkan air mata, tentu saja dia rindu, tentu saja dia sedih karena tidak lagi memiliki Ibu yang katanya akan bersamanya untuk selamanya.
" Sayang, akan ada kenyataan yang terungkap, dan ini akan sangat menyakitkan. Bagaimana kalau kita lanjutkan besok saja? Tunggu situasi mu baik ya? "
Lora menggeleng tak setuju, bagaimana bisa dia mengiyakan ucapan Hanzel barusan? ini udah tanggung. Dia memang merindukan Ibunya, tapi kebenaran menyakitkan seperti apa pun harus dia hadapi karena ada dua orang hidup yang tak lain adalah keluarganya sendiri.
" Katakan saja, bukankah akan lebih baik cepat tahu agar bisa segera mengantisipasi kemunginan terburuk? "
Hanzel menelan salivanya, lalu dia mengangguk saja karena apa yang dikatakan Lora memang ada benarnya juga.
" Lora, sebenarnya Ayah dan Ibu mu bercerai karena kesalahpahaman. "
" Maksudnya? "
" Bibi mu mungkin merasa iri karena dia selalu melihat bagaimana Ayahmu mencintai Ibumu, Ayahmu juga sama sekali tak pernah kasar dan selalu memanjakan Ibumu meski bukan dengan uang. Karena benci dengan kegagalan yang terus berulang, dia jadi memiliki obsesi untuk merasakan apa yang Ibumu rasakan. Menurut rekaman kamera pengawas di tempat Bibi mu tinggal, Ayahmu memang datang mengunjunginya, tidak tahu apa yang terjadi, tapi Ibu mu juga datang tak lama setelah itu. Sepuluh menit setelahnya, Ibu mu pergi terburu-buru sembari menangis. Mungkin, Ayahmu dan Bibi mu berselingkuh. Atau itu sudah di atur agar mereka terkesan seperti sedang berselingkuh. "
Lora menggeleng tak percaya dengan mata yang tak henti menangis.
" Tidak mungkin, Ayahku tidak pernah dan tidak mungkin berselingkuh. Meksipun aku masih kecil saat itu, tapi aku ingat benar bahwa Ayah tidak sekalipun pernah berkata kasar pada Ibuku, tidak pernah menginap di luar, kalaupun iya dia selalu mengajak kami untuk ikut. "
" Itulah kenapa aku yakin Ayahnya di jebak. "
" Jadi kenapa Ibuku percaya begitu saja? Apa dia tidak mencari kebenarannya dulu sebelum bertindak? "
" Bibi mu pasti mengatur banyak cara, dia memberikan kecurigaan-kecurigaan yang sengaja agar Ibumu berpikir semua itu memang sangat benar. Hingga perceraian di antara kedua orang tuamu terjadi. Percayalah Ayahmu sangat hancur saat itu, menurut rekan kerjanya, dia bahkan seperti orang gila setelah Ibumu mengajukan gugatan cerai tanpa memberitahunya sama sekali. "
" Iya, wanita itu benar-benar seperti monster. Lihatlah sekarang, dia menjadikan Nora seperti apa yang dia mau, dan itu pasti saat memuaskan untuknya. Selain memenuhi keinginannya, Nora juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang diluar batas. "
" Sayang, kita lapor polisi saja yuk? Aku tidak bisa diam saja terus begini! "
Hanzel meraih tubuh Lora dan membawanya ke dalam pelukannya.
" Sabar sebentar ya sayang? Aku janji akan melakukan yang aku bisa agar semua masalah ini akan berakhir sesuai dengan keinginan mu. "
" Tapi aku tidak tahan lagi. "
" Aku tahu, tapi kita harus mengeluarkan duku Ayahmu dari sana. "
Lora menjauhkan tubuhnya dari Hanzel untuk menatapnya.
" Bagaimana caranya? "
" Satu pembantu disana sudah berada di pihak kita, dia akan melakukan segalanya dengan memberitahu Nira apa saja yang harus dia lakukan di sana. "
Lora tersenyum senang.
" Bagaimana caranya kau memalukan itu semua? "
Hanzel tersenyum seraya mencubit pelan pipi Lora.
" Aku butuh imbalan, pekerjaan ini lumayan menguras otak loh. "
Bruk!
Tak perlu menunggu lama, Lora kini sudah dah berada di pangkuan Hanzel dengan posisi saling berhadapan. Lora yang tahu benar bagaimana suaminya tentu saja langsung menyentuh bagian-bagian yang bisa membuat Hanzel melenguh nikmat.
" Sayang, ini adalah imbalan yang sangat spesial dariku, khusus untuk hari ini, biarkan aku melayaniku dengan baik, kau dima saja tidak usah mengeluarkan tenaga sedikitpun. " Hanzel tersenyum, saat Lora mulai menggerakkan lidah menyusuri lehernya barulah dia tak lagi bisa tersenyum melainkan melenguh menikmati apa yang Lora lakukan.
***
Setelah mendapatkan informasi dari satu pembantu yang kini menjadi informan untuknya, Nora sudah bersiap untuk berpura-pura mengajak Ayahnya olah raga pagi bersama Minggu besok. Sebenarnya mereka juga sering melakukan itu, tali kali ini adalah demi bisa membawa Ayahnya pergi jadi jangan sampai gagal.
" Ayah, besok kita olah raga pagi yuk? " Ajak Nora setelah acara teng mereka tonton selesai.
" Aku ikut kak. " Ujar Adik tirinya Nora.
" Ibu, juga harus ikut kan? " Ibu tiri menatap Nora seperti mengancam.
" Iya, boleh. " Ujar Nora yang jelas lah dia tidak bisa mengatakan tidak dan membuat mereka curiga.
Bersambung.