Little Wife

Little Wife
BAB 67



Nora mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal menahan kemarahan yang semakin memuncak di dadanya. Kenapa? Padahal dia hanya ingin menemui saudari kandungnya yang sudah hidup dengan menderita, apakah menemui saudarinya tidak bisa dia lakukan seumur hidupnya? Tidak, tidak bisa kalau seperti terus menerus, jika hanya memikirkan satu orang saja, pada akhirnya akan banyak sekali luka yang di dapat oleh saudarinya, juga Ayahnya.


Sudah bertahun-tahun dia memendam semua ini, merasakan sakitnya sendiri. Dia tetap menurut meski sadar benar jika dia sedang dimanfaatkan karena wajah cantiknya. Dipaksa untuk bekerja membantu memenuhi kebutuhan rumah yang seharunya bukan tugasnya. Rasanya ingin menyalahkan dunia dengan apa yang terjadi, dia bahkan membenci Lora karena merasa dia memiliki keberuntungan yang selama dia impikan, tapi setelah mengetahui kebenaran tentang saudari kembarnya itu, Nora menjadi merasa begitu bersalah, membenci dirinya, membenci keadaan yang membuat mereka terpisah, dan mereka harus merasakan kejamnya dunia yang tidak adil ini.


Rencana Nora akan berangkat besok pagi, tapi melihat keadaan yang tidak mendukung, dia jadi mempercepat jam keberangkatannya sebelum Ibu tirinya mencegah dengan cara halus yang menyakiti nantinya.


Setelah memastikan semua sudah tidur, Nora bergerak keluar dari rumah, karena managernya yang sudah seperti keluarga sudah menunggu untuk mengantarnya ke Bali dan menemaninya juga selama di sana. Sama halnya seperti Ita, Manager Nora juga sangat baik dengan Nora, dia mengetahui hampir keseluruhan apa yang terjadi pada Nora sehingga sebagai seorang manusia dan orang yang menyayangi Nora dia pasti akan mendukung apa yang dilakukan Nora.


" Kak, jalan sekarang dan tolong nonaktifkan ponselmu sepertiku, aku benar-benar tidak ingin ada yang merusak semuanya, kau tahu bagaimana wanita itu kan? "


Manager Nora yang bernama Indah hanya bisa mengikuti apa yang diminta artisnya itu. Dengan segera dia mengeluarkan ponselnya, dan mematikan agar tidak ada yang bisa menghubunginya kecuali ponsel milik pribadinya yang hanya diketahui oleh orang tuanya. Maklum saja, kedua orag tuanya sudah sepuh dan dia juga harus berjaga setiap waktu takut orang tuanya membutuhkannya sewaktu-waktu.


Sesampainya di sana, Nora sebentar berisitirahat bersama dengan Indah. Mereka tinggal satu kamar atas permintaan Nora yang merasa sangat membutuhkan Indah sekarang ini.


" Makanlah sesuatu dulu, Nora. " Indah memberikan banyak sekali camilan untuk Nora karena dia tahu sekali seharian ini Nora sama sekali tidak memakan apapun.


" Aku tidak bisa makan kak, setiap kali aku ingin menelan makanan, aku seperti membayangkan kalau makanan itu adalah bola api. Aku merasa kalau aku juga tidak pantas memakan makanan itu, padahal aku pikir aku adalah yang paling menderita, tapi ternyata dia lebih, bahkan jauh sekali tidak bisa dibandingkan dengan apa yanga ku alami. Dia pasti kesulitan selama ini, sementara aku? Aku malah sibuk mengeluh dengan kehidupan yang baik-baik saja meski juga ada masanya aku sangat menderita. "


" Nora, kau juga tidak hidup dengan baik, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kau bukan orang yang sengaja menciptakan penderitaan untuknya, jadi berhentilah menyalahkan diri dan bersedih terlalu lama. "


Nora menghela nafas, dia menatap langit malam yang mendung tak berbintang. Rasanya ingin sekali melakukan apa yang Indah katakan, tapi masalahnya dia tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah itu barang sedetikpun.


" Kak, besok adalah hari ulang tahunku, itu berarti hari ulang tahu Lora juga. Kakak tahu kan kalau aku sangat membenci hari ulang tahun ku, mungkin aku menjadi semakin kacau karena itu. "


Indah menghela nafas, dia bangkit dan mendekati Nora yang berdiri di dekat jendela dengan tatapan yang terlihat sangat tertekan. Memang benar Indah baru sekitar lima tahun mengenal Nora secara dekat, tapi lima tahun itu sudah cukup membuatnya mengerti bahwa menjadi Nora juga adalah hal yang sangat sulit.


" Nora, kau tetap menyayanginya meski kau tidak bisa bersama dengannya, tapi dia pasti membencimu tanpa perduli apa yang kau rasakan kan? Intinya kalian tidak baik-baik saja selama berpisah, jadi tetaplah berpikir positif dan biarkan saja semua terjadi, mengalir seperti seharusnya.


Esok harinya, Hanzel dan Lora sudah bersiap untuk pergi ke luar dan mencari sarapan untuk mereka berdua. Di hotel tentu saja menyiapkan sarapan, tapi Hanzel dan Lora ingin keluar sendiri jadi Lora bisa memilih apa yang memang dia inginkan.


Tidak menggunakan mobil, tali kali ini Lora dan Hanzel menaiki sebuah sepeda motor yang mereka sewa dari tempat sewa yang menyediakan motor, juga ada mobil disana. Karena ingin lebih merasakan bagaimana suasana Bali, mereka tentu saja akan memilih motor untuk berkeliling.


Setelah mendapatkan sarapan mereka, Hanzel membawa Lora berkeliling melihat-lihat kota Bali. Barulah setelah merasa luas, Hanzel membawa Lora ke pantai karena sedari tadi Lora sudah mulai merengek untuk kesana.


" Wah, banyak orang luar negeri ya sayang? Gadis-gadis disini juga cantik-cantik. Ya ampun, pria nya juga tampan dan badannya bagus. "


Hanzel mengeryit karena keberatan sekali dengan ucapan Lora barusan. Padahal dia sendiri tidak begitu perduli dengan banyaknya gadis yang memakai bikini, rupanya juga cantik-cantik, tapi Lora? Hanya karena laki-laki bertubuh kekar dia langsung mengatakan betapa dia mengaguminya, bahkan sekarang dengan terang-terangan Lora menatap kagum sampai pipinya merona.


Lora membulatkan matanya karena terkejut. Ah, memang iya dia lumayan terpesona dengan tubuh pria kekar yang ada disana, tapi kalau Hanzel se-marah ini, mana berani dia melanjutkan menatap pria kekar tadi?


" Kita pulang sekarang! " Ajak Hanzel seraya meraih pergelangan tangan Lora.


" Aduh, sayang! Kita kan baru sampai! " Protes Lora.


" Aku tidak tahan melihat matamu yang berbinar-binar saat melihat tubuh kekar seorang pria! "


" Hanya kagum saja kok, tapi kalau mau mencicipi ya aku hanya mau kau saja. "


" Jangan menggodaku di saat begini, Lora! "


" Sayang, kau kan sudah berjanji akan memanggilku sayang. "


Hanzel menghela nafas, lalu menatap Lora yang merengut begitu lucu membuatnya tidak tahan kalau harus berlama-lama marah padanya.


" Oke, kalau aku panggil sayang, kau tidak boleh melihat tubuh pria seperti tadi, kau mengerti? "


" Iya, tapi kalau melihat tubuhmu bagaimana? " Lora tersenyum menggoda membuat Hanzel salah tingkah di buatnya.


" Kau bisa menatapku semau mu. " Ucap Hanzel tak berani menatap bola mata Lora.


" Ah, kalau begitu nanti malam kau jangan pakai baju ya? Aku akan menatap seperti tadi dengan tulus. " Lora terkekeh setelahnya.


" Terserah kau saja, aku ke toilet sebentar ya? Tunggu aku disini jangan kemana-mana, dan ingat untuk jaga matamu baik-baik. " Lora mengangguk sembari terkekeh.


Lora membuang nafas, lalu menatap suasana pantai yang sangat indah.


" Lora? "


Lora menoleh ke arah sumber suara.


" Nora? "


Bersambung.