
Sembari mengantarkan susu untuk Lora, Ita sekalian meminta izin untuk adiknya tinggal sampai tiga hari sebelum orang tuanya datang menyusul karena ada beberapa hal yang tidak bisa di ceritakan. Awalnya Hanzel agak keberatan, tapi karena Lora mengizinkan, Hanzel hanya bisa menurut saja dan tidak lagi mempermasalahkan seberapa lama Putri akan tinggal disana asal tidak membuat Lora stres dan tidak nyaman.
Seperti kebiasaan saat Lora akan tidur, Hanzel dengan telaten memijat kedua kaki Lora, lalu juga kepalanya. Sebenarnya bukan tidak merasa lelah, hanya saja dia merasa Lora lebih lelah dari pada dirinya. Lora itu kemanapun membawa perut besar yang bersisi dua bayi, nafasnya yang seperti kesusahan dan terus berkeringat membuat Hanzel menyingkirkan perasaan lelahnya untuk merawat Lora yang Sudi mengandung dua anaknya padahal dia masih sangat muda.
" Sayang..... "
Karena tidak ada sahutan dari panggilan nya untuk Lora, maka Hanzel menghentikan tangannya karena yakin benar jika Lora sudah tidur, jadi dia bisa melakukan hal lain. Hanzel bangkit perlahan dari tempat tidurnya, lalu meraih handle pintu karena dia ingin keluar dari kamar dan mengambil air mineral yang dingin di dapur. Ini sudah malam, jadi akan lebih baik dia megambil sendiri ketimbang mengeluarkan suara untuk mengubungi Ita atau memanggil Diah.
Hanzel meraih sebuah gelas, lalu menuangkan air yang ada di dalam kulkas untuk dia minum, lalu membawa botol itu ke kamarnya. Tapi langkah kaki Hanzel terhenti saat seorang gadis cantik, dan dia adalah Putri datang juga ke dapur.
" Selamat malam, kak Hanzel? " Sapa nya, lalu tersenyum manis sembari menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Pakaiannya yang memiliki kancing seperti sengaja tak ia tutup bagian atasnya hingga sebagian benda kembar di dadanya terlihat begitu jelas.
Hanzel, pria itu tentu bukan tidak tahu maksud dari sapaan Putri barusan, tapi karena Putri adalah adik dari Ita yang selama ini sangat membantu dirinya dan juga Lora, dia menahan diri dan bersikap saja sewajarnya.
" Selamat malam juga. " Jawab Hanzel singkat, lalu dengan segera ingin menjalankan kaki, dan lagi-lagi terhenti saat Putri mengajaknya bicara.
" Kak Hanzel, em, kalau boleh tahu, apa di tempat bekerja kak Hanzel ada lowongan pekerjaan untukku? " Putri tersenyum dengan begitu manis, dia bahkan dengan berani menatap Hanzel dengan gaya malu-malu tapi dengan jelas terlihat sangat ingin menggoda.
Hanzel menghela nafas, dia ingin sekali menyingkirkan tubuh Putri dari hadapannya, tapi sayangnya dia lagi-lagi harus menahan itu mengingat Ita.
" Maaf, untuk masalah itu aku tidak tahu. Kalau mau datang saja ke kantor, kau bisa bertanya ke bagian yang berwenang. "
Putri tetap tersenyum, tapi dia terlihat kecewa. Sebenarnya Hanzel memang sangat tampan dan mempesona, tapi sekarang dia sadar benar jika Hanzel bukanlah pria yang mudah untuk di dekati.
" Kalau boleh tahu, di mana aku bisa datang? "
Hanzel menyebutkan nama perusahaannya meski dia amat sangat malas. Jujur saja, orang seperti putri ini hanya akan merusak hubungan harmonisnya bersama dengan Lora, jadi tentu saja dia harus memberi tahu pihak HRD untuk tidak menerima Putri bekerja di perusahannya.
" Kalau begitu, lusa aku akan datang mencoba melamar kerja ya kak Hanzel? " Tanyanya dengan manja, dia bahkan dengan percaya diri menggerakkan tangannya seolah ingin Hanzel melihat bagian dadanya dan siapa tahu akan tergoda. Yah, mungkin bagi lelaki lain itu adalah rejeki yang tidak boleh di sia-sia kan, tapi bagi Hanzel, pria yang sudah tidur bukan hanya dengan satu wanita saja tentu menganggap itu adalah hal biasa untuknya.
" Pergilah saja jika ingin pergi, kalau begitu aku kembai ke kamar dulu. " Ujar Hanzel lalu segera meninggalkan Putri yang sepertinya ingin terus mengajaknya bicara.
Hanzel, pria itu benar-benar telah memantapkan hatinya kepada Lora seorang, maka dia hanya akan menganggap biasa saja wanita lain. Toh, Lora memang cantik, tubuhnya juga bagus, apalagi semenjak hamil, Lora jadi semakin montok berisi dan itu membuatnya bekas setiap hari.
Putri menghembuskan nafas sebalnya, memang sih dia sadar benar jika dia di tolak oleh Hanzel, tali pria seperti Hanzel itu benar-benar sangat langka, dan jelas dia adalah pria yang sempurna di mata para wanita. Tampan, yang banyak, dan tidak mudah di rayu oleh wanita, siapa yang tidak akan menginginkan pria semacam itu?
" Wah, beruntung sekali Nora itu ya? Pantas saja dia mau menikah dengan Hanzel di usianya yang masih muda. " Gumam Putri perlahan, dia kemudian kembali menjalankan mouse nya untuk melihat lebih banyak tentang Hanzel.
" Oh, jadi Ayahnya Hanzel sangat suka menikah ya? " Gumamnya lagi.
Putri semakin menggeleng keheranan melihat photo-photo mantan kekasih Hanzel. Iya, mereka sangat cantik dan berkelas, wajah mereka yang bisa dibilang mahal dan menjual tentu saja sangat mudah membuat Hanzel menikah, tapi, kenapa pada akhirnya Hanzel menikahi Lora yang wajahnya seperti anak-anak enam belas tahun? Apakah karena ingin mendapatkan gadis perawan sehingga menikahi gadis muda?
Putri menghela nafasnya karena masih belum mengerti kenapa Hanzel malah menikahi Lora? Anehnya pernikahan mereka juga tidak ada di berita manapun.
" Apakah Hanzel sengaja menikah diam-diam karena merasa malu? iya, kalau melihat mantan kekasih yang sebelumnya, tentu saja Lora bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan dirinya. Lora memang cantik dan imut, tapi kalau dari segi Katar belakang mana bisa di banggakan? Yah, mungkin Hanzel malu jadi diam saja padahal sudah menikah. "
Sekembalinya Hanzel dari dapur tadi, dia segera meletakkan sebotol air mineral di meja samping tempat tidurnya. Dia membaringkan tubuhnya menghadap ke Lora, memeluknya dan mengecup keningnya beberapa kali.
" Mimpi indah ya sayang? " Ucapnya laku kembali memeluk Lora, dan mengusap perutnya dengan lembut.
Besok paginya.
Tidak seperti biasanya, kali ini bukan hanya Ita dan Diah saja yang menyiapkan sarapan, tapi ada Putri yang terlihat lebih repot dari pada yang lainnya.
" Putri, kau jangan seperti itu dong, itu kan pekerjaan ku! Nanti kalau kau kerjakan semua, aku mau kerja apa? " Gerutu Diah protes kepada Putri yang seperti sedang mencari perhatian jadi membuatnya kesal.
" Aku hanya membantu. " Ujarnya.
" Oh, tapi lebih baik kau ganti baju saja dulu sana! Dadaku kelilingan seperti itu apa tidak malu kalau sampai Tuan Hanzel melihat? " Kesal Diah.
" Kak Hanzel tidak kurang kerjaan seperti itu kok. "
Diah mendengus kesal.
" Panggilnya Tuan, jangan kak! Sok dekat sekali! "
Bersambung.