
Nora tersenyum dengan begitu anggun saat baju pernikahan melekat di tubuhnya. Angkara juga nampak sangat gagah dengan setelah tuksedo di tubuhnya. Acara pernikahan yang digelar sangat sederhana akhirnya berjalan lancar dan sukses. Tidak ada tamu undangan, hanya ada keluarga inti laki-laki selaku orang tua Angkara, dan satu sahabat baiknya. Begitu juga dengan Nora, yang menjadi saksi hanyalah keluarga inti saja sesuai dengan permintaan Nora dan Angkara yang ingin mengadakan pernikahan sesederhana mungkin.
Seperti rencana mereka, Nora dan Angkara langsung terbang ke Singapure satu hari setelah pernikahan mereka di gelar. Terkesan buru-buru memang, tapi Angkara dan Nora benar-benar ingin mendapatkan penyembuhan semaksimal mungkin. Sebenarnya di negeri sendiri juga bagus, hanya saja Angkara lebih yakin jika berobat di singapure karena pernah satu sahabatnya menderita kelenjar getah bening dan sembuh total disana. Untungnya, sakit yang di derita Nora masih terbilang ringan dan tingkat kesembuhannya adalah delapan puluh lima persen. Dengan bekal itu, dan keyakinan mereka berdua, mereka memutuskan untuk fokus pada kesembuhan Nora. Untuk usaha mereka, Angkara sudah meminta dua orang untuk membantu penuh, dan dia juga akan tetap memantau dari kejauhan, nanti kalau ada hal yang mendesak, barulah Angkara akan kembali untuk sebentar saja.
" Pak Angkara sudah berangkat ke luar negeri tadi pagi, Bu. " Ucap satu pegawai kepada mantan istri Angkara yang sudah sejak pagi tadi menunggu di depan butik.
" Keluar negeri? Untuk apa? Apa untuk melihat bahan baju seperti biasa? "
" Pak Angkara pergi dengan istrinya, mungkin bulan madu atau apa saya juga kurang paham, Bu. "
Sela nampak terkejut, istri? Siapa? Padahal mereka resmi bercerai juga baru hampir dua bulan ini, kenapa Angkara sudah menikah lagi dengan begitu cepat?
" Kau yakin istrinya Angkara? Kau bohong ya? "
Pegawai itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Pak Angkara sendiri yang mengatakan kepada saya kalau beliau akan pergi dengan istrinya keluar negeri, jadi saya rasa pak Angkara tidak bohong, pak Angkara kan memang tidak suka berbohong, Bu. "
Sela memegangi dadanya yang terasa sakit, padahal bercerai juga baru, tapi Angkara sudah menikah lagi. Pantas saja Angkara terus menghindarinya, pesan yang bahkan ratusan dia kirim untuk Angkara tak satu pun mendapatkan balasan, apalagi panggilan telepon, jelas tidak mungkin di gubris oleh Angkara.
" Siapa istri barunya Angkara? " Tanya Sela penasaran, juga mendendam karena merasa telah merebut Angkara darinya. Padahal, Angkara benar-benar mencintainya, dan sudah bertahan selama bertahun-tahun. Tapi bagaimana bisa menikah secepat itu seolah cinta di antara mereka tidak pernah ada.
" Saya kurang tahu, Bu. Pak Angkara tidak pernah mengenalkan istrinya kepada kami. "
Sela terdiam menebak-nebak, dia mengingat salah satu pembantu yang ia curigai memiliki perasaan terhadap Angkara. Bahkan Sela juga mengingat dengan jelas bahwa pembantunya dulu sering sekali menggunakan baju seksi berharap Angkara tergoda, selama ada dia di sana memang tidak berhasil, lalu apakah pembantu itu berhasil menggoda Angkara dan membuatnya tergoda?
" Pasti dia pakai guna-guna. " Ujar Sela menggerutu kesal.
***
Lora menarik nafas dalam-dalam memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit seperti hamil lima bulan, padahal usia kandungannya baru tiga bulan. Iya, mungkin karena ada dua bayi di dalam perutnya sehingga lebih besar dari pada kehamilan tunggal.
" Sayang, apa sudah mulai begah? " Tanya Hanzel yang duduk di samping Lora sembari mengusap perutnya perlahan-lahan dengan lembut.
" Bukan sih, tapi aku merasa kebanyakan makan seharian ini, jadi aku sangat kekenyangan, nafas juga jadi susah. "
" Anak-anak Ayah, baik-baik di dalam perut Ibu ya? Jangan nakal, juga jangan bertengkar di dalam sana. "
Lora terkekeh geli.
" Memangnya apa yang membuat mereka bertengkar? "
Hanzel meneggakkan posisinya, dia mencium pipi Lora dan membawa kepala Lora untuk menyender di pundaknya.
" Aku masih tidak percaya kita akan segera punya anak, sayang. Ada dua, aku akan punya anak dua, kau dan aku akan jadi orang tua dari dua anak. Aku benar-benar bahagia sampai setiap bangun tidur selalu melihat ke perut mu, lalu merabanya untuk memastikan. Saat aku tahu aku benar akan menjadi seorang Ayah, akhirnya aku bisa menghembuskan nafas lega dan kembali bersyukur. "
Lora memeluk lengan Hanzel dengan erat. Sungguh dia sendiri juga masih tidak percaya kalau ada dua calon anak mereka di dalam perutnya.
" Sayang, nanti kalau anak sudah lahir dan aku kurang pecus merawatnya, tolong jangan terlalu menyalahkan aku ya? Aku pasti akan baik-baik merawat anak-anak kita, tapi karena aku juga baru, dan pengalaman pertamaku, maka- "
" Jangan begitu, ini juga pengalaman pertamaku, jadi kita belajar sama-sama ya? Aku tentu tidak akan menyalahkan mu, jadi berhentilah menakuti hal yang tidak akan terjadi. " Lora semakin erat memeluk lengan Hanzel, Hanzel memberikan kecupan di kening Lora lalu kembali menonton film yang sedang mereka tonton berdua sedari tadi.
Dari kejauhan Diah hanya bisa menatap itu dengan gerundelan di hatinya. Jujur saja, sengaja seorang gadis jelas saja merasa iri dengan kemesraan Tuan rumahnya. Hanzel adalah pria tampan yang sangat penyayang, dan Lora adalah gadis yang manja dan sangat berlebihan dalam banyak hal. Padahal masih muda saat hamil, seharusnya tidak begitu cengeng dan pemalas, tapi malah bersikap seperti putri raja yang hanya tinggal tunjuk sana tunjuk sini saja, batin Diah kesal.
" Berhentilah menatap seperti itu, Jagan kira aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. " Ujar Ita seraya meletakkan gelas habis ia pakai di wastafel, kalau mencucinya dan meletakkan di tempatnya.
" Eh, kak Ita? " Ujar Diah terkejut dengan kedatangan Ita yang dia rasa tiba-tiba sekali. Iya, mungkin dia terlalu fokus melihat adegan mesra Hanzel dan Lora sembari membatin, hingga pada akhirnya dia tidak tahu kalau Ita ada disana juga.
" Diah, aku tahu sekali apa yang kau gunakan selama ini. Aku peringatkan padamu ya? Jangan macam-macam, apalagi sampai merendahkan Nyonya rumah kita. Kau kan tidak kenal benar seperti apa dia, jadi jangan sok tahu, jangan bergerundel sembari bekerja, atau kau akan tahu akibatnya. "
Diah mendesah sebal, lagi-lagi kena ceramah dari Ita yang sebenarnya juga adalah pembantu. Menurut Diah, sesama pembantu seharunya tidak usah sok berkuasa seperti itu, jangan sok bos karena nyatanya mereka berdua adalah kesetnya orang kaya.
" Jangan kira juga aku tidak tahu apa saja yang kau gerutukan tentangku, lihat, ada banyak kamera pengawas di rumah ini. "
Diah melotot kaget, sungguh dia tidak menyangka kalau di dapur juga akan ada kamera pengawas.
Bersambung.