Little Wife

Little Wife
BAB 85



Setelah satu Minggu menunggu, kini Ibu tiri benar-benar telah di tahan oleh pihak berwajib demi menjalani hukuman atas apa yang dia lakukan selama ini. Sedangkan Sindy, seperti permintaan gadis kecil itu, dia ingin bersekolah bersama dengan neneknya yang tinggal tak jauh dari rumah dimana mereka tinggal dulu, sedangkan untuk biaya semua di tanggung oleh Hanzel.


Keadaan Ayahnya Nora dan Lora juga semakin baik. Meski Dokter sudah menyampaikan bahwa kemampuan mengingat masa lalunya tidak bisa membaik seratus persen, setidaknya Ayah mereka sudah tidak perlu merasakan sakit lagi saat mencoba mengingat masa lalunya.


Sedangkan Hanzel dan Lora, semenjak kehamilan Lora tak satupun pekerjaan boleh dikerjakan olehnya. Hanzel juga sudah mendapatkan satu pembantu lagi untuk bekerja di rumah. Sebenarnya Ita sudah mengatakan jika dia bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri, tapi Hanzel yang tidak tega karena melihat Ita juga selaku menemani Lora, maka Hanzel memutuskan untuk Ita menemani Lora di saat dia tidak ada di rumah.


" Diah, tolong buatkan susu hangat untuk Nyonya ya? " Pinta Ita kepada Diah si pembantu baru yang berusia dua puluh tahunan. Gadis itu mengangguk sopan dan patuh, tapi begitu Ita pergi, dia mulai berubah ekspresi menjadi sebal dan tak terima terus diperintah oleh Ita.


" Padahal dia juga pembantu, tapi malah sibuk menyuruhku ini itu. Nyonya kecil itu juga sama saja, padahal masih muda tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya karena sedang hamil terus tidak melakukan apa-apa, benar-benar istri kecil yang manja. Kira-kira apa yang membuat Majikan pria itu menyukai istrinya ya? Apa hanya karena cantik saja? Hem, benar-benar deh selera orang kaya itu hanya perduli tentang rupa saja. Padahal kalau di desaku sangat penting loh menikahi istri yang rajin memasak, membereskan rumah juga, bukan hanya leha-leha seperti itu. " Gumamnya sembari membuat susu hamil untuk Lora, lalu meletakkan saja di meja karena nanti juga Ita akan mengambilnya seperti biasa.


" Sudah kan Diah? " Tanya Ita seraya berjalan mendekati segelas susu yang sudah selesai dibuat.


" Sudah kak. " Jawabnya sopan.


" Oh iya, buah untuk Nyonya masih ada kan? " Tanya Ita karena ini memang jadwal Lora untuk memakan buah seperti biasanya.


Diah menggaruk tengkuknya sembari tersenyum malu.


" Anu, maaf kak. Kemarin saya kira buah itu sudah tidak dimakan lagi, jadi saya habiskan semuanya. "


Ita terdiam dengan dahi mengeryit.


" Semua? Serius? Itu kan masih banyak. "


" Iya, maaf ya kak. "


Iya menghela nafas, sebenarnya dia kesal sekali, tali dia juga harus maklum karena Diah kan masih baru dan belum paham benar dengan semua hal.


" Ya sudah, lain kali jangan di ulangi lagi ya? Mulai besok kita belanja buah agak banyakan saja kalau kau juga suka buah. Nanti kau pisahkan buah untukmu, dan yang untuk Nyonya jangan sampai di ambil juga, kau mengerti kan? "


" Iya kak. "


Ita kembali ke ke teras rumah dimana Lora sedang berada disana.


" Cih! Cuma buah saja pelit! " Gerutunya tak terima.


***


Nora tersenyum melihat kedatangan Angkara setelah dua puluh menit dia menunggu di sebuah restauran.


" Nora sudah datang dari tadi? " Tanya Angkara yang merasa tidak enak membuat Nora yang adalah seorang aktris menunggunya lama seperti ini.


" Tidak kok, aku juga belum lama. " Ujar Nora karena memang tidak masalah lama menunggu asalkan Angkara benar-benar datang.


" Maaf aku terlambat, tadi ada pelanggan yang mendadak datang ke butik, jadi tidak enak juga kalau meninggalkannya karena memang biasa langsung berhubungan denganku. "


" Tidak apa-apa kok, sungguh! "


Angkara tersenyum.


Nira mengangguk. Iya, Nora menjadikan calon usahanya sebagai jalan untuk ya bisa semakin dengan Angkara yang juga seorang pemilik beberapa butik yang ada di kota itu. Angkara selain membuatnya jatuh cinta, dia juga adalah seorang pengusaha yang terbilang lumayan sukses. Butik miliknya sudah terbiasa dikunjungi oleh istri pejabat, aktris, dan orang kalangan atas lainnya. Jadi tidak salah kan kalau sembari mencoba mendekati Angkara sekalian belajar untuk menjadi pengusaha seperti dirinya?


Setelah makan siang selesai, mereka juga sudah lumayan lama beristirahat, Akhirnya mereka berdua mendatangi tempat dimana Nita akan membuat butik miliknya dan juga Ayahnya. Benar-benar sangat bisa di percaya, Angkara tidak main-main dalam memilih tempat usaha. Memang harga sewanya cukup mahal, tapi letaknya yang strategis, di tambah bangunan di sekitarnya yang sangat keren dan terbilang elit, itu semua sudah cukup menjelaskan bahwa barang yang akan di jual nanti pasti adalah barang dari kelas terbaik.


" Disini target marketnya Adalah orang kaya, Nora. Jadi usahakan dapatkan barang-barang terbaik, pekerjakan pelayan yang mengutamakan keramahan, ketelatenan, dan juga keramahan serta kesabaran. Orang kaya cenderung cerewet karena mereka sangat teliti dalam membeli barang mahal, jadi jangan sampai kecolongan tentang itu. " Ucap Angkara memberikan saran meski sebenarnya Nora sudah paham sekali akan hal itu.


" Iya. " Nora tersenyum melihat Angkara yang benar-benar serius dalam berucap kalau tentang bisnis.


" Jadi, bagaimana pendapatmu tentang tempat ini, Nora? "


" Hem? Apa? " Ah, ternyata Nora benar-benar terpana melihat Angkara yang tampak begitu keren. Sungguh Nora sama sekali tidak menyangka kalau akan jatuh cinta dengan pria matang seperti Angkara. Dulu, dia selalu menilai tampan kalau yang dia lihat adalah tampilan pria muda dengan baju kekinian dan bermerek, Tapi melihat Angkara yang selalu menggunakan kemeja seperti orang kantoran, entah mengapa itu juga nampak lebih menarik.


" Kau melamun ya? "


Nira meringis saja karena tidak tahan menahan malu.


" Bagaimana dengan tempat ini? "


" Bagus, aku suka! " Ucap Nora, tapi yang dia perhatikan hanyalah wajah Angkara saja.


Angkara tersenyum, sungguh dia tidak ingin salah paham, tapi hatinya juga tidak bisa ditahan untuk tidak bahagia.


" Nora, ini sudah sore, kau mau pulang sekarang atau mau pergi kemana dulu? "


" Kalau kau mau kemana? " Nora menekan salivanya sendiri, sungguh dia tidak sengaja, dan kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja.


Angkara sebenarnya juga agak terkejut dengan pertanyaan Nora, tapi sebisa mungkin dia menjawab dengan kalem.


" Ya mengantar mu pulang, lalu pulang ke rumah ku. "


Nora mengangguk-angguk saja karena takut kelepasan bicara lagi nanti.


" Ya sudah, pulang saja yuk. "


Di dalam perjalanan pulang. Beberapa saat tak ada obrolan di antara mereka. Entah canggung atau apa, tapi karena terlalu sepi, pada akhirnya Angkara memulai obrolan di antara mereka.


" Nora, kau tidak risih kemana pergi bersamamu? "


Nora mengeryit bingung.


" Malu kenapa? "


" Aku kan hampir seumuran dengan Ayahmu. "


" Tapi kau sangat tampan, tidak akan ada yang tahu kok kalau usiamu sudah tiga puluh lima tahun. " Nora tersenyum dan terlihat sangat jujur.


Bersambung.