Little Wife

Little Wife
BAB 87



Lora menyambut kepulangan Hanzel dari kantor seperti biasanya, tapi semenjak Lora hamil, Hanzel tidak lagi meniatkan Lora membawa tasnya yang jelas berat karena ada laptop, juga ada dokumen yang kadang dia bawa ke rumah. Benar-benar seperti putri raja, meski sudah bukan sekali dua kali Lora protes karena terlalu bosan, nyatanya Hanzel malah memberikan banyak sekali alternatif lain untuk menyibukkan diri tanpa membuat tubuhnya terlalu lemah. Kemarin Hanzel memberikan peralatan menyulam untuk Lora karena tahu Lora bisa menyulam, kemudian tanama hias terbaru, juga beberapa buah impor yang bisa hidup di cuaca yang tropis.


" Sayang, besok Nora meminta kita datang untuk makan malam, kau jangan sampai lembut kerja ya? "


" Iya, besok aku pulang lebih cepat. "


Diah, gadis itu hanya bisa membatin sebal dan heran dengan sikap manja Lora yang tak masuk akal baginya Meksi bibirnya tersenyum manis kepada mereka berdua. Mungkin bermuka dua itulah julukan yang cocok untuknya. Tidak mengelak, status nya yang jelas menuntut untuk hormat, kemudian jiwa iri yang meronta di dalam hati juga tak bisa ia tahan.


" Dasar manja. " Gumamnya begitu Lora dan Hanzel tak lagi terlihat dan sudah masuk ke kamar mereka.


" Diah, kita belanja bulanan yuk! " Ajak Ita yang sudah rapih.


" Ini kan sudah malam, kak? "


Ita menghela nafas sembari menatap Diah dengan tatapan jengah. Sebenarnya dia benar-benar merasa kesal dengan Diah yang selalu banyak tanya setiap kali dia mengajak melakukan sesuatu. Padahal, Ita adalah orang yang malas sekali harus panjang lebar bicara menjelaskan untuk hal yang sama setiap hari.


" Diah, kita itu kan belanja di supermarket yang buka dua puluh empat jam, pasar sayur dan buah juga buka sampai jam dua subuh kan? Pusing apa lagi? Ini baru pukul tujuh malam. "


Diah menggaruk tengkuknya, dia tersenyum kikuk lalu segera meletakkan sapu dan kain lap yang sedari tadi ia pegang.


" Saya sudah selesai, kak. Kakak tidak ganti baju? " Tanya Diah yang masih merasa aneh karena Ita belum juga mengganti pakaiannya.


" Kenapa aku harus ganti lagi? baju ini aku baru pakai kok. "


Diah menelan salivanya sendiri melihat pakaian yang digunakan Ita sangat terbuka kalau untuk pergi keluar rumah. Celana jeans pendek, sudah begitu ada bagian yang di robek sampai sobek, kemudian kaos oblong yang tipis hampir terlihat nyata pakaian bagian dalam milik Ita.


" Anu, tidak baik kak keluar dari kamar pakai baju kurang bahan seperti itu. "


Ita menghela nafas sebalnya.


" Anggap saja aku ini suka sekali beramal, jadi biarkan saja aku beramal dengan caraku. "


" Loh, bisa begitu kok? "


***


Alexander kebingungan dengan semua yang terjadi Akhir-akhir ini. Lora yang semakin tak bisa dihubungi tentu semakin membuatnya menebak-nebak tak jelas. Awalnya dia sudah mendapatkan alamat dimana Lora tinggal, tali karena Kita tinggal di perumahan elit yang tidak bisa sembarangan orang masuk, Alexander pun hanya bisa pasrah saja tak bisa menemui Lora.


Aneh, karena semua yang terjadi ini terlalu diluar pikirannya. Nora yang biasanya akan diam saja saat dia dengan jelas menolak, bertingkah seolah mereka adalah pasangan yang saling mencintai di hadapan orang lain, Nira juga jelas sekali mengharapkan cintanya hingga terang-terangan mengemis dengan cintanya. Kenapa? Kenapa Nora bahkan berubah? Dia tanpa kabar dan pembicaraan apapun tiba-tiba memutuskan pertunangan, dan menutup pesan kepada Ayahnya untuk disampaikan padanya bahwa dia ingin Alexander hidup bahagia, mencintai dan di cintai oleh orang yang tepat, dan semoga selaku bahagia di sepanjang waktu dalam keadaan apapun.


Merasa tak bisa tenang, Alexander memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nora. Kau baik-baik saja? Hanya kalimat itu, tapi sebenarnya sudah mewakili semua pertanyaan yang dia punya untuk Nora. Bagaimana kabarnya, kenapa memutuskan pertunangan tanpa memberitahunya? Masalahnya apa? Dan ada banyak lagi pertanyaan yang ada di dalam kalimat itu.


Nora sendiri bukan tidak tahu kalau mendapat pesan dari Alexander, hanya saja dia sengaja tidak ingin merespon, juga tidak ingin tahu menahu tentang pria masa lalunya yang sudah cukup membuatnya tertekan selama ini.


" Nora, semua sudah berkumpul, ayo cepat bergabung. " Ucap Lora setelah membuka pintu kamar Nora.


" Iya. " Nora bangkit dari meja riasnya, dia tersenyum bahagia dengan penampilannya yang saat anggun meski pakaiannya sangat sederhana. Dia sangat cantik, senyumnya indah mirip sangat dengan Ayahnya.


" Nora, aku harap setelah ini kau bisa hidup dengan bahagia ya? " Nora mengangguk setuju.


" Bagaimana penampilan ku makan ini, Lora? " Tanya Nora sembari memutarkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, serta tersenyum dengan sangat cantik.


Lora memberikan dua jempol tangannya untuk Nora. Jujur Lora merasa kasihan begitu melihat tubuh Nora yang berubah menjadi amat kurus dan pipinya sangat tirus. Padahal saat pertama kali melihat Nora, dia itu sangat fresh, tubuhnya berisi, tatapannya juga tegas tapi sikapnya yang lembut membuat tak ada satupun teman yang tidak menyukainya. Tapi sudahlah, tidak apa-apa! Toh nyatanya Nora pasti akan membaik suatu saat nanti, sekarang ada banyak prosedur pengobatan yang harus dilalui, dan pada akhirnya nanti tubuhnya akan pulih seperti sedia kala.


Sebentar tak ada yang aneh dalam obrolan makan malam mereka, hingga selesai kegiatan itu barulah Angkara mulai mengutarakan maksudnya datang kesana malam itu.


" Maaf kalau saya tiba-tiba mengatakan ini, tali maksud kedatangan saya adalah, saya ingin melamar Nora, dan jika berkenan saya ingin menikahi Nira secepatnya. "


Ayahnya Nora dan Lora terdiam sebentar. Sungguh dia tidak menyangka kalau pada akhirnya putrinya menikah di usia yang masih sangat muda. Jika boleh jujur, Ayah tentu ingin Nora dan Lora menyelesaikan kuliahnya dulu, bersenang-senang di masa muda, tapi mau apa kalau takdir yang andil dalam kehidupan? Melihat Nira tersenyum malu-malu tentu Ayah tahu benar jika Nora memiliki perasaan yang dalam untuk pria tiga puluh lima tahun itu. Benar usia mereka terpaut lumayan jauh, tapi semoga saja Nora tidak salah memiliki pasangan nantinya.


" Nora, yang akan menikah adalah kau, jadi Ayah lempar ini padamu, apakah kau menerima pria itu sebagai calon suamimu? "


Nora menatap Ayahnya.


" Apa Ayah merestui? "


" Iya. "


Nora tersenyum senang.


" Aku ingin menikah dengan Angkara, Ayah. "


Bersambung.