
Hanzel membuang tumpukan barang yang berada di atas meja di samping laptopnya. Karena tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan tentang apa saja yang dibicarakan keluarganya kepada Lora, Hanzel yang jelas memasang kamera pengawas telah melihat dan mendengar secara langsung apa saja yang terjadi selama dia tidak ada.
Marah, dia sangat marah bukan hanya kepada keluarganya saja, tapi dia juga sangat marah kepada Lora yang jelas menyetujui keinginan Ibunya. Kenapa lagi-lagi wanita yang berada di sampingnya harus memilih untuk meninggalkannya? Apakah para wanita itu sama sekali tidak memiliki perasaan? Jika saja Lora meninggalkannya beberapa bulan lalu sebelum dia benar-benar sangat jatuh cinta, mungkin Hanzel akan baik-baik saja. Sekarang perasaannya sudah jauh lebih dalam dari pada yang ia pikirkan dan tentu saja akan sangat menyakitkan untuknya jika Lora benar-benar pergi.
" Lora, jika gertakan seperti ini saja sudah membuatmu lemah, bagaimana kau akan mampu menghadapi yang lebih nantinya? " Hanzel mencengkram kuat pinggiran meja dengan tatapan marah. Bukan salahnya jika merasa marah dan kecewa, karena Lora sering kali mengatakan tidak bisa hidup tanpa dirinya, hanya ingin terus bersamanya, dia adalah sumber kebahagiaan Lora, jadi Hanzel merasa begitu di cintai hingga tidak merasa ragu memberikan cintanya dengan porsi yang lebih. Seakan merasakan di angkat setinggi mungkin, tali juga dijatuhkan dengan sangat keras dan menyakitkan, itulah yang dirasakan Hanzel. Tak ingin membuang waktu berada disana, Hanzel segera keluar dan langsung berjalan untuk menemui Lora.
" Kau harus menyelesaikan dengan baik, ya? " Ucapan itu keluar dari mulut Ita, tali setelah melihat Hanzel datang ke kamar Lora, Ita segera pamit karena pasti banyak sekali yang akan dibicarakan antara Hanzel dan Lora.
Kota tersenyum melihat kedatangan Hanzel, dia bangkit dari duduknya lalu memeluk lengan Hanzel seperti biasanya.
" Sayang, kau mandi dulu ya? Aku siapkan pakaian mu, baru setelah itu pergi tidur. " Ucap Lora mencoba sebisa mungkin untuk berlaku seperti biasanya.
" jadi, Kapa kau berencana untuk pergi, hah? "
Lora terdiam mematung sebentar untuk mencerna makna di balik ucapan Hanzel barusan. Lora memang berpikir apakah Hanzel tahu tentang apa yang dia dan Ibunya bicarakan beberapa saat tadi? Tidak mungkin kan? Jelas-jelas tidak ada yang memberitahu tapi Hanzel bisa bertanya seperti itu sangat membuatnya bingung.
" Pergi kemana, sayang? " Lora menatap Hanzel yang juga menatapnya dengan dingin. Lora menelan salivanya, mengepalkan tangannya karena merasa takut dengan tatapan Hanzel yang mengingatkannya dengan Hanzel saat pertama kali mereka bertemu, dan saat Hanzel memaksanya untuk melakukan hubungan suami istri juga sama seperti itu tatapannya.
" Berhentilah untuk berpura-pura bodoh, Lora! "
Lora membelakak kaget, ini adalah kali pertama Hanzel begitu marah besar kepadanya, tatapannya juga semakin menakutkan hingga Lora tanpa sadar mundur menjauhi Hanzel dengan tubuh gemetar.
" Kau pikir mudah bagiku untuk jatuh cinta sehingga kau begitu pro dengan orang lain? Jika aku mau, aku bisa menggandeng wanita manapun saja, menidurinya dengan sembarangan, tapi aku tidak melakukannya, apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku? Kau, bisa mengabaikan perasaan mu demi Ibuku, tapi apakah kau juga lupa bahwa aku adalah suamimu?! Ini kehidupan kita, Lora! Apa kau tidak paham hah?! " Hanzel meninju tembok karena tidak tahan lagi menahan kemarahannya. Mungkin memang seharunya Hanzel membujuk Lora agar tidak pergi, tapi kalau sudah ego yang tersakiti, maka akan sulit untuk bisa berpikir dengan hati.
Lora, dia kini hanya bisa terisak ketakutan di ujung ruangan. Tubuhnya yang gemetar sungguh membuatnya merasa lemah, tapi dia juga tidak ingin terjatuh begitu saja. Dia tetap berdiri meski dia sama sekali tak berani menatap mata Hanzel. Iya, ini salahnya karena tidak mengatakan yang sejujurnya meski Ita sudah menasehati. Awalnya dia berpikir kalau dia akan tetap meninggalkan Hanzel demi kebaikan Hanzel di masa depan, tapi melihat Hanzel yang sangat marah seperti ini, bahkan memikirkannya saja sudah membuatnya takut.
" Wanita masa laluku boleh meninggalkanku, Lora. Mereka boleh mengkhianati, dan merendahkan ku, tapi kau tidak boleh melakukannya. Kau tahu kenapa? Karena aku paling memakai hati saat dengan mu! Melihat pria yang tersenyum padamu saja aku sudah sangat marah, apalagi mengetahui jika kau ingin pergi. Aku sangat mencintaimu aku akui itu, tapi apa kau tahu hah? Orang yang paling dicintai adalah orang yang paling mudah memberikan rasa sakit dan rasanya. berkali lipat lebih menyakitkan. "
" Benar-benar keputusan yang salah kalau menunda kehamilan. " Dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menakutkan, Hanzel berjalan mendekat kepada Lora, meraih pergelangan tangan Lora, lalu menghempaskan tubuh Lora yang memang kehilangan energi karena rasa takut terhadap Hanzel.
" Ah! " Pekik Lora saat tubuhnya terjatuh dan langsung Hanzel tindih. Tak seperti biasanya, Hanzel membuka baju Lora dengan amat kasar, mengecup tapi juga mengigit hingga Lora memekik kesakitan.
" Sakit, sakit sayang, tolong jangan begini. " Pinta Lora sembari menangis.
Masih tak perduli, Hanzel mengangkat tubuhnya untuk melepaskan sisa kain yang ada di tubuh Lora. Membuka kaos yang ia gunakan, dan membuka ikat pinggang serta pengait celananya. Hanya itu, Hanzel tak membuka keseluruhan celananya dan langsung menghujam milik Lora dengan kasar.
" Aku bisa jahat, jadi jangan sembarangan berpikir untuk meninggalkan ku, kau sudah tahu aku juga bisa hilang kendali dan menyakitimu kan? Kalau sudah masuk ke dalam kehidupan ku, terlebih juga ke hatiku, jangan pernah berpikir untuk pergi, kau hanya akan menderita saat memikirkan itu. "
Lora menutup mulutnya karena tidak ingin mengeluarkan suara, sungguh dia kesakitan dengan cara Hanzel melakukan kegiatan itu, tapi dia juga bisa melihat kalau Hanzel juga tidak menikmatinya karena matanya memerah seperti ingin menangis juga. Lora memeluk tengkuk Hanzel, membuat pria itu seketika menghentikan laju pinggangnya.
" Aku minta maaf, aku salah, maafkan aku. " Ucap Lora semakin erat memeluk Hanzel yang kini masih terdiam.
" Jangan marah lagi, aku kesakitan, kau juga kesakitan kan? " Lora menahan tangisnya hingga suaranya bergetar terdengar menyedihkan di telinga Hanzel.
Benar, rasanya tidak enak saat dia melakukan dengan perasaan marah. Hanzel memeluk Lora dengan posisi merengkuh. Sungguh dia benar-benar sulit mengendalikan diri, dan sekarang dia menjadi sangat menyesal mendengar Lora mengatakan jika dia kesakitan.
" Maaf, aku sangat kecewa sampai sulit menahan diri untuk tidak marah. " Ujar Hanzel. Tak ingin berlarut dengan kesedihan mereka, Lora mengurai pelukannya, mencium bibir Hanzel dengan lembut seperti saat mereka akan memulai untuk melakukan hubungan suami istri.
" Em, Ah! " Lenguh Lora saat mereka melakukanya dengan perasaan tenang, begitu tenangnya hingga sampai puncak Hanzel lupa kalau tadi tidak memakai pelindung.
Bersambung.