
Setelah empat jam perjalanan termasuk juga dua kali istirahat, akhirnya Hanzel dan Lora sampai ke desa. Tidak banyak yang berubah karena belum ada sepuluh hari mereka meninggalkan desa, tapi udara sejuk disana memang sangat segar sih dibanding udara di kota jadi membuat pikiran jadi fresh. Memang benar tersimpan banyak sekali luka yang ada pada diri Lora, tapi entah mengapa dia merasa aman saat berada di dekat Hanzel saat berada di desa itu, dan juga meski dia juga sadar Hanzel mencintai wanita lain.
Sebentar Lora tersenyum memandangi Hanzel yang kini tengah memindahkan barang bawaannya karena mereka akan menginap disana malam ini, baru siang harinya mereka akan kembali ke kota, itupun kalau pengecekan sudah selesai.
" Kau istirahat saja dulu, aku akan langsung ke kebun teh. " Ucap Hanzel setelah meletakkan barang di kamar yang akan di tempatkan mereka berdua. Kali ini Ita tidak ikut karena diminta Hanzel untuk membantu menjaga Ibunya yang sedang tidak enak badan, toh mereka juga tidak akan lama, jadi tidak terlalu memerlukan Ita.
" Aku langsung saja ambil ijazah ku, aku juga tidak lelah kok, kan bukan aku yang mengemudi. "
Hanzel terdiam sebentar, tak bicara, dia berjala kembali masuk ke dalam kamar, lalu berjalan ke arah Lora, mendekat seolah ingin memeluk tapi sama sekali tidak menyentuh Lora.
" Mau di antar tidak? "
Lora mengangguk dengan cepat.
" Iya, sampai gang depan saja, soalnya kalau masuk ke halaman rumah tidak bisa, jalanya hanya setapak, ditambah kanan kirinya banyak pohon dan rumput. "
" Iya, aku tunggu disana nanti. "
" Iya. "
Tak menunggu lama, Hanzel dan Lora segera masuk kedalam mobil untuk menuju kesana. Seperti yang dikatakan Hanzel, pria itu menunggu di jalan yang sudah dipasangi batu Kolar karena memang seperti itu lah jalanan desa yang masih belum di aspal.
Hanzel terus memandangi punggung Lora yang semakin menjauh menuju salah satu rumah hingga tak terlihat lagi. Segera Hanzel memasang headset dan duduk dengan tenang.
Lora menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Di dalam hatinya berdoa semoga bukan Ayah angkatnya yang ada di dalam sana sehingga dia bisa dengan tenang dan sesegera mungkin meninggalkan rumah yang sudah memberinya segudang luka teramat dalam.
Dengan perasaan takut dan was-was, Lora mengetuk pintu beberapa kali hingga terbukalah pintu itu.
Deg!
Lora hanya bisa menatap dengan tatapan takut, juga merasa sangat ingin lari, tapi ijazah yang ia sangat butuhkan memang ada di kandang macan itu, jadi mau tidak mau dia hanya bisa menghadapi pria yang paling ia takuti di hidupnya, siapa lagi kalau bukan Ayah angkatnya.
Pria itu tersenyum dengan maksud menjijikan yang pasti sudah bisa ditebak apa yang dia inginkan. Tapi lagi-lagi Lora yang sekarang sudah sangat nekad dan tidak mau lagi tertindas jadi dia memang harus bisa menghadapi pria menjijikan itu.
" Ayah, aku ingin megambil ijazahku. " Ucap Lora tapi matanya tak menatap lagi Ayah angkatnya.
" Oh, ambil saja sendiri. Aku tidak tahu dimana letaknya. " Ucap Pria itu dengan mimik wajah yang tak berubah, justru malah semakin menjijikan bagi Lora.
Tak mau lagi dirundung rasa takut, segera Lora melangkahkan kaki melewati Ayah angkatnya dan masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati bersama dengan anak kedua dari orang tua angkatnya. Tidak tahu kemana Ibu dan anak itu, tapi kemungkinan sih mereka sedang berjualan, atau sedang membantu tetangga memanen kentang, ubi, atau hasil panen lainnya untuk dijual ke kota.
" Kau benar-benar sangat cantik setelah lebih satu Minggu menikah dengan pria tua bangka itu ya? " Ucapnya tiba-tiba dan membuat Lora kaget. Padahal dia ingat benar sudah ia kunci, bagaimana bisa pintu kamarnya terbuka?
Lora tak menjawab, tapi dia sudah bersiap dengan sebuah pena ditangannya, lalu dia bangkit dari posisinya karena sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan.
" Ayah, tolong minggir lah. Aku buru-buru. " ucap Lora sebisa mungkin tidak ingin melukai karena melukai orang juga bisa dipenjara, batinnya.
" Minggir? Kau seharusnya berbakti, itulah kenapa kau harus menemaniku bermain sebentar. Aku janji akan melakukannya dengan lembut, tidak akan seperti dulu. "
" Diam! " Lora melotot marah, sakit! Sungguh rasanya sakit sekali, bukan hanya hatinya saja, tapi tubuh Lora seolah merasakan lagi rasa sakit yang dulu ia rasakan di usia enam belas tahun.
" Heh! Berani-beraninya membentak! Aku sudah membantu membesarkan mu! Jadi kau harus membalas budi! "
" Ayah macam apa yang menginginkan tubuh seorang anak untuk balas budi? "
" Kau bukan anakku, makanya aku minta kau balas Budi, di dunia ini tidak ada yang gratis asal kau tahu! "
Lora menitihkan air mata, tapi segera dia menyeka dan menatap tegas pria bajingan yang telah menghancurkan dirinya dua tahun lalu itu.
" Aku tidak minta di besarkan olehmu, kalian lah yang datang padaku, aku sekolah tidak pernah kalian bayar karena aku gratis dengan beasiswa. Bahkan kalian sudah menjual ku, apa masih ingin menuntut balas Budi dari seorang gadis yang tidak memiliki apapun, bahkan harga diri juga aku tidak punya! " Lora semakin menatap Ayah angkatnya dengan tajam, tapi sayangnya pria itu malah tak terlihat takut dan semakin mendekat kepada Lora.
" Jangan sok suci kau Lora. Kau pasti sudah melayani tua bangka itu berkali-kali kan? Sementara kau hanya melakukannya denganku sekali, itu juga aku paksa, jadi anggap saja aku sebagai si tua bangka itu, kau percaya saja padaku kalau aku lebih bisa memuaskan mu di banding dia. "
Lora semakin tak tahan dan lada akhirnya dia menghadang Ayah tirinya dengan pena yang sedari tadi ia pegang.
" Minggir! Atau kalau tidak, aku akan menusuk mu dengan pena ini! ''
Bukanya takut, Ayah angkat Lora malah semakin mendekat padanya, mencengkram tangan Kita dengan kuat sebelum Lora berhasil menggerakkan pena itu.
" Ini bukan salahku, kau sendiri yang tidak mau menggunakan cara lembut, jadi aku akan menggunakan caraku sendiri. "
" Lepas! " Lora mendorong tubuh Ayah angkatnya, tapi sayang Lora malah semakin terpojok karena disana hanya ada meja kosong saja tak ada apapun yang bisa ia gunakan untuk dia membela diri.
" Ayo sayang, kita bermain sampai puas. "
" Jangan! " Lora menendang bagian inti pria itu, sempat dia mengaduh, tapi tendangan Lora tak cukup membuatnya lumpuh. Pria itu justru kesal dan mendorong tubuh Lora hingga jatuh terduduk dengan pelipis terbentuk meja.
Brak!
Hanzel menendang pintu kamar dengan satu kakinya, lalu menatap dengan marah saat melihat Lora terduduk di lantai dengan pelipis berdarah, bajunya juga agak terbuka di bagian depan.
" Siapa kau! Berani-beraninya masuk rumah orang sembarangan, merusak pintu juga! "
" Aku, pria tua bangka yang kau bicarakan tadi."
Bersambung.